Thursday, May 19, 2011

TEKUN, TEKEN, TEKAN....

Tekun mempunyai pengertian, mengerjakan sesuatu dengan rajin, ulet, dan tidak mudah putus asa atau putus di tengah jalan. Orang yang tekun tidak goyah oleh godaan dan kritikan orang lain yang tidak mendukungnya. Ketekunan terhadap suatu pekerjaan membuat orang bahagia dalam bekerja. Orang lain yang memperhatikan pun akan ikut senang. Dari sini, lama – kelamaan mengundang rasa hormat. Bila perlu banyak orang yang sanggup membiayai pekerjaan yang ditekuni itu. Kepercayaan pada profesi seseorang dapat diperoleh dengan jalan tekun. Tak jarang orang yang tekun akan lebih sukses dibanding dengan orang cerdas tapi malas.
Teken, secara harafiah bermakna tongkat yang digunakan sebagai penegak orang ketika berjalan. Biasanya, teken dipakai oleh orang yang sudah lanjut usia. Dalam konteks piwulang dan pasemon atau ajaran moral simbolik, kata teken berarti pedoman, petunjuk, dan tuntunan hidup. Dapat juga berarti sebagi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Orang yang mendapat teken adalah orang yang mendapat alat demi mencapai cita-cita hidupnya.
Agar mendapat teken, seseorang harus tekun. Dengan begitu, teken berarti buah dari ketekunan. Bagaimanapun juga, ketekunan yang telah melekat pada diri seseorang lama-kelamaan akan diakui oleh khalayak. Teken atau ‘fasilitas’ itu akan didukung oleh publik.
Tekan berarti kesampaian. Teken, tekun, dan tekan merupakan deretan kata berjenjang. Barang siapa mau tekun, maka ia akan mendapat teken, dan ia akan segera tekan atau kesampaian pada apa yang menjadi harapannya. Proses panjang yang harus dilalui agar seseorang sampai pada tekan, kadang diiringi oleh duri, derita, duka, dan nestapa. Dari laku tekun saja, membutuhkan waktu yang tidak pendek. Mendapat teken, bukan berarti halangan dan cobaan telah usai. Teken yang didapat itu harus digunakan dengan sebaik-baiknya agar sampai, tanpa meleset. Setelah proses demi proses dijalani, barulah tekan atau berhasil….