Friday, May 20, 2011

Memaknai kata "LEBAY"...

Akhir-akhir ini, saya sering mendengar kata “LEBAY”. Entah dari mana dan sejak kapan kata ini muncul, yang jelas kata ini sering dipakai oleh orang-orang muda. Belakangan, orang-orang tua pun ikut-ikutan memakainya. Selidik punya selidik, kata lebay digunakan untuk menyindir orang yang bersikap berlebihan. Kemudian saya mencoba melihat relitas hidup sehari-hari, memahaminya dengan lebih membumi… Mencari contoh soal implementasi kata ‘lebay’. Dan... Ooops...! Ternyata kadang-kadang kita ini lebay bener ! Sebagai contoh misalnya dalam kehidupan bekerja. Kita telah dengan lebay-nya mempertahankan isi otak kita, hingga kadang tidak ada yang wani ngalah…, padahal dengan wani ngalah akan menetralisir ke-lebay-an kita.
Wani ngalah berbeda dengan kalah. Wani ngalah berusaha menyenangkan pihak lain. Orang yang suka mengalah biasanya selalu menjaga perasaan orang lain agar tidak tersinggung. Pribadi yang baik adalah pribadi yang tidak malu untuk wani ngalah (berani mengalah).
Prinsip orang yang wani ngalah adalah : “menang ora kondhang, kalah wirang”. Bahkan orang Jawa memahami bahwa orang yang padudon (bertengkar mulut) itu ibarat perang. Dalam perang, berlaku prinsip “sing menang dadi pindhang, sing kalah dadi rempah”. Kedua-duanya pasti merugi, tak ada untung.
Untuk bisa wani ngalah, seseorang harus bisa menyingkirkan egoismenya. Bagi yang terlampau peduli pada gengsi (bahasa populernya : jaim alias jaga image), sikap wani ngalah tentu saja sangat berat untuk dilakukan. Demi harga dirinya, lebih baik kalah wang daripada kalah wong, lalu berusaha tampil garang, walaupun sebenarnya garing. Maka muncul kelakar dalam bahasa Jawa gaul, “halah... lebay…! biasa wae lah, ora usah digawe-gawe… ha... ha...”.