Monday, November 1, 2010

ORANG JAWA MEMANDANG ALAM SEMESTA


Falsafah hidup yang terkait dengan alam semesta ini, memberikan gambaran tentang proses terjadinya dunia ini. Diiliustrasikan, bahwa sebelum ada dunia, keadaannya belum ada apa-apa, yang ada hanyalah Allah, tiada sesuatu yang tampak, belum ada akal budi, yang ada eneng-ening. Berikutnya Allah menciptakan (1) cahaya, (2) Api, (3) Bumi, (4) Air, (5) Laut. Sebelum ada cahaya telah ada suara terlebih dahulu, yaitu suara gaib (tak berwujud). Selanjutnya Allah menciptakan nur/cahaya/rukhyati/cahaya hidup. Cahaya hidup ini yang menciptakan anasir manusia berupa api, tanah, angin dan air. Api itu menjadi nafsu yang menyebabkan cahaya merah, hitam, kuning, putih. Tanah menjadi badan, yaitu kulit, daging, tulang, sungsum. Angin menjadi nafas yang bertempat di hidung, telinga dan mata. Air menjadi roh, yaitu roh jasmani, hewani, nabati dan nurani.
Ilustrasi itu menunjukkan agar manusia bisa memahami alam semesta. Alam semesta adalah ciptaan Allah. Alam semesta diciptakan terkait dengan hidup manusia, terutama dengan unsur-unsur kehidupan. Agar hidup manusia selamat, ia harus memahami alam semesta sebagai simbol kekuasaan Allah. Alam hidup manusia, oleh Allah diberikan arah/kiblat agar orang Jawa tak salah arah. Arah tersebut dinamakan keblat papat lima pancer, artinya empat penjuru, dan yang kelima di tengah. Kiblat alam semesta diawali dari timur (wetan atau witan), artinya kawitan (permulaan). Arah timur adalah kiblat, sebagai lambang saudara manusia yang disebut kawah. Selanjutnya menyusul selatan (lambang darah), barat (lambang pusar), dan utara (lambang adhi ari-ari).
Arah kiblat tersebut dalam hidup orang Jawa senantiasa disatukan atau diseimbangkan. Jika tidak, di antara saudara manusia akan mengganggu hidupnya. Sebaliknya, kalau tercapai kesimbangan dalam berteman dengan keempat saudara tadi, keempatnya mau membantu (ngewang-ewangi) pancer. Untuk itu, orang Jawa juga melakukan sesaji khusus bagi kiblat tersebut. Sesaji cukup dengan tiga hal (ubarampe) yaitu : (1) nasi yang disebut berbentuk kerucut yang disebut tumpeng lima buah, diletakkan pada tambir dalam posisi empat dan satu di tengah. Tumpeng yang di tengah dibuat paling tinggi atau besar sebagai pancer; (2) bunga setaman lima macam, yaitu mawar merah, melati putih, kenanga hijau, kantil putih, dan kantil kuning. Bunga ini juga simbol empat saudara dan pancer; (3) pelita dengan minyak kelapa sebagai lambang hidup.
Dalam Serat Paramayoga diterakan juga tentang kiblat melalui dialog antara Ismaya dan Manikmaya. Ismaya memandang kiblat orang Jawa ada 10 arah, yaitu : purwa (timur), byabya (tenggara), raksira/duksina (selatan), nurwitri (barat daya), pracima (barat), kaneya (barat laut), utara (utara), narasunya (timur laut), gegana (ke atas), dan pratala (ke bawah). Alam atas bawah ini dalam kosmologi Jawa disebut Bapa Angkasa (atas) dan Ibu Pertiwi (bawah). Keduanya akan selalu dihormati oleh orang Jawa, karena melalui mereka pula rahmat Allah akan diturunkan. Ismaya, ketika beribadah juga menghadap ke sepuluh kiblat tersebut. Berbeda dengan Manikmaya, yang hanya menaati sembilan kiblat, yaitu : purwa, nurwitri, utara, narasunya, pracima, byaba, duksina dan kaneya. Yang kesembilan ke arah madya (pancer) yaitu dirinya sendiri. Dia tidak menghadap kiblat ke atas dan ke bawah. Hal ini juga menyebabkan Manikmaya memiliki keturunan sembilan.
Kiblat madya itu berhubungan dengan manusia. Alam hidup manusia adalah alam madya (tengah). Sedangkan alam ketika orang Jawa belum ada dinamakan purwa (asal-usul), dan ketika mati akan sampai alam akhir (wusana). Keyakinan ini sering diwujudkan dalam sesajian selamatan berupa jajan pasar. Pada jajan pasar terdapat aneka makanan, berupa buah-buahan dan paling utama adalah pisang. Pisang juga disebut sanggan (sangga buwana). Pisang adalah gambaran dunia. Pisang yang digunakan sebagai sesaji disebut setangkep (dua lirang), yaitu lambang bumi langit seisinya.

No comments:

Post a Comment

Tanggap wacana :