Saturday, October 16, 2010

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Dhiyu



Dalam kitab Ramayana, alkisah ada seorang raja yang mengundurkan diri dan diserahkan pada anaknya. Raja tersebut yang menjadi Begawan Wisrawa, menyerahkan pada putranya Prabu Danareja di kerajaan Lokapala.
Di negeri yang lain, Alengka, diperintah oleh Prabu Sumali yang dibantu oleh adiknya Arya Jambumangli, dan puterinya yang sangat cantik sedang diperebutkan oleh para raja. Namanya Dewi Sukesih.
Setiap raja yang melamar Dewi Sukesih ini di bunuh (harus berhadapan dalam perang tanding) pamannya, Arya Jambumangli. Sehingga tak ada lagi raja-raja yang mampu mengalahkan pamanda Dewi Sukesih. Satu-satunya raja yang masih ada ialah putera Begawan Wisrawa, Prabu Danareja. Namun raja ini kalah kuat ilmunya, kalah kuat oleh pamanda Dewi Sukesih. Oleh karenanya Begawan Wisrawa turun dari pertapaan. ”Ada apakah anakku, dalam tapaku, aku melihat kegelapan. Mengapa negeri ini, yang kita cintai, dalam kesengsaraan? Air bening untuk hidup rakyat tidak lagi ramah. Seluruh air kembali lagi pada sumbernya di bawah samudera. Bunga-bunga layu sebelum berkembang, buah yang ada pun tak sempat masak. Diapakan negeri kita ini, wahai anakku?”

”Wahai ayahanda, seluruh kehidupanku dirampas oleh cinta Dewi Sukesih, dan aku tak mampu memikirkan bangsa ini, negeri ini. Yang kupikirkan adalah kecantikan Dewi Sukesih”, berkata Prabu Danareja.
”Wahai anakku, Sang Dewa marah padamu. Karena engkau telah mematikan kesuburan negara ini dengan asmara, wahai anakku, jangan jadikan asmara ke dalam pekerjaan yang besar. Karena asmara adalah dunia kecil yang mampu menghancurkan dunia yang besar”, kata Begawan Wisrawa.
”Wahai anakku, jangan engkau melihat kebenaran-kebenaran yang ada di muka bumi ini, melalui perasaan asmaramu. Keluhuran nilai akan ternoda, tak bermakna, manakala diteropong oleh perasaan asmaramu. Namun demikian, aku ayahmu pernah merasakan perasaan asmara. Biar aku yang melamarkan, menyunting Dewi Sukesih. Ayahnya adalah sahabatku. Cintaku untukmu wahai anakku, biarlah aku, ayahmu mewakili datang ke kerajaan Alengka.”
Sesampainya Begawan Wisrawa di kerajaan Alengka, kebahagiaan batin dari raja Alengka, Prabu Sumali, menyatu dalam pelukan mesra dengan sahabatnya.
”Wahai sahabatku Prabu Sumali, ada apakah? Kesenduan di matamu tak mampu engkau sembunyikan”, bertanya Begawan Wisrawa.
”Wahai sahabatku Begawan Wisrawa, gara-gara anakku, darah para raja harus mengalir di negeri yang kucintai ini, Alengka.”
”Karena itu aku datang untuk menyunting puterimu, untuk anakku.”
Maka dipanggillah Dewi Sukesih oleh ayahandanya, dan diceritakan akan disunting oleh seorang raja dari Lokapala.
”Wahai ayahku, aku mau dikiwini oleh seorang raja atau oleh orang miskin sekalipun. Asal mampu memedarkan, menerangkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.”
”Wahai puteri sahabatku, calon suamimu, anakku, takkan mampu. Dan siapapun takkan mampu menerangkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, kecuali aku. Harus kutebus makna ini dengan meninggalkan gemerlap kekayaan dan kekuasaan sebagai raja. Namun demikian, biarlah, untuk anakku dan untuk aku, akan aku pedar Sastra Jendra tersebut”, kata Begawan Wisrawa kepada putri Prabu Sumali sahabatnya.
Berkata Begawan Wisrawa pula pada sahabatnya, Prabu Sumali,
”Wahai sahabatku, akan aku bawa puterimu, siapkan tempat, sebuah taman sunyi yang hanya ada bunga Kenanga.”
Maka Begawan Wisrawa membawa Dewi Sukesih. Manakala masuk ke taman yang indah, Begawan Wisrawa memandang Dewi Sukesih dengan kecintaan seorang ayah pada anaknya.
”Kesinilah putriku.” Saat itu pula Dewi Sukesih merasa berdiri di bumi ini, dan dunia ini hanya ada di telapak kaki Dewi Sukesih dan Begawan Wisrawa, serta mampu menggapai bulan yang ada, tidak hanya satu, tapi tiga.
”Wahai Dewi Sukesih, engkau mampu menggenggam bulan. Keanggunan dan kemolekan bulan sejak dulu selalu menghina dan memperkecil makna duniawi. Namun dihadapanmu wahai putriku, sang bulan meronta. Cahayanya engkau ambil alih ke dalam jiwamu.”
Saat itu pula, Dewi Sukesih merasa retak hatinya. Sakit yang tiada sebab, seperti benci pada seseorang tapi tak ada orangnya. Resah oleh sesuatu tapi tak ada kesalahan, kesal akan sesuatu tapi tidak tahu sebabnya. Emosi bergemuruh dalam diri Dewi Sukesih!
”Wahai putriku, jangan engkau membiarkan gejolak emosimu menjadi tuan di dalam dirimu. Bulan yang angkuh tak berdaya, karena engkau ambil alih kemolekannya, dan energinya kembalikan pada bulan. Wahai puteriku, engkau tak mampu menerima kemolekan bulan, karena sang rembulan, cahayanya menjadikan bunga-bunga berkembang, menjadikan binatang-binatang memadu cinta, maka berkembanglah keturunan kelestarian alam ini oleh cahaya kekuatan rembulan. Jangan kau ambil alih kedalam jiwamu. Engkau adalah yang berdarah dan berdaging. Manakala kau menyimpan cahaya rembulan di dalam jiwamu, berarti engkau merampas hak hidup bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan. Itulah sebuah permulaan dari Sastra Jendra, wahai puteriku.”
Maka Dewi Sukesih dengan kekuatan bathinnya, mengusir luka didalam bathinnya, kesakitan dalam perasaannya. Bulan yang redup, terampas cahayanya oleh Dewi Sukesih, kembali bersinar terang.
”Wahai Puteriku”, berkata Begawan Wisrawa, ”Sastra Jendra adalah bukan kata-kata, Sastra Jendra bukan kalimat, Sastra Jendra adalah ’sesuatu’ yang mempunyai wadah, tapi ada di alam dunia ini. Ada di bumi ini, ada dalam cakrawala dan ada dimanapun. Tapi Sastra Jendra tak mampu tertampung karena wadahnya belum ada.”
Manakala Begawan Wisrawa mengakhiri kata-kata ini, mengangkasalah keduanya, ke suatu tempat yang sangat jauh. Sampailah ke suatu tempat yang sunyi, mencekam!
”Wahai Puteriku, jangan menjerit, karena disini tiada siapapun. Tiada orang yang bisa dipanggil, tiada apa-apa tempat berpijak. Tidak ada sesuatupun permasalahan.”
”Wahai puteriku, disini kita tidak memiliki dan disini kita tidak dimiliki. Dan engkaupun disini tidak lagi memiliki dirimu sendiri. Dirimu yang berdarah dan berdaging, dirimu yang berjiwa dan berperasaan, adalah ketiadaan.” Demikian sang Begawan bertutur.
”Kita dalam ketiadaan, rasakanlah anakku, manakala engkau kehilangan rasa memiliki, termasuk dirimu sendiri. Kita dalam kematian. Kematian adalah melepasnya rasa memiliki. Dibalik kematian justru ada kehidupan yang sejati. Kehidupan yang tidak dapat lagi dialas oleh definisi, kehidupan yang tidak mulai dari awal dan tidak berakhir dari satu batasan. Itulah Jatining Hurip.”
”Wahai anakku, kematian adalah sebenarnya sebuah proses kehidupan yang lebih luas dari proses kehidupan sebelumnya, kita berada dalam kehidupan yang sejati. Tenang dan tentram, karena merasa tidak dimiliki dan tidak memiliki”, demikian sang Begawan.
”Wahai Puteriku, manakala engkau merasa memiliki, engkau akan menggugat pada yang engkau miliki. Dan merasa engkau dimiliki, engkaupun akan digugat oleh mereka yang merasa memiliki dirimu. Kini kita merdeka, kemerdekaan bathin dan perasaan yang tiada batas.”
”Wahai Begawan, dimanakah dewa-dewa?”
”Di sini tidak ada dewa, wahai Puteriku. Dewa pun tiada, hanya kita. Manakala engkau ingat pada dewa, berarti kita masih ’merasa’ ingin memiliki. Dewa pun tidak ada, hanya kita berdua.”
Maka Dewi Sukesih merasa tenang dan tenteram. Ketenteraman yang sangat tinggi dan indah, kesejukan bathin yang tiada tara. Maka mereka masuk lebih jauh lagi.
”Mari kita masuk lebih jauh ke angkasa ketentraman.”
”Kita akan kemana? Bukankah kita sudah sampai ke alam ketenteraman, wahai Begawan”, tanya Dewi Sukesih”.
”Belum, diatas ketenteraman ada ketenangan, diatas ketenangan ada kemegahan kesejukan. Itu tidak terbatas, wahai Puteriku.”
”Dimanakah puncaknya, wahai Begawan?”
”Puncaknya, ada didalam cinta. Kita menuju cinta, wahai Dewi Sukesih.”
Maka sampailah ke suatu perbatasan. Alam cinta dimasuki.”
”Anakku, kita masuk ke Sastra Jendra. Tiada alam diciptakan oleh Illahi, kalau bukan karena cinta. Manusia dan hewan tidak mungkin ada tanpa cinta. Alam raya takkan tercipta tanpa cinta. Kita masuk, wahai anakku ke dalam cinta. Itulah Sastra Jendra.”
Masuklah mereka ke alam cinta. [Dalam Islam, masuk ke alam Ar-Rohman]. Masuklah Dewi Sukesih ke alam cinta. Maka jiwa bukan lagi terbatas oleh rasa tenteram, dibatasi oleh rasa tenang saja. Tetapi jiwanya tiada. Ketenteraman melampaui Kebahagiaan. Tiada lagi dikatakan bahagia, tiada lagi dikatakan nikmat, tiada lagi dikatakan enak. Diatas segalanya.
