Sunday, April 19, 2015

SUATU HARI DI PEMAKAMAN

Suatu ketika, saya menghadiri pemakaman seorang dosen, Bp. FX. Supriyono Raharjo atau akrab disapa Pak Pri. Beliau meninggal di usia menjelang pensiun. Saat-saat kritis terjadi di kantornya, sebelum akhirnya meninggal dunia di perjalanan menuju RS Brayat Minulyo.
Saya mengenal beliau sejak kuliah, yang selalu memberi atmosfer yang menyenangkan, mendidik, dan menyemangati saat perkuliahan berlangsung. Hal itu tidak saya rasakan saat kuliah saja, saat saya lulus dan bekerja pun beliau tetap selalu menyemangati para teman untuk terus berkembang dan berinovasi. Di akhir-akhir waktu hidupnya, beliau banyak bergaul dengan saya dan beberapa rekan dalam upaya pembuatan kerangka acuan pendampingan mahasiswa. Bagi saya, beliau telah berhasil menginspirasi beberapa teman sejawat, dan saya merasa sangat berkabung dan kehilangan beliau.
Nah, saya akan membagi perasaan yang muncul ketika menghadiri pemakaman beliau. Pak Pri meninggal bersamaan dengan saat-saat dimana saya menggali lebih dalam lagi kesadaran akan hidup, sehingga prosesi pemakaman beliau pun masuk di kedalaman prosesi refleksi saya. Semua saya perhatikan, mulai dari keluarga duka, para pelayat civitas akademika, alumni, maupun para pelayat yang lain. Mereka tampak kehilangan, sama seperti yang saya rasakan. Homili dalam misa requiem dilambungkan, dan menggambarkan suatu keindahan hidup almarhum. Sambutan-sambutan yang diberikan oleh para tokoh masyarakat mencerminkan kebaikan pribadi almarhum. Pak Pri adalah seorang aktivis dialog lintas agama di kota Solo.
Di kedalaman saya memperhatikan situasi, bergema pertanyaan di hati saya : “Bagaimana situasi yang terjadi jika mayat yang berada di dalam peti jenasah itu adalah mayatku? Kira-kira siapa saja pelayat yang akan hadir? Apa yang akan dikatakan oleh Romo dalam homilinya? Apa yang akan disampaikan dalam sambutan-sambutan?” Lalu, saya menengok di sebelah kiri depan, pada sebuah pohon pepaya yang kurang terawat. Saya memperhatikannya mulai dari pucuk teratas hingga pangkal terbawah. Daunnya ‘mung sak jemprit nggo lalapan we kurang’, tapi memberi pelajaran pada saya bahwa toh pohon pepaya ini pun diberi kesempatan untuk hidup, atau setidaknya pernah hidup.
Imajinasi saya berkembang, berandai jika roh Pak Pri saat itu hadir, lalu rohnya balik melihat dan menyaksikan para pelayat, termasuk saya. Kira-kira, apa ya yang dirasakan Pak Pri? Mungkinkah Pak Pri merasa bangga padaku? Mungkinkah Pak Pri bisa merasa puas karena telah menyelesaikan tugasnya hidup di dunia, memberikan makna dan dapat diselesaikan dengan gemilang? Entahlah... Dan lagi-lagi... saya berandai-andai jika saya berada di dimensi alam dimana Pak Pri berada...

Bahkan saat embahku sendiri meninggal dulu, saya tidak pernah berpikir dan merasa seperti ini, tetapi sejak hari pemakaman Pak Pri hingga hari ini, saya selalu berpikir dan merasa demikian ketika melayat. Hal ini mengingatkan saya bahwa selagi saya masih hidup, saya diberi kesempatan untuk melakukan hal-hal yang bermakna bagi alam semesta termasuk di dalamnya adalah manusia. Lalu, bagaimana caranya, dan apa takarannya bahwa hal itu sudah cukup? Sulit untuk dijawab, sebab hal ini selalu berkembang seiring dengan perkembangan mental, emosional, spiritual, fisik, yang ada pada diri saya. Tapi setidaknya ada yang selalu dilakukan dan diusahakan.

Mendampingi orang muda saya pahami sebagai sebuah langkah strategis. Bukan hanya untuk mahasiswa, tetapi juga para siswa SMA dan Mudika di Soloraya, dan saya lakukan dengan tidak menuntut upah. Di lingkup pekerjaan, saya mengambil peran seperti pepatah Jawa, ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani...

No comments:

Post a Comment

Tanggap wacana :