Saturday, May 21, 2011

MANUNGGALING KAWULA – GUSTI

Konsep manunggaling kawula – Gusti memberikan pengertian pada beberapa hal menyangkut asal dan tujuan hidup. Manusia harus tahu asal dan tujuan hidupnya. Dalam hal ini, manusia harus bertanya / mencari tahu asal dan tujuan hidupnya. Tujuan hidup manusia tersirat dalam wejangan Dewa Ruci kepada Bima sebagai berikut :

Aywa lunga yen tan wruha,
ingkang pinaran ing purug,
lawan sira aywa nadhah,
yen tan wruha rasanipun,
ywa nganggo-anggo siroku,
yen tan wruh ranning busana,
weruhe atakon tuhu,
bisane tetiron nyata.

Kutipan ini menggambarkan bahwa manusia dilarang hidup jika tidak tahu tujuan hidupnya atau sangkan paraning dumadi. Tujuan hidup dalam kaitan ini adalah “bersatu” (manunggal) dengan Tuhan. Falsafah manunggaling kawula-Gusti juga memberikan pengertian kepada manusia tentang alam semesta. Alam semesta itu sebenarnya harus terangkum dalam hati dan pikiran manusia. Alam semesta merupakan jagad gedhe (dunia besar - kehidupan alam semesta) dan kehidupan manusia ada dalam jagad cilik (dunia kecil – pikiran dan hati manusia). Hal ini tampak secara simbolik ketika Bima harus masuk dalam tubuh Dewa Ruci yang kecil. Dewa Ruci mengatakan sebagai berikut :

Kaki gedhe endi sira,
lan jagad saisinipun,
tan sesak lamun lumebu,
marang ing jro garbaningwang.

Sebelum mencapai tataran manunggaling kawula-Gusti, dan ketika manusia mulai menyadari keberadaannya, ia akan menemukan keterbatasannya sebagai manusia, sehingga menjadi bingung. Hal itu tampak secara simbolis pada saat awal setelah Bima memasuki perut Dewa Ruci. Bima mendapat keadaan awang-uwung, seperti berikut :

Heh, apa katon ing sira,
umatur tebih kalangkung,
datan wonten ing kadulu,
uwung – uwung awang – awang,
ing saparan-paran ulun,
datan mulat kilen wetan,
kidul elor ngandhap luhur,
ing pungkur tanafi ngarsa,
dasihe kalangkung bingung.
Dalam sastra cetha dijelaskan bahwa agar manusia dapat menerima anugerah Tuhan, harus menguasai perihal ilmu gaib. Ilmu gaib itu diterangkan dengan istilah penguasaan : (1) Panca Purwanda, yaitu lima hal yang terkait dengan watak manusia berupa watak matahari, bumi, angin, laut, dan langit, yang menjadi anasir manusia, (2) Panca Dumadya, yaitu babaring tigan, lepasing sastra langit, tumenggung punglu, lepasing pedang, rembesing warih, yang berbentuk panca indera, (3) Panca Pranata, yaitu mandheg, angker, sumumu, sumulap, dan mamarap, pertanda jika manusia diterima oleh Tuhan. Hal yang tersirat adalah, bahwa agar manusia dapat bersatu dengan Tuhan, ia harus tahu asal-usulnya. Falsafah jumbuhing kawula-Gusti akan tercapai jika berbekalkan ngelmu rasa. Ilmu rasa memuat tiga kerelaan yang harus dimiliki oleh seseorang, yaitu : rela terhadap takdir suci, rela terhadap doa dalam hening, rela terhadap anasir. Maksudnya dalam hidup seseorang hendaknya ikhlas terhadap takdir dari awal sampai akhir dalam permohonannya. Dalam doa, hendaknya betul-betul hening agar hatinya menyatu dengan Tuhan atau jumbuhing kawula-Gusti. Sedangkan rela terhadap anasir adalah percaya pada asal-usul kehidupan.
Di samping itu, untuk mencapai manunggaling kawula-Gusti, hendaknya manusia menguasai tiga nafsu, yakni hitam – aluamah - keserakahan, merah – amarah - kemarahan, dan kuning – supiyah - keindahan. Jika ketiga nafsu ini terkendalikan, ia akan mendapatkan nafsu putih – mutmainah - kesucian, dan akan sampai pada pamore kawula-Gusti. Persekutuan kawula-Gusti juga dapat dilakukan dengan bermatiraga.
Manusia dapat bersatu dengan Tuhan karena asal dan hakikat manusia sama dengan Tuhan. Setelah manusia dapat bersatu dengan Tuhan ia menjadi sama dengan Tuhan. Hakikat Tuhan adalah dzat, sipat, asma dan apengal, sedangkan manusia itu wujud, ngelmu, nur dan suhud – pada kenyataannya menyatu (amor) tiada berbeda.
Seperti halnya filsafat curiga manjing warangka, warangka manjing curiga, bukanlah persatuan manusia dengan Tuhan sehingga manusia sama dengan Tuhan, tetapi sebuah perumpamaan atas jiwa dan raga. Perlu saya sampaikan agar tidak mengundang kontroversi, bahwa pemahaman mengenai manunggaling kawula-Gusti hanya dapat benar-benar sampai dan mendalam, jika kita melakukan dan merasakannya sendiri, dan tidak hanya sekedar membaca artikel saja. Monggo…