Maka gelombang cinta itu menyibakkan rambut Dewi Sukesih yang berkonde. Rambut terurai, bergelombang begitu indah terhempas cinta. Cinta, bisa dirasakan, tapi tak bisa dilihat. Cinta, bisa dinikmati tidak melalui kulit dan daging. Karena saat itu, Dewi Sukesih tidak lagi memiliki dirinya sendiri. Cinta yang sesungguhnya, bisa diraba oleh sesuatu, manakala manusia kehilangan eksis fisiknya, eksis fikirannya dan eksisnya. Maka di alam itu, mengalirlah sungai yang bening. Sungai tak bernama sebagaimana sungai Eufrat, sungai Nil ataupun sungai Ciliwung. Namun sungai itu bening, sungai mengalir membawa energi cinta, kasih sayang.
”Wahai Puteriku, lihatlah sungai. Waktu tidak lagi bergerak, tapi waktu bergerak dibawa oleh kita. Seperti sungai yang melepas air-airnya, dia tetap diam. Waktu harus kita gerakkan, bukan kita yang digerakkan oleh waktu, wahai anakku. Walaupun sungai itu diam, tapi selalu baru. Kehidupan, wahai anakku, harus tetap baru. Usia menguasai kita, tapi kita akan tetap baru, jiwa kita dan perasaan kita. Kita tidak boleh harus tua oleh waktu, kita harus tetap muda, walau kita dirongrong oleh waktu. Kekuatan cinta tidak lagi termakan oleh usia. Tua dan muda, gagal menggoyangkan kemurnian cinta itu sendiri.” Demikian Begawan berkata pada Dewi Sukesih.
”Namun demikian sungai menurun, tidak pernah menanjak, wahai anakku. Lihatlah kehidupan. Kita jangan cari yang menanjak. Kita harus seperti sungai yang mengalir tanpa beban. Berbelok-belok dihimpit oleh gunung. Biasa, kehidupan harus terhimpit namun sekecil apapun himpitan gunung, sungai tetap mengalir, walaupun melalui celah-celah yang sempit.” lman tetap mengalir walau himpitan persoalan hidup seperti gunung yang menggencet.
”Wahai puteriku, jangan kalah, ngalirlah tetap. Kehidupan tetap mengalir.” Maka masuklah ke alam yang baru, lebih tinggi lagi. Di sana mereka tidak melihat masa lalu. Masa lalu tidak ada!
”Wahai Begawan, dimanakah aku waktu dilahirkan? Aku waktu remaja, saat bermanja pada Ayah dan Ibu?”
”Wahai Puteriku, masa lalumu tidak ada. Di sini tidak ada masa lalu, disini tidak ada bedanya. Masa lalu adalah kehidupan dunia. Di sini tidak ada masa lalu.”
”Wahai Begawan, manakah masa depanku?”
”Di sini tidak ada masa depan. Masa depan adalah kehidupan dunia, karena manusia dunia dirancang untuk bercita-cita, melihat masa depan. Dibangun oleh keinginan maka melihat masa depan, dibentuk oleh rencana kerja. Di sini Puteriku, tidak ada masa depan. Kita tidak ada lagi rencana keinginan, apa dan bagaimana. Di sini adalah keberadaan yang sesungguhnya. Bumi adalah bayang-bayang kita dalam kehidupan. Itulah Puteriku”, kata Begawan Wisrawa.
“Kalau demikian, wahai Begawan, apakah ’kerinduan’? Sedangkan aku merindukan masa depan yang lebih baik. Masa depan adalah kerinduan, dimanakah kerinduan. Ditempat ini tidak ada, wahai ayahku.”
”Wahai Puteriku, Kerinduan di sini tidak ada. Tapi ada dalam bathinmu dan jiwamu. Kerinduan akan sesuatu, ada dalam jiwamu. Dan dalam jiwamu lebih besar, lebih agung, lebih hebat dari alam ini, wahai anakku. Itulah Sastra Jendra. Sastra Jendra adalah kerinduan yang tersembunyi dalam bathin. Kerinduan bukan kepada anak isteri, kerinduan bukan pada suami, kerinduan bukan pada kekasih, kerinduan bukan pada harta dan kekuasaan. Kerinduan kepada sesuatu, dimana sesuatu itu pun kita tidak tahu. Itulah Sastra Jendra, wahai anakku.”
Kerinduan ini dalam Islam dikatakan sebagai kerinduan dalam Nurani. Nurani yang ada pada setiap manusia yang dilahirkan ke dunia. Dalam Al-Qur’an, ”Bahwasanya setiap bayi yang dilahirkan berfitrah Islam, adapun kalau dia jadi Nasrani, Majusi dsb, itu adalah kesalahan orang-tuanya.” Fitrah Islam/Nurani, inilah yang menjadi dasar lman bagi setiap manusia.
Maka, ”Wahai Puteriku, bila engkau merindukan sesuatu, jangan disini. Di sini tidak ada masa lalu dan masa depan. Di sini tidak ada keinginan dan harapan. Kembalilah kepada hati, wahai Puteriku. Hatimu yang ada kerinduan.”
Dalam Al-Qur’an, surah 2l:l3, ”Janganlah kamu berlari dan tergesa-gesa, kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik) supaya kamu ditanya”
”Masuklah kembali ke dalam hati, di sana ada kerinduan. Di sana ada kehidupan yang sesungguhnya, wahai Puteriku.”
Maka sang Dewi masuk ke dalam bathinnya sendiri, ke dalam perasaannya sendiri. Maka dijemputlah sang Dewi oleh cahaya gemilang, gemerlap sinar yang keindahannya melampaui cahaya matahari. Dan seluruh cahaya matahari di alam raya padam, tiada arti oleh cahaya yang datang dari bathinnya sendiri.
”Wahai Begawan, cahaya apakah itu?”
”Itu adalah cahaya dari yang engkau rindukan. Itulah Sastra Jendra, wahai Puteriku.”
anakala cahaya tersibak, disana ada Kebijaksanaan, kebijaksanaan yang tersembunyi, kebijaksanaan yang tersimpan dari ribuan lapis perasaan hati. Kebaikan hati, keikhlasan, kepasrahan, itu adalah membentang rapat menutupi Kebijaksanaan.
”Wahai Puteriku, sibaklah hati pasrahmu, Puteriku, sibaklah hati kebaikanmu, sibaklah hati keikhlasanmu maka ada Kebijaksanaan. Kebijaksanaan ada di tempat yang paling dasar dari sibakan keikhlasan. Sibaklah hati yang baik.”
”Mengapa demikian wahai Begawan?”
”Karena kebijaksanaan adalah tetesan dari kesakitan yang tak mampu lagi menimbulkan luka. Dari kesakitan yang tidak lagi memberikan hujan duka. Dari tetesan kesenangan yang tak mampu lagi menggembirakan. Kegembiraan dan duka, punah! Itulah kebijaksanaan, wahai Puteriku. Itulah Sastra Jendra.”
”Kebijaksanaan”, kata Sang Begawan, ”Seperti malam bersayap siang, seperti siang berparuh malam. Seperti kematian yang berkafankan kehidupan. Seperti kehidupan yang berselimutkan kematian. Rembulan di siang hari, matahari di malam hari, itulah kebijaksanaan. Itulah Sastra Jendra, wahai Puteriku.”
Sang Dewi pun tenggelam dalam kebijaksanaan. Di alam itu, sang Dewi muncul lagi rasa sengsara yang tak bertepi. Rasa duka yang luar biasa, Namun, manakala rasa kesakitan yang tinggi, muncul dalam jiwanya, tiba-tiba, tanpa proses. Tenang…senang yang melonjak! …..Terus demikian! Antara sakit dan senang diubah tiba-tiba. Proses psykologi yang tak mampu menampung perubahan yang sangat hebat. Dari sakit ke senang, dari duka ke tenang, dari resah ke aman, tiba-tiba. Terus demikian berganti-ganti.
”Wahai Begawan, apakah ini?”
”Ini adalah tangga-tangga menuju jagad raya, yang tak bertepi. Kita datang ke suatu tempat, Sumber Pencipta Alam Raya ini. Anakku, tangga-tangganya berlapis kesengsaraan yang tidak terhingga dan kebahagiaan yang tak terhingga.” Sang Dewi pun masuklah.
Manakala jiwanya tak terkecoh oleh duka dan senang, oleh rasa dan tenteram. Masuklah ke suatu alam, dimana di alam ini semuanya tidak ada lagi proses permulaan dari kejadian. Proses awal dan akhir. Maka Sang Dewi merasa malu kepada dirinya sendiri. Yang tadinya bangga dengan dirinya, bangga dengan kecantikanya. Saat itu, sang Dewi malu pada dirinya sendiri dan malu kepada alam, keadaan alam saat itu.
”Wahai Begawan, aku malu pada diriku.”
”Wahai Puteriku, manakala engkau malu pada dirimu berarti engkau kembali kepada kehidupan yang sesungguhnya. Manakala engkau malu pada alam ini, engkau sebenarnya kembali pada sumber awal kehidupan. Engkau berangkat dari sini, wahai anakku, dilahirkan ke bumi.”
”Aku pun malu yang tidak mengerti”, berkata sang Dewi.
”Wahai Puteriku, pengertian malu adalah malu pada Penciptamu. Ada disini Pencipta kita, kita tidak bisa melihat. Tapi kita ada dalam genggaman sang Maha Pencipta. Kita sedang berenang di Samudera keillahian, wahai Puteriku.”
Tidak lama kemudian, Dewi Sukesih menemukan keindahan, keindahan sebuah permulaan. Dimana segala sesuatu tidak lagi melalui pengertian. Pengertian yang tidak perlu dipelajari.
Pengertian tidak perlu dipelajari, perasaan-perasaan rasa tidak lagi harus dibuat. Dia sampai pada puncak keindahan tiada tara.
”Wahai anakku, kita sudah sampai pada puncak kebahagiaan. Tiada lagi kebahagiaan selain di tempat ini, wahai anakku. Kebahagiaan yang tak bisa dipetik dengan ilmu. Kebahagiaan ini, tak bisa dipetik, dipanen dari amal ibadah. Kebahagiaan yang bukan dipetik dari pengorbanan. Itulah puncak kebahagiaan.”
”Wahai Begawan, bilamana kebahagiaan ini yang bukan dipetik dari pengorbanan, apakah itu?”
”Itu adalah ’Hayuningrat’ anakku, Sastra Jendra Hayuningrat. Hayuningrat adalah kebahagiaan bukan yang dirintis dari keinginan berbuat baik, tapi Hayuningrat adalah ’Izin Illahi’ dalam memberikan sesuatu. Bukan keinginan kita, bukan jerih payah kita, Kehendak-Nya. Itulah Sastra Jendra Hayuningrat, wahai anakku.”
