Friday, May 20, 2011

PSIKOBUDAYA ANAK-ANAK JAWA

Menarik jika kita mau memperhatikan perkembangan anak-anak kita, terlebih perkembangan mental mereka. Kita dapat melihat luasnya dunia di sekitar kita hanya dengan bercermin dari anak kita. Seorang anak dapat dengan mudah menyerap informasi yang mereka peroleh dari lingkungan sekitar. Jika kita mau berrefleksi, melihat diri kita sendiri, ya… lihatlah anak kita… dan, kita mungkin akan terkejut atau tertawa lucu… ha… ha…
Stimulasi dari luar diri anak, lazimnya paling kuat mempengaruhi kondisi jiwanya. Pada masyarakat Jawa primitif / pedalaman, belajar budaya dilakukan secara lisan / oral, yang disemaikan lewat permainan tradisional. Hal ini justru mudah dikuasai oleh anak-anak Jawa. Barangkali kita masih ingat dan pernah melakukannya saat kita kecil ; seperti dolanan jamuran, ilir-ilir, gobag sodor, engklek, benthik, dan sebagainya. Konteks tradisi yang mewarnai kehidupan anak Jawa dalam permainan adalah penggunaan hompimpah ataupun pingsut. Keduanya merupakan sarana untuk mengundi siapa yang harus melakukan terlebih dahulu dalam sebuah permainan. Hompimpah dan pingsut adalah semaian aspek demokratis pada diri anak Jawa. Biarpun di antara mereka ada yang merasa paling kuat, tetapi ia tak selalu terlebih dahulu melakukan permainan. Semua ditentukan dengan sistem “undian”.
Anak-anak juga belajar plorotan, penekan, dhelikan, gacaran, dan sebagainya. Seluruh aktivitas yang bernuansa permainan tersebut pada dasarnya akan memperkuat kognisi, konasi, afeksi, dan psikomotornya. Perkembangan kognisi selalu disertai konasi dan afeksi, yakni upaya ingin tahu dalam berbagai hal. Rasa ingin tahu itu sedikit demi sedikit merambat ke berbagai hal yang sifatnya wadi (rahasia). Dalam kaitannya dengan hal ini, anak-anak Jawa sering dibenturkan pada konsep ‘ora ilok’, yang melarang mereka bersikap dan berbuat. Dengan demikian, anak akan tahu mana yang baik dan yang benar.
Yang tak kalah menarik dalam perkembangan anak-anak Jawa adalah penguasaan bahasa-bahasa kasar. Bahasa-bahasa pisuhan dan jorok biasanya lebih mudah merasuk dalam ingatan mereka. Misalnya saja as*, asem, baji**an, entut berut, dan sebagainya. Uniknya, meskipun mereka mengenal kata-kata kasar, namun tetap konstektual penggunaannya. Tentunya, peran orang tua untuk mendudukkan persoalan dengan trep (tepat) sangat diharapkan.
Fantasi anak juga berkembang melalui dongeng-dongeng lokal. Dongeng yang dilantunkan orang tua menjelang tidur akan merangsang jiwa anak untuk bertumbuh. Dongeng Kancil Nyolong Timun, Kancil Karo Baya, Kancil Karo Keyong, rupanya tetap menjadi idola anak-anak Jawa. Melalui dongeng tersebut, kejiwaan anak-anak semakin terpupuk dan terbangun untuk “menjadi”.
Marilah kita sebagai orang tua, atau orang yang dituakan oleh generasi penerus kita, senantiasa menjaga solah bawa, dan laku celathu kita. Sebab, generasi penerus sedang meng-copy kita dalam proses formasi jiwa mereka…