Saturday, November 20, 2010

Ngelmu Rasa


Ngelmu rasa (ilmu rasa) Jawa yang tertinggi dan terbesar adalah ilmu tentang Ketuhanan. Ilmu rasa ini merupakan pencarian terus-menerus terhadap kegaiban Tuhan. Jika orang Jawa mampu menemukan Tuhan seakan dirinya sedang mencapai pencerahan batin. Hal ini dinyatakan oleh Jayengwesthi dengan menyitir perkataan para ahli wirid sebagai berikut :
Ujaring wong ahli wirid,
gegedhening raseki,
tan kaya rasane ngelmu,
tokite mangkonoa,
 mutung-mutung marang ngelmi,
amal tama mrih metu mangunahira
(Serat Centhini, V 350, 153 d-i)
Dari tembang tersebut tampak bahwa ilmu Ketuhanan merupakan keindahan tertinggi. Penemuan ilmu ini akan menyebabkan manusia lebih tenang hidupnya. Manusia akan mendapatkan mangunah (keistimewaan) tertentu setelah menguasai ilmu Ketuhanan. Karenanya, ilmu ini diyakini oleh orang Jawa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang dikenal dengan “ngelmu kasampurnan”.
Ilmu kesempurnaan itu juga disebut ilmu kasepuhan (ilmu tua). Ilmu kasepuhan juga disebut bengat. Orang Jawa yang menempuh laku batin harus menguasai ilmu ini secara lancar dan hafal. Dengan cara mengulang-ulang (anetah) pada empat hal yakni syari’at, tarekat, hakikat, makrifat. Hal itu diajarkan oleh Syeh Amongraga kepada Tambangraras sebagai berikut :
Lah kawruhana den ira,
mungguh lakune kang bengat,
kudu pinrih lobok lanyah,
lanyahe kudu anetah,
saking patang prakaranya,
sarengat ing wiridira,
lawan tarekating wirid,
miwah kakekating wirid,
tuwin makripat wiridan.
(Serat Centhini, VII: 368, 25-26a)
Ilmu rasa juga berkaitan dengan bagaimana mendapatkan ilmu. Penerima ilmu harus berupaya agar menjaga dan mengembangkannya. Dengan kata lain, ajaran yang baik itu akan menghasilkan kebaikan bila orangnya baik/bijaksana. Konsep demikian merupakan filsafat ilmu Jawa yang fundamental.
Hal itu dinyatakan dalam bentuk perumpamaan biji kacang. Biar biji kacang itu baik, bila ditanam pada batu tanpa tanah maka akan menjadi kering / tidak hidup, seperti kutipan berikut :
Wuruk iku kang menangka wiji,
kang winuruk umpamane papan,
pama kacang lan kedhele,
Sinebarna ing watu,
yen watune datanpa siti,
kodanan kepanasen,
pasthi nora thukul,
lamun sira wicaksana,
tingalira sirnakna ngaranireki,
dadi tingaling suksma.
(Serat Centhini IV: 280, 28h. 105)
Dari kutipan di atas terkandung pesan tentang sikap hidup Jawa bahwa mencari / menuntut ilmu harus berbekalkan tekad yang mantab. Filsafat demikian disebutkan “golek geni adedamar” atau “golek banyu apikulan warih”. Ilmu rasa hanya bisa dicapai dengan cara : eneng (diam), ening (menjernihkan pikiran), enung (merenungkan akan Tuhan), dan nir ing budi (mengosongkan pikiran). Orang demikian akan menemukan Tuhan dan akan menjadi manusia sempurna atau sejati.
Dalam kehidupan sekarang, ilmu rasa sering dilakukan dengan cara menyepi atau bertapa (mesu raga, cipta dan rasa).

2 comments:

Tanggap wacana :