Hayuningrat adalah penyerahan diri total. Kebahagiaan yang begitu meresap ke dalam jiwa sang Dewi. Maka muncul kebahagiaan baru yang berlapis-lapis. Tambah mengangkasa tambah indah. Ternyata kebahagiaan pun berlapis-lapis tak bersisi, kebahagiaan yang tak ada limitnya.
”Wahai Begawan, kita menuju kemana?”
”Kita arungi kebahagiaan yang tak bertepi.”
”Apakah…..apakah ada tempat puncak?”
”Ada, puncak kebahagiaan.”
”Bagaimanakah cara sampai ke sana, wahai Begawan”,
”Wahai Puteriku, adakah sisa perasaan dalam hatimu untuk dipersembahkan?”
”Ada.”
”Apa?”
”Aku rindu kepada Tuhan.”
Dewi Sukesih merasakan, kebebasan sebebas-bebasnya tanpa rasa kekangan dari perasaannya sendiri. Artinya, setiap manusia mengalami himpitan dalam mengarungi kehidupan. Namun saat itu, Dewi Sukesih terbebas dari apapun yang menghambat dalam perasaannya. Dia terbang di alam Yang Maha Merdeka, Maha Sentosa, Gemah Ripah Loh Jinawi. Angkasa kebebasan yang sangat demokrasi.
”Wahai Puteriku, terbanglah sejauh-jauhnya, kepakkan sayapmu.”
Maka Dewi Sukesih terbang yang sebebas-bebasnya, seperti merpati yang mengarungi angkasa luas.
”Namun Puteriku, jangan terlalu jauh dalam terbang. Sejauh-jauh merpati terbang, akhirnya akan lelah jua. Sebelum lelah engkau harus kembali.”
Dewi Sukesih merasa sebagai manusia yang punya harkat, merasa dirinya mempunyai makna. Betapa dekat dengan yang menciptakannya, kasih sayang-Nya, terasa membeli jiwa. Sang Dewi merasa mendapat titah dari Hyang Widhi, dan merasa seolah-olah dirinya tidak berhak lagi hidup di dunia. Dirinya enggan pulang ke bumi.
”Wahai Puteriku, jangan munculkan perasaan itu. Di sini adalah hak setiap manusia, di sini adalah hak setiap makhluk. Namun bumi pun adalah hak kita. Sekalipun engkau merasa tidak berhak lagi di dunia, namun fisikmu, dagingmu masih terikat oleh hukum dunia. Kematian masih memijak alam bumi ini. Engkau tidak akan mampu jauh di alam kebahagiaan ini, sedang kau masih punya raga di dunia. Jangan lupakan itu”, berkata Begawan Wisrawa.
Terus sang Dewi mencoba berusaha melupakan duniawi. Dunia terlalu hina dirasakan, niat baiknya sering dinodai.
”Wahai Begawan, segala keinginan yang baik selalu terjegal oleh noda dunia, aku enggan kembali ke bumi. Setiap pengorbanan yang kupersembahkan dengan ikhlas, selalu dihina oleh mereka yang hidup di dunia. Wahai Begawan, setiap bunga-bunga dihatiku kuungkapkan dalam kerinduan kepada rakyat, kepada mereka, kepada yang aku cintai. Namun mereka tidak pernah melihatku bahwa aku mempersembahkan keindahan, keikhlasan kepada mereka. Aku muak kepada dunia yang penuh kehinaan dan kekotoran.”
”Wahai Dewi Sukesih Puteriku, jangan engkau merasakan perasaan itu. Usirlah, rasa menghina bumi. Karena bumi, Tuhan pula yang menciptakan, sama pula menghina Tuhan, kalau engkau menghina dunia atau bumi. Stop gejolak penjelajahan perasaan seperti itu. Kita masih di dua alam. Keterikatan dengan bumi dan mengarungi hak kita di alam jagad ini.”
Namun Dewi Sukesih nakal, tetap diarungi. Tidak mau kembali ke dunia. Tiba-tiba keresahan bergelombang kembali. Keresahan bukan berasal dari alam keindahan ini. Alam surga Nirwana yang maha nikmat, tetap dengan segala keindahan dan kesempurnaan. Keresahan dan gejolak pilu datang dari bathinnya sendiri. Resah, merasa kotor, merasa terhina, ternoda.
”Wahai Begawan, aku merasa malu. Bukan malu seperti dulu, tapi aku malu kehinaan diriku. Betapa aku kotor di tempat ini, aku tidak pantas di tempat yang suci ini, wahai Begawan. Aku tidak pantas di tempat yang Agung ini, karena aku ternoda, karena noda itu aku sendiri yang menciptakan, wahai Begawan. Kenapa demikian wahai Begawan?”
”Wahai Puteriku, engkau, aku, memang datang dari noda, berangkat dari noda. Berangkat dari kesalahan, pergi menuju ke kesalahan. Kita menyimpan jagad kesalahan dalam diri kita, walau di tengah surga yang indah ini.” Demikian Begawan Wisrawa berkata. ”Karena itu Puteriku, engkau harus ’diruwat’, supaya Tuhan mensucikan jagad kita yang ternoda. Pangruwating. Karena dalam jiwa kita penuh nafsu dan amarah. Angkara murka yang tak bersisi, keserakahan yang tak berbentuk lagi. Itu harus diruwat oleh Illahi. Pensucian jagad kita, karena kita tetap dalam kekotoran, walau kita mengangkasa di jagad keindahan yang sangat permai, yang sangat suci, yang sangat agung”, Begawan Wisrawa meneruskan keterangannya.
”Marilah kita kembali, Sastra Jendra sudah kupedar, Hayuningrat sudah kupedar, Kita harus kembali ke bumi, segera! Supaya Hyang Widhi mensucikan jagad kita yang sudah kelam dalam kekotoran dan noda.”
Namun karena keindahan yang luar biasa. Terhanyutlah sang Dewi Sukesih dengan Begawan Wisrawa sendiri, hingga sampai ke gerbang Kahyangan, pintu surga, pintu Nirwana, tempat para dewa bersemayam. Gerbang ini dinamakan Sela Menangkep (Dalam Islam, gerbang Ar-Royan) pintu masuk surga. Menjelang gerbang Sela Menangkep, maka goyanglah jagad tersebut. Jeritan-jeritan Raksasa datang. Berjuta raksasa datang, hawa nafsu-hawa nafsu membentuk berjuta raksasa-raksasa. Aroma bau. Bau kematian. Lebih bau daripada mayat basah. Erang harimau raksasa. Kemarahan para raksasa bergelombang.
”Wahai Puteriku, raksasa itu tidak ada di jagad ini, digerbang Kahyangan ini. Itu ada dalam jagad dirimu. Kecantikan wajahmu, itu mengerang seperti harimau. Sesungguhnya kecantikan adalah harimau. Senyummu sebenamya erangan harimau, keindahan tubuhmu sebenarnya raksasa yang buruk muka. Kemarahan mereka, sebenarnya kemarahan dirimu, wahai Puteriku, yang ada di jagad ini. Dan bau yang melampaui bau mayat yang basah, itu hatimu sendiri. Karena manusia tak mampu melepaskan dari rasa persaingan sesamanya, tidak mau melepaskan dari keterpenjaraan benci, kebencian. Perbedaan kebenaran saja, walaupun kebenaran yang sama, itu menimbulkan kebencian. Itulah bau yang sangat buruk, aroma mayat yang rusak, wahai Puteriku. Dan kau masih memiliki hati itu.”
Dan tiba-tiba muncul roh-roh halus, lembut, merekah beraroma sangat wangi, melampaui aroma wangi-wangian apapun. Berpakaian manik-manik putih, berbusana putih murni.
”Itu tidak ada dalam jagad ini, itu ada dalam jagadmu, wahai puteriku. Itu adalah rukhmu, kesucianmu, kelembutanmu. Engkau memiliki kemurnian dari Rukh yang suci.”
Dan tiba-tiba raksasa yang jahat berperang dengan rukh yang suci. Peperangan saling mengalahkan, tiada yang menang, tiada yang kalah. Rukh suci dikalahkan oleh rukh jahat, maka rukh suci bangun kembali seketika. Begitu pula sebaliknya. Maka peperangan tidak lagi dibatasi oleh kemenangan, juga tidak diakhiri oleh kekalahan.
”Wahai anakku, itulah kehidupan dunia. Tidak akan ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Cepatlah kembali pada kehidupan dunia., wahai Puteriku.”
Maka rukh halus dan rukh jahat hilang, yang ada adalah jagad ketenangan dalam hatinya, Kemudian muncullah kekuatan, berupa sinar yang datang dari dada Dewi Sukesih.
”Puteriku, itulah Kencana Rukmi. Diantara keinginan menang, diantara takut kalah, ada sesuatu yang netral. Yang tidak ingin menang dan tidak ingin kalah. Itulah Kencana Rukmi dalam dadamu. Kencana Rukmi inilah tempat paling aman, tempat yang paling menyelamatkan. Di sini di Kahyangan engkau tenteram dan aman. Di bumi pun dengan Kencana Rukmi ini kamu akan selamat.”
[Dalam Islam, Kencana Rukmi adalah Taufik, Hidayah, Irsyad dan Tasydid].
Kencana Rukmi, mengikis habis keresahan di malam.hari, kekelaman jiwa dalam kegelapan. Kencana Rukmi memotong harapan-harapan illusi dari sebuah harapan kosong tentang kenikmatan. Kencana Rukmi membenarkan kenyataan haq dan menyalahkan kebenaran semu. Karena Kencana Rukmi, laksana sinar yang datang dari sumber Illahi, tembus sampai ke dasar bumi.
”Ikutilah wahai Puteriku, cahaya itu. Kencana Rukmi alat untuk mengarungi kehidupan. Cahaya dari ALLAH, cahaya Illahi yang sampai ke dasar hati.” [Dalam Islam, Ihdinas shirothol Mustaqim].
Begawan Wisrawa dengan Dewi Sukesih tambah tinggi-tambah tinggi, mengarungi lapisan-lapisan kebahagiaan yang tiada tara, melampaui ketenteraman dan kedamaian. Makna ketenteraman dan kedamaian itu adalah ”sela” atau batasan kecil dari rasa aman di muka bumi. Tapi dijagad tersebut, di perbatasan alam Kahyangan, kedua orang ini terhanyut oleh alam kebahagiaan. Di mana alam kebahagiaan ini memiliki satu kenikmatan yang tak terhingga, walau masih kosong atau sepi dari energi Ke-Illahi-an. Berarti alam Kahyangan atau alam surga adalah jagad nikmat kebahagiaan yang mengandung energi ke- Illahi-an.
