Monday, November 1, 2010

FALSAFAH HIDUP MADYA

Falsafah hidup madya memang masih jarang dibicarakan. Falsafah ini belum banyak disorot, kendati telah lekat dan mewarnai kehidupan spiritual orang Jawa. Falsafah hidup madya sebenarnya berembriokan dari wawasan batin orang Jawa yang dimanifestasikan melalui solah bawa, muna-muni lan pratingkah. Maksudnya, melalui sikap dan perilaku yang penuh dengan semu dan sasmita. Oleh karena itu, pemahamannya pun perlu diantisipasi dengan dunia batin dan ilmu rasa. Konon, bisa diduga bahwa falsafah madya itu lahir dari etika moral orang Jawa yang tidak ingin di-wah / disanjung-sanjung. Mereka lebih suka hidup samadya, artinya hidup dalam ukuran cukup. Kondisi cukup adalah tidak kaya-tidak miskin, tak berlebihan tapi juga tak kurang sekali. Cukup, bukanlah pas-pasan.
Falsafah hidup madya yang luhur itu, tergambar melalui unen-unen yang dalam istilah folklor Jawa, sering dinamakan ungkapan tradisional. Unen-unen ini telah teruji oleh jaman, di dalamnya memuat beraneka ragam ajaran yang menghendaki agar kehidupan orang Jawa lebih selaras dan seimbang. Falsafah ini anti konflik.
Unen-unen filosofis itu pertama : ngono yo ngono ning ojo ngono. Unen-unen ini menunjukkan bahwa orang Jawa itu lebih suka bertindak wajar. Bersikap dan bertindak dengan menggunakan ukuran umum atau etika yang telah disepakati, bahkan etika yang dilandasi oleh perasaan (hati). Falsafah ini memberikan ajaran tentang etika humanistis dalam pergaulan. Mengarahkan hidup orang Jawa sampai pada kesadaran untuk menyesuaikan diri, empan papan, bisa angon mangsa, seje kulit seje anggit, seje uwong seje omong (setiap manusia mempunyai pemikiran dan pembicaraan yang berbeda).
Lebih jauh lagi, falsafah madya semacam ini akan mengarahkan hidup orang Jawa agar bertindak anoraga (merendahkan diri), aja adigang-adigung-adiguna, dan aja dumeh (mengunggulkan diri, merendahkan orang lain, menghina orang yang tidak punya). Aja mung golek wah (jangan gila pujian), sing prasaja (hiduplah sederhana), gong lumaku tinabuh (jika menjadi orang pandai, janganlah mengobral kepandaian). Aja golek menange dhewe (jangan mencari kemenangan sendiri), sementara orang lain harus dikalahkan dengan berbagai cara.
Unen-unen yang kedua, melok nanging ojo nyolok (tampak jelas, tapi jangan terlalu menyolok). Maksudnya, boleh saja perilaku selalu tampil beda, tapi jangan terlalu mencolok. Melok (tampak) adalah wajar, sedangkan nyolok (terlalu tampak), sudah berlebihan. Hal ini mengandung nilai positif, bahwa orang hidup dalam kewajaran atau kesederhanaan. Hidup tidak bersikap menonjolkan kelebihan kita, kelebihan dalam bidang kekayaan, bidang kepandaian, bidang wewenang dan kekuasaan.
Unen-unen yang ketiga, bener ning durung mesti pener (perkara yang dianggap benar, belum tentu cocok/pas bagi kebanyakan orang). Ini dimaksudkan bahwa dalam tindakan senantiasa diarahkan pada hal yang cocok, pas, cukup dan sesuai. Lebih ke arah pener / trep. Misalkan saja mengungkap kejelekan orang lain di depan umum. Kendati yang dibicarakan itu memang benar, tapi kurang tepat. Bisa jadi akan membuat orang lain menjadi sakit hati.
Unen-unen yang keempat, sing bisa prihatin sajroning bungah, sing bisa bungah sajroning prihatin. Maksudnya, bersikap tidak berlebihan, bisa mengekang hawa nafsu jika sedang hidup enak. Sebaliknya, jika sedang hidup kekurangan, jangan terlalu sedih. Falsafah hidup demikian melegitimasi bahwa orang Jawa bisa menjalankan ‘laku’ dalam hidup. Hidup tidak harus hura-hura, foya-foya, namun jika sedang kekurangan juga tidak menuduh keadilan Allah.
Unen-unen yang kelima, yen krasa enak uwisana, yen krasa ora enak terusana. Ungkapan ini mengandung ajaran agar dalam hidup bermasyarakat, orang senantiasa menahan diri, mengendalikan hawa nafsu. Ambisi boleh, tetapi jangan ambisius. Jabatan adalah sebuah amanat, jangan diminta. Kedudukan jangan disalahgunakan. Sebaliknya, jika tidak memiliki jabatan, tidak perlu kecil hati. Falsafah ini mengarahkan orang Jawa agar tidak bertindak aji mumpung, jangan memanfaatkan kesempatan. Seperti halnya orang yang sedang makan gula, lalu lupa dengan kemanisan.
Unen-unen yang keenam, aja bungah ing pangalem, aja susah ing panacad. Aja mongkog ing pambombong, aja kendho ing panyendhu. Artinya, jangan merasa bangga (sekali) jika dipuji, dan jangan susah (sekali) jika mendapat celaan. Ungkapan ini menghendaki agar orang Jawa bisa mawas diri, juga murba diri, bisa mempertimbangkan (bijaksana) dalam menghadapi pujian dan celaan orang lain. Wong seneng ora kurang pengalem, wong ora kurang panacad, menghendaki agar sikap dan perilaku perlu keseimbangan emosional.
Unen-unen yang ketujuh, tega larane ora tega patine. Maksudnya, tega melihat orang lain sakit, namun tidak akan membiarkan sampai meninggal. Ini mengandung nilai ke arah pengekangan diri demi keutuhan keluarga. Orang tua berhak memberikan hukuman jika anak membandel, namun juga sebatas kewajaran. Tidak mungkin orang tua akan tega membunuh dalam menghukum. Jika anak tadi ada bahaya, pasti akan dibela, sehingga ada ungkapan diculke sirahe digondheli buntute.

No comments:

Post a Comment

Tanggap wacana :