Monday, November 1, 2010

ASTABRATA


Referensi kepemimpinan orang Jawa terdapat dalam lakon wayang Wahyu Makutharama. Lakon ini menyuratkan kepemimpinan sosial yang terkenal dengan istilah ASTABRATA, yang berarti delapan prinsip, yakni :
Laku Hambeging Kisma
Maknanya, seorang pemimpin yang selalu berbelas kasih kepada siapa saja. Kisma artinya tanah. Tanah tidak mempedulikan siapa yang menginjaknya, semua dikasihani. Tanah selalu memperlihatkan jasanya. Walaupun dicangkul, dibajak, diinjak, akhirnya tetap memberikan kesuburan dan menumbuhkan tanaman. Filsafat tanah sama dengan air tuba dibalas dengan air susu. Keburukan dibalas dengan kebaikan dan keluhuran.
Laku Hambeging Tirta
Maknanya, seorang pemimpin harus adil seperti air yang selalu rata permukaannya. Keadilan yang ditegakkan bisa memberi kecerahan ibarat air yang membersihkan kotoran. Air tidak pernah emban oyot emban cindhe atau pilih kasih.
Laku Hambeging Dahana
Maknanya, seorang pemimpin harus tegas seperti api yang sedang membakar, namun prtimbangannya berdasarkan akal sehat yang bisa dipertanggungjawabkan sehingga tidak membawa kerusakan di muka bumi.
Laku Hambeging Samirana
Maknanya, seorang pemimpin harus berjiwa teliti di mana saja berada. Baik buruk rakyat harus diketahui dengan mata kepala sendiri, tanpa menggantungkan laporan dari bawahan saja.
Laku Hambeging Samodra
Maknanya, seorang pemimpin harus mempunyai sifat pemaaf sebagaimana samudera raya yang siap menampung apa saja yang hanyut dari daratan. Jiwa sudera mencerminkan pendukung pluralisme dalam hidup bermasyarakat yang berkarakter majemuk.
Laku Hambeging Surya
Maknanya, seorang pemimpin harus memberi inspirasi bagi bawahannya ibarat matahari yang selalu menyinari bumi dan memberi energi pada setiap makhluk.
Laku Hambeging Candra
Maknanya, seorang pemimpin harus memberi penerangan yang menyejukkan seperti bulan yang bersinar terang namun tidak panas. Bahkan terang bulan tampak indah sekali, orang Jawa menyebutnya Purnama Sidi
Laku Hambeging Kartika
Maknanya, seorang pemimpin harus tetap percaya diri meskipun dalam dirinya ada kekurangan. Ibarat bintang-bintang di angkasa walaupun ia sangat kecil tetapi dengan optimis memancarkan cahayanya, sebagai sumbangan untuk kehidupan.

Ajaran astabrata memberikan kesadaran kosmis bahwa dunia dengan segala isinya mengandung pelajaran bagi manusia yang mau merenung dan menelitinya. Norma kepemimpinan Jawa dikenal dengan ungkapan sabda pandhita ratu tan kena wola-wali. Maksudnya seorang pemimpin harus konsekuen untuk melaksanakan dan mewujudkan apa yang telah dikatakan. Berbudi bawa leksana, teguh berpegang janji.

1 comment:

Tanggap wacana :