”Wahai Dewi Sukesih”, kata Begawan Wisrawa, ”Kita harus kembali secepatnya ke bumi.”
”Mengapa demikian wahai Begawan?”
”Karena kita ini masih memiliki raga. Di sini, di alam Kesucian tidak ada alatnya untuk mensucikan tubuh kita. Dan tiada mampu alam ini mensucikan jagad kotor yang kita simpan dalam jiwa kita. Sekalipun dunia penuh noda tapi di sana tempatnya ’pensucian’, tempat ’meruwat’.”
”Namun Begawan, saya tak mampu melepaskan kerinduan yang sangat kepada sesuatu yang ada di balik Kahyangan. Kita harus masuk ke pintu Kahyangan”, kata Dewi Sukesih.
”Apakah wahai Begawan, yang menarik jiwa ini untuk masuk ke Kahyangan. Walau pikiranku tidak merindukan kenikmatan Surgawi. Tidak merindukan kenikmatan Kahyangan. Bathinku merindukan yang menciptakan Kahyangan itu sendiri. Apakah itu, wahai Begawan?”
”Itu adalah ’Budi’, jawab Begawan Wisrawa, ”Budi yang ada dalam jiwa kita, yang tersembunyi, karena Budi berangkat dari Ke-Illahi-an. Maka, meronta, bergerak, selalu menuju pada sumber Ke-Illahi-an.”
Maka manakala menjelang Sela Menangkep, pintu Ar-Royan, pintu surga terbuka, dengan kegembiraan yang sangat, sang Dewi masuk. Yang tadinya Begawan menasehati untuk mengajak pulang, sang Begawan pun tersedot untuk ingin masuk ke pintu Kahyangan tersebut. Maka bumi berguncang-guncang, evolusi matahari berubah, alam raya, acak! Samudera menggelegar, banyak permukaan bumi tergenang air laut. Daratan menjadi lautan. Para raksasa yang tadinya gagah, menangis pilu. Rukh jahat mengerang kesakitan, meronta, memanggil-manggil Hyang Widhi. Memanggil-manggil Tuhannya. Maka yang tadinya raksasa-raksasa dalam jagad sang Dewi pun keluar, masuk ke Kahyangan. Menghalangi pintu-pintu Surga.
”Wahai manusia, belum saatnya engkau meninggalkan dunia. Kasihan bumi kau hina, kasihan bumi kau injak-injak, kasihan bumi kau lecehkan”, kata raksasa-raksasa dan rukh-rukh jahat lainnya.
Para Dewa pun resah!
Maka Batara Guru mengumpulkan para Dewa, para Batara dan para Bidadari. ”Jagad kita, jagad Nirwana ini mulai terancam”, kata Batara Guru. ”Ada anak manusia mencoba masuk kesini, melalui tangga-tangga Sastra Jendra Hayuningrat. Kita harus menutup pintu masuk ini, karena mereka belum saatnya masuk ke Indra Prastha yang kita cintai ini.”
”Wahai Batara Guru, siapakah yang datang?” bertanya Batara Narada.
”Dua anak manusia, perempuan dan laki-laki”, jawab Batara Guru.
”Wahai Batara Guru, kita tidak perlu resah. Tempat kita Kahyangan ini mana mampu dimasuki oleh manusia sebagai perempuan dan laki-laki. Di sini tidak ada batasan perempuan dan laki-laki, kita tidak perlu resah. Dua manusia itu belum saatnya masuk Kahyangan”, Batara Narada melanjutkan keterangannya, ”Karena walaupun mereka sudah masuk ke Sastra Jendra, tetapi di balik hatinya yang terdalam masih merindukan dosa-dosa, masih merindukan noda-noda. Walaupun mereka sudah hening dari kerinduan-kerinduan itu sendiri.”
”Wahai Dindaku”, berkata Batara Guru pada isterinya, Betari Uma.”
”Bagaimanakah pendapatmu, tentang dua orang yang mencoba memasuki Kahyangan ini?”
”Wahai Kakandaku, walau aku wanita tapi di sini aku kehilangan kewanitaanku. Karena kewanitaanku sudah kukorbankan dalam Sastra Jendra yang panjang. Aku dihadapanmu wahai suamiku, bukan lagi feminim. tapi aku adalah aku sebagai sumber awal kehidupan”, jawab Betari Uma.
”Dan bagaimanakah dengan Dewi Sukesih yang mencoba masuk ke Kahyangan ini?”
”Biarlah, dia masih membawa keangkuhan wanita, sang Begawan pun masih membawa keangkuhan pria. Bukankah Nirwana ini dibentengi oleh keangkuhan rasa wanita dan keangkuhan rasa lelaki? seperti aku, wahai suamiku. Sewaktu aku pernah ke bumi”, kata Betari Uma selanjutnya, ”Perempuan di puncak keanggunannya, di puncak kesuciannya. Taman bunga di jiwanya, taman bunga di dagingnya, taman bunga di perasaannya. Bunga-bunga Menur tercuri oleh lelaki. Maka wanita tak merasa tercuri kesuciannya oleh lelaki. Bunga Menur, aku pun tercuri oleh lelaki saat di bumi. Namun aku tak mampu, tak bisa, merampas bunga Menur. Karena keperawanan bukan dua kali, hanya sekali. Keperawananku dicuri lelaki. Seperti seorang gadis yang tidak tahu, bunganya telah dicuri dari Taman hatinya. Rasa ego wanita, merasa tak tercuri kesuciannya. Karena rasa ego wanita, dirinya harus mempersembahkan kepada sang suami. Itulah cinta yang aku rasakan sebagai penduduk bumi, wahai suamiku.”
”Begitupun seorang lelaki, wahai isteriku”, berkata Batara Guru, ”Setelah mencuri bunga Menur dari Taman hati seorang wanita, seperti lebah yang kehilangan sengatnya. Jangan harap mereka mampu menikmati Surga, karena mulutpun mereka tak punya, [Hal ini harus disimak dari kejadian ”Tragedi qolbi”]. Lelaki datang ke surga mau menikmati kenikmatan Surgawi, namun seperti kumbang yang datang pada bunga raksasa penuh madu, tapi tak punya alat untuk menghisap. Karena isapannya cuma satu, sudah digunakannya untuk mencuri bunga Menur dari taman hati seorang gadis.”
”Dimanakah Sastra Jendra wahai suamiku? Manakala seorang wanita kehilangan bunga Menurnya, dan saat lelaki kehilangan sengatnya?” ”Sastra Jendra tetap ada”, jawab Batara Guru, ”Menunggu sampai mengerti, kenapa kehilangan bunga Menur dan kenapa kehilangan sengatnya. Tetap tidak berakhir kesempatan untuk meraih Sastra Jendra, wahai isteriku.”
Maka seluruh makhluk di alam raya, berbondong-bondong datang. Diantaranya ada Warudoyong, Pocong, Singabarong, Jerangkong (rukh-rukh yang belum sempat memiliki fisik).
Warudoyong adalah sejenis rukh yang mendambakan fisik, untuk makan tidur.
Singabarong, perlu fisik untuk menyatakan cintanya, untuk menyatakan kebenciannya.
Pocong adalah bentuk rukh yang mendambakan fisik, daging dan darah, supaya kelaminnya bisa kimpoi, untuk menikmati seksual. Mereka merasakan sensual, tapi tak punya kelamin karena tak berfisik.
Jerangkong, perlu fisik untuk bisa menyayangi, untuk bisa membunuh, untuk bisa menyiksa sesamanya.
Adapun rukh-rukh marakayangan, yang pernah hidup di dunia, namun kematiannya masih membawa nafsu secara sempurna.
Brakasaan, Banaspati, Gandarwa dan seluruh rukh-rukh baik yang tidak punya fisik, yang pernah punya fisik, rukh-rukh marakayangan, para diyu dan para jin, kumpul. Demonstrasi!
“Wahai Sang Dewa Batara Guru, jangan biarkan dua anak manusia ini masuk, karena kalau mereka masuk dunia akan hancur. Kami belum siap memiliki daging dan darah, wahai Dewa Batara”, berkata rukh-rukh yang belum sempat mempunyai fisik.
”Wahai Dewa Agung, jangan biarkan dua anak manusia ini masuk, karena aku masih ingin lahir kembali ke dunia. Walau sempat hidup di dunia, aku tidak bosannya bergumul dengan darah dan daging. Itu adalah kenikmatanku”, kata rukh-rukh marakayangan.
Maka darah-darah pun mengalir, darah yang aromanya bau, hitam dan kelam berkata, ”Wahai sang Dewa, kami adalah tetesan dosa , kami menangis. Walaupun dunia tidak hancur, manusianya kehilangan kerinduan kepada aku. Bukankah wahai sang Dewa, kerinduan seksual adalah menghisap darah, Kerinduan kelamin adalah penyimpanan darah? Bukankah memakan harta yang lain adalah menghisap darah, dan mengkhianati yang lain adalah berenang dalam darah? Kami adalah darah-darah yang masih punya hak bergenang di bumi. Jangan engkau biarkan darah tidak dirindukan lagi oleh penduduk bumi.”
”Wahai Kakanda”, berkata Batara Guru pada Batara Narada, ”Bagaimanakah cara membendung mereka supaya tidak masuk ke kahyangan ini?”
”Wahai Dindaku, Jagad Kahyangan ini akan mengusir mereka yang masih dibatasi oleh rasa lelaki dan rasa wanita. Memang mereka sudah terbebas dari rasa memiliki dan rasa dimiliki oleh siapapun dan oleh apapun. Tetapi mereka dipisahkan oleh rasa ke-dewi-an dari Sukesih dan ke-resi-an dari sang Begawan Wisrawa. Adindaku, cobalah mereka. Benarkah tidak menyimpan lagi batasan-batasan kerinduan untuk berbuat dosa lagi. Turunlah (masuklah) ke salah satu bergiliran”, kata Batara Narada.
Maka masuklah Batara Guru ke diri Dewi Sukesih, masuk ke alam jiwanya terdalam. Batara Guru tidak masuk ke jagad fikiran dan jagad rukhnya, karena jagad fikiran adalah dunia bumi dan jagad rukh, hanya milik Sang Hyang wenang Allah subhanahu wa ta’ala [tentang janji rukh pada Allah swt, Q. S. 7:l72 ’wa idz akhodzna robbuka min bani aadama, qolu balaa syahidna]
Begitu masuk kepada sentral terdalam jiwa dewi Sukesih, muncullah perasaan tertentu dalam diri Dewi Sukesih. Dipuncak kesucian dari jagad perbatasan Kahyangan, Keagungan dan Kesucian memadu dengan keagungan dari Begawan Wisrawa. Dalam pandangan Dewi Sukesih, betapa gagah, betapa agung, betapa indah akhlak yang dipancarkan oleh sang Begawan. Menimbulkan kekaguman yang sangat dalam pada perasaan sang Dewi sebagai wanita.
Keagungan jagad Nirwana yang suci, memberi sentuhan keagungan dari sikap Begawan Wisrawa. Maka terlihatlah laksana Dewa Batara Kamajaya, simbol kesempurnaan seorang lelaki (nabi Yusuf as, dalam Islam). Muncullah cinta asmara yang hebat pada sang Begawan, cinta dari anak ke Bapak, punah! Yang ada hanyalah sebagaimana cinta wanita pada pria. Rontaan-rontaan perasaan ini tidak kuat untuk diungkapkan.
”Wahai Begawan, Aku cinta padamu. Betapa engkau mempesona aku, betapa bertambah indahnya alam ini dan betapa bahagianya jiwa ini, sentuhlah kulitku ini, wahai Begawan.” Sang Begawan pun tersentak kaget!
”Dewi Sukesih anakku!….. Aku datang untuk anakku Danareja. Oh, Dewi Sukesih, kenapa pipimu yang merah dan indah itu harus dipoles oleh kembang api neraka? Dan alismu yang hitam, harus dihitamkan oleh abu neraka? Kulitmu yang halus, mengapa harus diperhalus oleh awan-awan nafsu yang kuning? Yang menyorot tubuhmu yang kuning.”
Maka pada saat Begawan Wisrawa bicara demikian, Dewi Sukesih kembali kepada jagad kesuciannya.
”Mohon ampun Begawan….. Mohon ampun raja Dewa. Aku tidak mengerti, kenapa tumbuh perasaan seperti itu. Dan akupun sadar, betapa aku belum pantas untuk masuk ke Nirwana yang Suci”, berkata sang Dewi dengan terbata-bata.
Begitu kesadaran kesucian dari sang Dewi muncul, Batara Guru terpental dari jagad jiwa Dewi Sukesih yang tersembunyi. Ternyata kekuatan yang terpancar dari kesucian bathin, lebih hebat, lebih sakti dari segala macam ilmu dan kesaktian apapun. Bahkan Batara Guru, seorang Dewa, bisa terpental! Dalam keterpentalannya, Batara Guru bicara dari jarak jauh kepada kakandanya, Batara Narada.
”Wahai Kakanda, betapa hebat kekuatan yang ada dalam kesadaran yang tinggi dari jagad bathin Dewi Sukesih. Memang pantaslah dia menjadi bidadari Surgawi. Pantas Dewi Sukesih menjadi raja dari segala Bidadari.”
”Memang benar wahai Dindaku”, kata Batara Narada, ”Dewi Sukesih lebih cantik dari semua Bidadari yang ada di Surga. Karena, bilamana manusia bumi mampu mencapai ketinggian harkat, itu melampaui kecantikan dan keindahan penghuni Surga itu sendiri. Manakala anak manusia mencapai ketinggian harkat yang suci dalam keikhlasan, suci dalam kepasrahan, suci dalam rasa memiliki dan dimiliki. Itu adalah lebih tinggi harkatnya dari harga Nirwana itu sendiri, harga Surga itu sendiri”, Batara Narada menerangkan.
Perasaan cinta sang Begawan sebagai seorang ayah, ternyata telah menyelamatkan dirinya dari belaian maut cinta asmara. Dan ternyata kalau cinta, suami isteri telah membuahkan anak, seharusnya ”menambah” kokoh cinta yang ada. Sehingga apabila saat-saat kritis menghadang, terutama dari hempasan badai asmara dari pihak ketiga, ataupun saat-saat kejenuhan mencengkeram jiwa masing-masing, maka cinta kepada anak adalah kekuatan yang agung, dalam menghadapi semua itu.
Ternyata sang Dewa Batara Guru, dalam harkat kedewaannya, sangat menaruh hormat atas kesucian bathinya.yang dimiliki oleh insan manusia.
”Namun demikian…..lupakah engkau wahai Dindaku, bahwa Dewi Sukesih datang ke tempat ini karena masalah mencari calon suami. Sekalipun sudah sampai ke Sastra Jendra, sampai pada puncak nilai dan kesucian. Tapi berangkatnya dari mencari suami. lkatlah keberangkatan mencari suami dengan kesucian Sastra Jendra maka Dewi Sukesih akan ditarik kembali oleh aibnya, dari kekuatan daya tarik bumi. Dan cobalah sekarang masuk lagi ke Begawan Wisrawa, masuk ke pusat jagad lelanang-nya Begawan, keangkuhan kelelakiannya, jagad kegagahannya. Munculkan tentang ’mandra guna’ kelelakiannya. Laki-laki ’Lelanang ing jagad mandra guna wiwaha’. Sekalipun Dindaku tidak merasa memiliki, tapi engkau mampu membawa ’lelanang jagad’ pada jagad kelelakian Begawan Wisrawa.”
Maka masuklah Batara Guru ke alam bathin Begawan Wisrawa, masuk ke pusat jagad lelanangnya (ego maskulin), keangkuhan kelelakiannya, jagad kegagahannya. Batara Guru terkagum-kagum melihat keikhlasan kelaki-lakian sang Begawan. Ternyata dengan sukarela sang Begawan memperlihatkan kekuatan jiwanya, karena mampu meninggalkan keangkuhan kelelakiannya. Ada suatu keindahan didalamnya, keindahan karena sang Begawan Wisrawa telah meninggalkan dirinya sebagai raja, meninggalkan dirinya yang berkuasa atas rakyatnya. Meninggalkan dirinya yang beristerikan seorang ratu. Dan telah meninggalkan semua unsur manusiawi, terutama naluri seksual.
Betapa Batara guru terpukau, terpesona, betapa indahnya! Kahyangan adalah jagad yang penuh dengan kenikmatan nan mempesona, namun jagad bathin sang Begawan ternyata lebih mempesona, lebih anggun.
Kekaguman Batara Guru diketahui oleh kakandanya, Batara Narada. ”Wahai Dindaku, kenapa engkau terpesona? Di jagad kita memang tidak ada pesona keindahan seperti itu. Jagad itu ada di atas jagad Kahyangan ini. Itu sangat dekat dengan Sang Hyang Wenang, sangat dekat dengan Yang Maha Tunggal, Yang Maha Esa, Tuhan kita semua. Jagad bathin yang ada dalam dada sang Begawan adalah jagad tertinggi dari surga. Jagad Illahi.”
”Wahai Kakanda, bagaimanakah cara aku menggodanya?”
”Engkau begitu terpesona sehingga engkau lupa, wahai Dindaku. Kau lupa bahwa jagad itu adanya dalam daging Begawan Wisrawa. Cobalah munculkan, jagad dagingnya, jagad diyu-nya.” Jawab Batara Narada.
Begitu dimunculkan jagad daging sang Begawan, bergetar syaraf-syarafnya, muncul perasaan aneh dari sang Begawan. Terlihatlah, wajah cantik nan rupawan Dewi Sukesih, bertambah cantik. Betapa keindahan jagad suci kahyangan bertambah indah dengan kehadiran Dewi Sukesih. Pesona Kahyangan pun bertambah mempesona oleh wajah dan keindahan tubuh Dewi Sukesih. Terungkaplah rontaan perasaan yang tak bisa lagi dikendalikan. Yang biasanya ”wahai anakku” tapi kini, ”wahai dindaku”
Dewi Sukesih tersentak, kaget!
”Wahai Dindaku”, mengapa kita tidak manunggal ? Manunggal dalam jiwa, manunggal dalam perasaan, manunggal dalam bathin. Manunggal dalam jagad fikiran dan jagad raga kita. Supaya engkau meneteskan darah dari rahimmu, supaya dunia bertambah indah oleh darah-darah yang indah. Marilah kita lewati malam pertama dari sebuah perkimpoian, supaya perkimpoian manusia di dunia tambah dirasakan indah. Dan menjadi dambaan tertinggi dari harapan kehidupan dunia.”
”Wahai Begawan, Aku melihat di matamu yang teduh, keluar mega-mega hitam dari nafsu seluruh manusia. Mengapa engkau ambil alih semua nafsu manusia yang ada di bumi? Yang katanya tak boleh dicela, wahai Begawan, walaupun engkau berhasil untuk tidak menghina dunia, namun kau ambil alih noda nafsu seluruh manusia di seluruh jagad bumi. Mengapa engkau isi mega-mega hitam itu dengan birahi? Yang telah engkau mampu padamkan. Dan engkaupun telah membawa obor birahi dari bumi, padahal aku tak melihat engkau mengambilnya dari bumi. Mengapa demikian, wahai Begawan?”
Tersadarlah sang Begawan.
”Wahai Maha Dewa yang ada di Kahyangan, betapa aku masih mensisakan rasa manusiaku, aku tak pantas menjadi penghuni Kahyangan. Izinkanlah aku dan Dewi Sukesih untuk segera kembali ke bumi, supaya kami tidak terjebak oleh sisa manusiawi kami, yang temyata masih kuat, teguh menjadi raja dalam jiwa kami.”
Begitu ada kesadaran yang suci dari sang Begawan, Batara Guruh terpental jauh. Tidak hanya keluar dari jagad bathin sang Begawan, namun terus jatuh di hadapan Batara Narada di Kahyangan. Ternyata ada kekuatan yang dahsyat dari miniatur Surga yang ada dalam jagad bathin sang Begawan.
”Wahai Dindaku, ternyata engkau masih tetap kalah oleh mandragunanya kekuatan manusia bumi”, berkata Batara Narada yang nampak kekagetan di paras mukanya.
”Mengapa demikian Kakanda?”
”Karena Sang Hyang Wenang Hing Murbeng Agung, pencipta kita. Walaupun marah kepada penduduk bumi (perpanjangan dampak tragedi qolbi), namun masih menyimpan kekuatan kekuasaan-Nya, yang tersembunyi dalam nurani manusia. Yang tidak diberikan kepada kita.”
”Kalau demikian Kakanda, Sang Begawan sangat pantas menjadi penghuni Kahyangan ini.”
”Lebih dari pantas”, jawab Batara Narada, ”Lebih dari kita para Dewa, lebih dari para Bidadari. Karena kita menjadi penghuni Nirwana ini adalah Titis Tulis Hyang Widhi, sekalipun menolak kita tetap menjadi penghuni Kahyangan ini. Kalau sang Begawan menjadi penghuni di sini, itu adalah karena perjuangan dari sebuah makhluk. Yang dilahirkan tanpa harkat, namun mampu meraih harkat. Itu adalah bagian pengembangan dari sisi lain Kekuatan Kuasa Illahi.”
”Kalau demikian berarti Sastra Jendra Hayuningrat bukan milik kita”, kata Batara Guru.
”Benar, kita tidak memiliki Sastra Jendra, walaupun Kahyangan ini adalah buah dari Sastra Jendra Hayuningrat. Sastra Jendra Hayuningrat adalah milik Hyang Widhi, milik Illahi, yang hanya diberikan kepada mereka penduduk bumi yang mampu mengangkat harkat dirinya. Baiklah dinda Batara Guru, sekarang engkau masuklah pada keduanya dalam kebersamaan dengan isterimu, Betari Uma. Bercintalah kalian dengan menggunakan fisik kedua anak manusia itu. Engkau tidak boleh lagi terpesona oleh alam jagad bathin keduanya. Langsung saja kembalikan diyu keduanya. Kita para Dewa punya hak dari Hyang Agung, untuk membangun ’diyu-diyu’ dalam jagad diri manusia.”
Batara Guru pun memanggil isterinya, Betari Uma. ”Wahai kekasihku, kita akan bercinta melalui raga dari kedua orang ini.”
”Wahai Kakanda”, berkata Batari Uma, ”Bukankah kita bercumbu di Surgawi ini tanpa harus bersentuhan fisik? Bukankah keindahan kenikmatan Illahi tanpa harus melewati kelamin? Dan kita tidak lagi memiliki kalamin, kenapa harus memakai kelamin mereka? Bukankah kita akan menodai kesucian yang telah lama kita lakukan.”
Ingatlah tentang kemurkaan Allah swt, saat terjadinya tragedi qolbi, dimana bahwa penciptaan alam raya dan isinya, melalui proses evolusi (Yaa-Siin), diciptakan dari proses pembuatan ”alat kelamin”. Sedangkan jasad Adam dikembalikan ke Sidrah, sebagai Atma. (Proses terusirnya Adam dari Surga)
”Duhai Dindaku, ini adalah demi kesucian Nirwana. Jangan sampai tersentuh oleh darah dan daging kedua orang ini. Kita usir mereka melalui percintaan kita.”
Maka masuklah Batara Guru dan Betari Uma ke dalam jagad jiwa Begawan Wisrawa, dan Dewi Sukesih. Batara Guru masuk ke alam perasaan lelaki sang Begawan, sedang Betari Uma masuk ke perasaan kewanitaan dari Dewi Sukesih. Begitu masuk ke jagad manusiawi keduanya, maka bergetarlah seluruh syaraf-syaraf inderawi keduanya, memunculkan perasaan aneh yang tak mampu dibendung oleh kedua orang ini.
Reaksi pertama muncul dari alam jiwa, alam pikiran dan alam fisik Begawan Wisrawa. Dirasakan oleh sang Begawan, dirinya seperti masuk ke suatu padang yang panjang. Dirinya sendiri menjadi kuda jantan yang gagah perkasa, berlari-lari dengan congkaknya. Maka energi birahi sang lelaki menimbulkan meregangnya semua syaraf dan pori-pori tubuh. Maka secara fisik dan dalam alam fikiran, alam jiwa, sang Begawan merasa menjadi kuda jantan yang gagah dengan otot-ototnya yang teguh serta urat-urat yang menegang. Resah! Diterpa birahi. Semakin meregang tubuhnya semakin keras pula keresahan yang menerpa. Melejitlah bak anak panah yang tersentak dari busurnya, sang kuda jantan berlari dengan desah nafas memburu dan keringat yang membanjir, mencari kuda betina! Sang kuda pun meringkik dengan kedua kaki depan terangkat ke atas, menendang, melompat-lompat, tak tahan atas desakan birahi yang maha tinggi, melampaui kekuatan keikhlasan dan keimanan jiwanya sendiri.
Kuda jantan semakin tegang, gelisah! Dalam larinya tidak saja tubuhnya yang menegang dengan urat-urat menonjol, otot kelaminnya pun meregang pula bersama dengan larinya kaki dipadang panjang yang terjal dan berliku. Betapa hebat udara birahi yang menerpa sang Begawan, birahi yang tidak pernah dirasakan, sekalipun dalam kehidupan remaja dan akil balikhnya. Sang kuda pun turun, naik, di setiap celah-celah gunung, jurang-jurang yang dilaluinya. Berlari terus bak kuda sembrani yang menjelajahi seluruh padang panjang kegelisahan, dengan satu tujuan, mencari kuda betina!
Maka jagad perasaan manusiawi sang Begawan dirasakan lebih sempurna dari puncak hawa nafsu manusia di bumi. Hal ini adalah disebabkan oleh Batara Guru sedang masuk ke pusat jagad manusiawi sang Begawan dan membangunkan, menggetarkan semua simpul syaraf dan indera sang Begawan. Para Dewa punya hak untuk bangunkan diyu-diyu hawa nafsu yang ada dalam jagad manusia.
Dalam waktu yang bersamaan, Betari Uma pun membangun nuansa-nuansa imajiner sang Dewi. Karena sesungguhnyalah bahwa birahi itu tak lebih dari ilusi/imajinasi belaka. Cuma karena imajinasi itu datangnya dari pikiran dan perasaan kita, maka seolah-olah itu adalah sesuatu yang nyata.
Maka Dewi Sukesih pun seperti wanita telanjang yang sedang mandi di telaga Taman Firdaus, telaga Nirmala. Kemudian tangan sang Dewi pun menyentuh-nyentuh tubuhnya yang telanjang, menimbulkan erotisme yang sangat tinggi. Lentik jemarinya pun menelusuri seluruh lekuk tubuhnya sendiri. Maka seketika kesucian alam Sastra Jendra Hayuningrat, punah! Bahkan sentuhan sibakan air pun mampu menimbulkan erotisme tersendiri. Berenanglah sang Dewi di telaga Nirmala, dipetiknya bunga-bunga yang tumbuh di atas telaga, sang bunga pun disentuh-sentuhkan pada tubuhnya, sehingga menimbulkan erotisme yang maha tinggi, erotisme yang tidak ada di dunia.
Ternyata benda-benda saja sudah mampu menimbulkan erotisme yang sangat tinggi bagi tubuh sang Dewi, tanpa apapun, tanpa kelamin laki-laki, tanpa pria! Dan betapa hebat nafsu dari Dewi Sukesih ini. Sentuhan-sentuhan bunga teratai surgawi menambah rangsangan erotisme sensual sang Dewi. Ikan-ikan yang ada dalam telaga pun menyentuh dengan nakal tubuh telanjang sang Dewi. Juga menimbulkan kenikmatan yang sangat indah dari sebuah rasa sensual sang Dewi.
Maka puncak sensual sang Dewi masih harus menuntut. Dan naiklah sang Dewi dari telaga yang indah, berguling-guling di taman. Sentuhan-sentuhan rumput di taman menimbulkan erotis yang begitu menggelitik. Dari sela-sela taman muncullah ular besar, sang Dewi membiarkan sang ular menghampiri, kemudian menjalar dan menjilati tubuhnya. Lilitan ular mulai dari ujung kaki hingga lehernya, menimbulkan puncak erotisme yang sangat sempurna. Tidak ada dimanapun. Maka sampailah ke puncak jeritan yang begitu mempesona dari sang Dewi. Jeritan itu adalah kesadaran betapa dirinya merindukan fisik lelaki, merindukan sentuhan lelaki, ciuman lelaki dan terutama merindukan kelamin lelaki. Terlontarlah erangan jerit sang Dewi.
Resah jeritan, desah sang Dewi, berubah diri; membentuk kuda betina yang sedang menggosek-gosek, berguling-guling, menggesek-gesek tubuhnya, tersiksa deraan birahi!
Kuda jantan yang memang sedang mencari kuda betina, bertemulah keduanya. Berguling-guling bersama, saling menggigit sambil bersenggama. Pada saat alat kelamin kuda jantan masuk ke alat kelamin kuda betina, sadarlah sang Dewi! Sadarlah Sang Begawan! Namun segala sesuatunya sudah terlambat.
Sempurnalah sudah tetesan dari fisik sang Begawan, puncak ketegangan kelamin yang masuk kedalam rahim sang Dewi mengeluarkan sperma. Hubungan suami isteri sempurna melampaui kenikmatan yang telah dirasakan dari semua itu.
Dalam pada itu menjelang puncak hubungan dari keduanya, dengan cepat Batara Guru dan Betari Uma keluar dari tubuh keduanya, lapor pada Batara Narada.
”Wahai Kakanda, benar! Ternyata mereka masih merindukan dosa-dosa yang tersembunyi. Sekalipun sudah sampai ke jagad alam yang paling suci, melampaui kesucian kita para Dewa. Mereka masih memiliki kelamin yang ada dalam Jagad Sastra Jendra Hayuningrat. Wahai Kakanda, betapa keagungan dan kesucian Sastra Jendra masih harus diperankan oleh kelamin mereka. Mereka dengan kelaminnya harus kembali ke bumi.”
Sesungguhnyalah bahwa pada saat keduanya didera oleh birahi yang maha dahsyat, semakin tinggi birahi dirasakan oleh keduanya, maka semakin turunlah mereka dari Kahyangan. Desah erang kejantanan sang Begawan dan jeritan kewanitaan sang Dewi dipuncak hubungan kelamin sempurna, keduanya sudah berada di Taman Arga Soka. Taman yang memang dipersiapkan bagi keduanya oleh Prabu Sumali, ayahanda Dewi Sukesih.
Begitu sadar, maka keduanya dalam keadaan tanpa busana. Reaksi pertama dari keduanya adalah dengan cepat mengambil busana masing-masing yang ternyata tergeletak di sebelah mereka, dan segera menutupi tubuh masing-masing.
(Dalam Qur’an : ”………Adam dan Hawa segera mengenakan daun-daun surga untuk menutupi auratnya”).
Keduanya pun dilanda, dicekam oleh rasa malu yang sangat! Setelah keduanya selesai mengenakan busana masing-masing, nampaklah bahwa busana sang Dewi, busana indah puteri seorang raja yang serba putih, penuh noda darah keperawanan sang Dewi. Gugurlah Bunga Menur seorang gadis yang suci.
Berkata sang Begawan pada Dewi Sukesih, ”Wahai Dindaku, kita telah terikat sebagai suami isteri dan kita tidak perlu menikah kembali atas persetujuan orang tuamu. Kita tidak perlu akad nikah yang diresmikan oleh rakyat, oleh umat. Dan kitapun malu minta kepada sang Dewa untuk diresmikan dan disyahkan. Kita dinikahkan oleh syahwat kita. Bukan dinikahkan oleh alam ini, bukan dinikahkan oleh orang-tua kita, dan bukan pula dinikahkan oleh Sang Hyang Wenang, Tuhan yang Maha Esa.”
Dewi Sukesih menangis dengan segala penyesalan, dan air mata pun berderai tak henti-hentinya. Sementara sang Begawan tak berkata-kata, tak ada kalimat yang menyatakan tentang mohon pengampunan dosa. Tiada kata-kata yang menyatakan tentang rasa kebersalahan atau penyesalan dari sang Begawan.
”Wahai Dindaku”, kata sang Begawan, dengan nada getir yang kering, ”Engkau masih untung, kesakitan jiwamu dan rasa bersalahmu masih bisa diwakili oleh derai air matamu. Tapi aku tak mampu lagi yang bisa mewakili rasa sakit dari rasa bersalah ini.”
Ternyata walaupun tak ada kata atau kalimat yang menyatakan perasaannya ataupun derai air mata dari sang Begawan, ternyata sang Begawan lebih tinggi rasa penyesalannya. Karena dia adalah pendeta, wali Allah, seorang ulama yang sangat kasyaf, seorang resi, seorang pastur yang sangat suci.
Rasa penyesalan tak lagi mampu dapat diwakili oleh perangkat apapun, sekalipun dalam bentuk tangisan. Maka berkatalah sang Begawan, ”Dindaku, menangislah sepuasmu sekalipun tidak akan mensucikan noda-noda kita. Darah yang ada dalam busanamu menyebabkan semua anak manusia yang akan datang ke dunia ini harus tercekam, terpenjara kerinduan malam pertama pengantin. Biarlah, kita korban dari keserakahan nafsu kita sendiri. Biarkanlah kita menjadi korban dari syahwat yang lebih besar dari raksasa apapun. Biarkanlah kita menjadi tumbal, menanggung dosa semuanya yang akan lahir ke dunia ini”, sang Begawan tercenung sejenak, kemudian katanya,
”Wahai Dindaku, sperma yang keluar dari kelaminku telah menetes dalam jagad kewanitaanmu. Biarlah sperma itu menjadi makhluk baru dalam rahimmu, menjadi makhluk baru yang penuh kemerdekaan. Apapun sang janin jadinya. Kita serahkan kepada hawa nafsu yang telah kita ukir bersama. Biarlah sang nafsu yang telah kita ukir bersama akan membangunkan janin bayi yang ada didalam perutmu. Wahai Dindaku, kita harus siap mencintai, merawat dan mendidik bayi-bayi yang akan lahir. Anakmu adalah anakku, anakmu seharusnya cucuku, tapi anakmu adalah anakku. Apapun sifat dari bayi ini, kita tak boleh mengurangi cinta kita pada mereka, kita didik dengan segala pengorbanan tanpa harus menuntut. Sekalipun kita didik sebaik mungkin, karena lahir dari dosa kita, kitapun tak mampu untuk menjadikan mereka anak baik yang mendapat ridho dari sang Dewa. Biarkanlah berkembang dengan sifat keangkaraannya, dengan penuh kesalahannya. Biarkanlah anak kita berkembang dengan keinginannya, asal kita mensisakan kasih sayang yang ikhlas untuk mereka. Dengan segala perlindungan dan pendidikan. Dan baik tidaknya anak ini bukan tugas kita lagi. Itu adalah tergantung kearifan dari Sang Hyang Widhi yang menciptakan kita. Kitapun tak mampu berdoa untuk mohon itu, karena doa itupun sudah mengutuk kita dari dalam perbuatan syahwat yang akan mengukir sampai akhir dunia.”
Maka rasa malu keduanya untuk berhadapan dengan mereka yang dicintai, harus tetap dilakukan. Sang Begawan harus mohon maaf, harus mencium kaki sahabatnya sendiri, Prabu Sumali. Dan harus minta maaf pada anaknya sendiri, Prabu Danareja, sebagai raja Lokapala.
Sementara itu di Alengka, di dalam istananya yang megah, Prabu Sumali muncul kerinduannya yang sangat pada puterinya. Dan kerinduan yang menggelisahkan Prabu Sumali, bersamaan dengan masuknya Betari Uma ke dalam jagad kewanitaan Dewi Sukesih.
”Wahai sang Dewa, mengapa puteriku yang kucintai hingga hari ini belum juga pulang. Sedangkan Semua rakyat menunggu anakku dalam membawa oleh-oleh dipedarnya Sastra Jendra Hayuningrat. Sekalipun darah para raja tidak mengalir lagi di tanah Alengka ini, namun kerinduanku pada puteriku laksana genangan darah yang tak mampu mengalir. Mengapa aku gelisah wahai Dewa Maha Agung aku merindukan puteriku dengan segala kegelisahan. Jangan Engkau jadikan kegelisahanku sebagai ayah, menjadi kenyataan, Wahai Dewa Agung.”
Demikian ungkapan perasaan Prabu Sumali yang sedang dilanda kegelisahan. Di puncak kekhawatiran Prabu Sumali yang menanti penuh harap-harap cemas kepulangan puteri tercinta. Datanglah Dewi Sukesih bersimpuh di kaki ayahandanya, menangis dengan segala jeritan.
”Wahai Ayahanda, aku menciptakan bencana dan aku terbentur bencana, yang diciptakan dari keinginan dan keyakinanku sendiri.”
Betapa terkejut Prabu Sumali, ”Ada apakah gerangan wahai anakku.”
”Aku menciptakan bencana wahai ayahda, bencana yang memporak-porandakan semua yang kumiliki. Kini anakmu tak memiliki apa-apa, selain noda-noda dosa dan berkas-berkas syahwat yang begitu agung bercokol dalam jiwaku wahai ayahanda”, Kata Dewi Sukesih diantara sedu sedannya.
”Terangkanlah musibah itu, wahai Puteriku”, kata sang ayah, Prabu Sumali. Namun Dewi Sukesih diam…..terbungkam. Dalam diamnya air matanya tetap mengalir, tapi air mata darah yang terus menetes, mengalir. Ruang-ruang megah dari istana raja yang penuh dengan hiasan dan permadani yang indah, tegenang darah air mata sang Dewi. Alam diam. Dunia sepi. Semua rakyat tidur dalam kesyahduan. Bulan padam. Matahari padam. Kehidupan pun terhenti.
Tinggallah cekam kesepian yang begitu merasuk dari jiwa ketakutan sang ayah menimbulkan goncangan-goncangan yang sangat hebat dalam dadanya.
Terjadilah kehendak Dewa, cekam kesepian justeru bercerita tentang riwayat puterinya sendiri, tentang riwayat sahabatnya sendiri.
Pengulangan kembali peristiwa Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesih, sekaligus ”berulang” dengan melibatkan sang raja. Dari cerita dua tokoh lelaki-wanita dari peristiwa panjang sampai bencana. Alam bercerita kembali tentang peristiwa itu, yang langsung dirasakan oleh Prabu Sumali.
Seusai pengulangan peristiwa itu, Prabu Sumali pun bersujud kepada Sang Dewa Agung, Sang Hyang Widhi.
”Wahai Hyang Maha Agung, Dewa, Batara, apakah ini sebuah perbuatan dari harga manusia, atau ada keterlibatan Engkau dalam mengobarkan, membangunkan api-api birahi yang ada dalam diri kami. Aku tak percaya, sahabatku yang begitu suci, yang mulia akhlaknya, yang suci ibadahnya, yang sempurna dalam meninggalkan kekuasaan kekayaan. Harus terlena oleh peristiwa itu, aku tak percaya! Pasti…….ada keterlibatan Engkau, wahai Dewa Agung di Nirwana.”
Demikianlah Prabu sumali berkata dalam sujudnya. Begitu sujudnya selesai, sang Prabu pun bangkit berdiri.
Tak lama kemudian, sahabatnya, Resi Wisrawa, sujud dipelukan kaki sang Prabu. Maka diangkatnya sahabatnya, dipeluknya.
”Wahai sahabatku, jangan engkau sesali semua ini, karena kita berangkat dari noda, jangan terlalu berharap banyak untuk mencapai kesucian seperti para Dewa. Biarkanlah kesucian menjadi keangkuhan para Dewa di Nirwana.” Sang Prabu Semakin erat memeluk sahabatnya.
”Jangan menyesal, aku tidak saja memaafkan engkau. Tapi cinta aku dalam jiwa sebagai sahabat tambah sempurna untuk mencintai engkau, begitupun cinta aku kepada puteriku. Puteriku korban dari harapannya sendiri. Biarkanlah para Bidadari mengutuk puteriku, tetapi aku yakin, suatu saat puteriku akan mengalahkan harkat Bidadari Kahyangan semuanya. Wahai puteriku, bangunlah, peluklah aku, jangan malu.”
Sang Dewi pun memeluk ayahandanya, di dadanya dia bersandar. Maka tumbuhlah perasaan tentram, setentram bayi dalam pelukan pelindungnya. Sang Dewi pun tenggelam dalam kesempurnaan cinta seorang ayah.
”Wahai puteriku, siapapun engkau dengan noda dosa yang sangat tinggi, cintaku tidak pernah berubah. Cintaku tambah tinggi karena aku tahu engkau memiliki kecintaan kepada rakyat, dan aku tahu engkau memiliki kecintaan kepada orang tuamu, melampaui saudara-saudaramu, melampaui cintanya rakyat kepadaku sebagai raja, dulu. Dan akupun mampu meninggalkan kekuasaan tahta, harta, serta ibumu. Itu adalah karena dorongan cintamu yang agung untuk segera meninggalkan istana, dan segera menuju pertapaan. Itu adalah jasamu, anakku. Dan ini akan menyelamatkan engkau dan mengalahkan keagungan bidadari yang ada di Kahyangan. Senyumlah, puteriku…..”, Sang Prabu mengangkat wajah Dewi Sukesih, ”Senyumlah….”, sang Dewi pun tersenyum.
”Teruskanlah perjalananmu bersama suamimu. Dan engkau wahai sahabatku, bertanggung jawablah, bahwa inilah isterimu. Walaupun engkau tidak dinikahkan oleh alam dan sang dewa. Tapi engkau akan dinikahkan oleh cinta aku sebagai sahabatmu. Wahai Begawan dan engkau wahai Puteriku, akan kunikahkan dengan cinta yang agung, yang pernah engkau berikan padaku, itulah mahar.”
Tak lama kemudian, Prabu Sumali mempersilakan keduanya berangkat.
”Berangkatlah menuju kepada kehidupan. Jemputlah darah-darah yang akan mengalir ke muka bumi ini. Wahai puteriku, tampunglah darah-darah para wanita, engkau membuktikan diri kepada para Dewa. Membuktikan bahwa engkau mampu lebih agung daripada para Bidadari, bahkan dari para Dewa itu sendiri. Berangkatlah, tundukkan dunia ini dengan darah yang engkau tampung, jangan coba kau tundukkan dengan kesucian Sastra Jendra”, kata Sang Prabu mengakhiri pesannya.
Setelah berpamitan maka berangkatlah keduanya, melanjutkan perjalanan.
Sedangkan dikerajaan Lokapala, sang raja Prabu Danareja duduk tercenung, melamun. Makanan yang disiapkan oleh ibundanya, tak disentuh. Hari demi hari hingga datangnya bulan, sang anak puasa.
”Wahai anakku”, kata sang Ibu, ”mengapa engkau biarkan dirimu tersiksa oleh puasa?”
”Ibu, aku sangat merindukan kekasihku Dewi Sukesih. Kapankah Ayahanda dan Dewi Sukesih pulang. Kerinduanku pada Dewi Sukesih melenyapkan seleraku pada makanan apapun. Apapun kenikmatan dunia tak ada artinya dibandingkan kerinduanku kepada kekasihku, Dewi Sukesih.”
”Wahai anakku, ayahmu pasti berhasil membawa Dewi Sukesih. Dan aku ini, ibumu, telah membuktikan kepatuhan dan janji yang benar dari ayahmu. Sebagai wanita, sebagai isteri aku puas, sebagai orangtua anak-anakku, ayahmu telah menghantar aku ke alam yang sangat tinggi dari kenikmatan harkat wanita. Apalagi engkau sebagai anaknya, pasti diangkat lebih tinggi.”
Namun betapa kaget keduanya, ketika ada yang datang, yang ternyata adalah Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesih.
”Mengapa mata ayah demikian redup?”, berkata Prabu Danareja, ”Dimana kegagahan Ayah?”
”Wahai anakku, aku telah mencuri cinta, mencuri cinta kepada anakku sendiri. Cintamu kepada dewi Sukesih telah aku curi. Sekarang kekasihmu adalah ibu tirimu.” Maka sujudlah Begawan Wisrawa kepada anaknya sendiri.
Sang anak tak mampu berkata-kata, diam seribu basa, sudah tidak ada lagi perasaan apapun dalam jiwanya. Dirinya sudah menjadi patung yang tidak mempunyai rasa hidup. Dirinya tak dapat menyalahkan ayahnya ataupun menyalahkan Dewi Sukesih, karena jiwanya menjadi batu yang tak punya rasa.
”Wahai anakku Danareja, ampunilah ayahmu ini. Ayahmu gagal dalam memenuhi keinginanmu. Namun biarlah semua apa yang aku raih sebagai manusia dalam tapaku, dalam meninggalkan kemasyhuran tahta dan harta. Maka seandainya Hyang Widhi memberikan nilai-nilai kepada aku, biarkanlah aku berikan kepadamu, wahai anakku. Biarkanlah aku tidak ada arti selama alam raya ada, sampai aku bertemu dengan Hyang Widhi nanti. Biar kemegahan di hadapan Tuhan engkau yang merasakan, wahai anakku. Karena diantara noda dosaku, aku merasa lebih cinta kepada anakku. Engkau adalah kulahirkan dengan kesucian jiwaku. Namun engkau dihancurkan harapanmu, oleh rasa ayah yang dapat menyelamatkan anaknya.”
Kemudian sang Begawan bersimpuh kepada isterinya,
”Maafkanlah aku, wahai isteriku.”
”Wahai kanda”, berkata sang isteri, ”Tiada yang harus engkau ungkapkan. Namun cintaku yang murni, dalam kerinduan begitu utuh dan indah manakala kerinduanku sebagai wanita muncul. Dan aku tenang dengan cinta itu karena engkau, wahai suamiku, sedang bertapa dalam Sastra Jendra Hayuningrat. Namun kali ini cintaku merasa di uji. Yang berarti aku tidak perlu lagi merindukan dirimu. Manakala aku paksakan merindukan cinta pada suamiku, berarti aku harus berhadapan dengan cemburu, karena engkau telah memiliki isteri yang baru. Biarkanlah cinta ini akan kugenggam. Kalaupun aku rindu kepadamu, itu adalah kerinduan dari kenangan masa lalu kita. Biarkanlah cinta ini aku persembahkan teruntuk Sang Hyang Wenang. Maka tidak ada ampunan dariku. Pergilah, aku pun seharusnya seperti isterimu Dewi Sukesih, namun aku lebih beruntung karena aku telah dihantar oleh harkat.”
Dewi Sukesih dihantar kesombongannya dalam merasa dirinya mampu memedar Sastra Jendra Hayuningrat.
Maka kedua orang ini berjalan setapak demi setapak di muka bumi ini. Hingga di suatu saat datanglah suara atau wangsit dari Kahyangan. Batara Narada menyampaikan wangsit Sabdo Palon pada keduanya :
”Wahai anak-anaku, jangan sesali kemalanganmu, apakah engkau lupa wahai anakku. Kemalangan adalah hak setiap penduduk bumi, hidup itu sendiri adalah kemalangan. Wahai anak-anakku! Dunia adalah kemalangan, kamu harus ramah terhadap kemalangan. Jangan engkau lawan kemalangan. Kalau engkau ingin mendapatkan pengakuan penghormatan dari Sang Hyang Wenang, terimalah kemalangan sebagai kesadaran kehidupan di muka bumi ini. Karena kemalangan menyimpan rahasia kebahagiaan, kebahagiaan mereka yang ada di muka bumi, itu ada di balik kemalangan. Jangan engkau lawan, akrabilah, hingga kemalangan memberikan permata kebahagiaan kepada engkau”, Sabda Batara Narada.
[Dalam GGM, ”Bahwasanya, setiap kejadian yang menimpa seseorang, itu adalah dialog Allah dengan makhluk-Nya”]
”Wahai anakku, setinggi apapun harkat manusia, setinggi apapun ilmunya, ibadahnya, dharmanya, itu tak akan mampu mencari jatidirinya, karena jatidiri semakin dikejar semakin jauh. Jatidiri adalah dekat dalam jauh, jauh dalam dekat. Kau harus pandai-pandai melihat dimana ada jatidiri, tapi jangan mencoba memetik. Jatidiri bukan milik makhluk tapi milik Sang Hyang Tunggal”, demikian Sabda Palon dari Batara Narada.
”Dan engkau pun lupa wahai anak-anakku, kejahatan adalah bagian nafas kehidupan manusia. Segala apapun nilai-nilai yang suci dan benar, itu tetap ada dalam nafas kejahatan. Karena dagingmu menghirup udara kejahatan, darahmu mengecap udara kejahatan, fikiranmu menerima air kajahatan. Dan jiwamu adalah samudera kejahatan”, sabda Batara Narada,
”Dharma yang luhur dan agung tetap harus tersimpan dalam gelombang kejahatan. Karena itu anakku, kejahatan jangan kau lawan. lkutlah dengan kejahatan, tetapi manakala kejahatan akan menghancurkanmu, simpan dulu kejahatan. Biarkanlah kejahatan jadi milik hawa nafsumu, bukan milik anak-anakku. Engkau adalah milik kebenaran. Pisahkanlah kepemilikan kejahatan dan kebenaran, tanpa harus melawan kejahatan. Manakala engkau mencoba melawan kejahatan, engkau akan di makan oleh kejahatan itu sendiri. Begitulah wahai anak-anakku, dari Sabda Palon Hing Puri Agung Hayuningrat yang ada di Puncak Tahta Kerajaan Arya Loka di Parahyangan.”
Tahta Parahyangan adalah menyimpan tahta Kahyangan, didalammya ada Sabda palon, yang bisa di kumandangkan oleh Batara Narada, Dewa nilai-nilai, Dewa kesucian dan Dewa kearifan.
”Wahai anak-anakku, kemalangan memadu dengan kejahatan. Maka hukum dunia, hukum bumi adalah anak yang lahir dari kejahatan dan kemalangan. Terimalah hukum dunia dari anak perpaduan perkimpoian kemalangan dan kejahatan, dan ramahlah kepada hukum-hukum yang lahir dari keduanya. Karena daging dan darah sangat dekat dengan hukum bumi yang dilahirkan dari bayi-bayi dari perkimpoian kemalangan dengan kejahatan. Itulah Sabda Palon, wahai anakku.”
”Karena hukum dunia lahir dari kedua faktor tadi, maka kemanapun manusia pergi dalam mencari jatidirinya, apalagi mencari Maha Pencipta, tetap kesombongan dominan dalam diri manusia. Kalaupun memiliki ketersembunyian Nurani, tetap kesombongan perahu besar dalam mengarungi samudera kehidupan dunia. Terimalah itu semua sebagai takdir, wahai anak-anakku. Itulah Sabda Palon.”
”Wahai anak-anakku, Sastra Jendra bukanlah wedaran budi yang luhur, bukanlah wedaran dari kesucian yang tinggi, bukanlah wedaran dari ilmu yang sangat tinggi. Melainkan seruan kekuatan hati Nurani yang tersembunyi, karena hati Nurani, walaupun kalah oleh kekuasaan kejahatan, tetap suaranya mampu sampai ke Nirwana. Sampai pada puncak Nirwana, Tahta Parahyangan. Karena hanya Nuranilah yang mampu menggedor pintu Tahta Kahyangan.”
”Anakku, dalam ’diri yang jahat’, dalam ’diri yang malang’, simpanlah desir suara kecil dari Nurani. Walaupun kecil mampu sampai menggedor Tahta Parahyangan. Supaya bumi menjadi subur oleh Parahyangan. Dan janji Hyang Maha Tunggal, suatu saat bumi ini harus menjadi Parahyangan, baru Sang Hyang Wenang, Hing Murbeng Agung, akan tersenyum dan melupakan kemarahannya kepada penduduk bumi ini. Jadikanlah wahai anakku, turunanmu membawa Amanat Tahta Parahyangan. Itulah Sabda Palon, wahai anakku.”
”Dan mengapa engkau teruji, diuji oleh gelora syahwat yang tinggi, sehingga engkau menjadi suami isteri? Itu semua adalah suatu kekuatan yang tak mampu lagi dibendung olehmu. Terimalah darah-darah yang menetes dari setiap rahim yang akan lahir ke dunia, dengan demikian engkau telah memberikan kekuasaan kemalangan dari kejahatan lebih kokoh di dunia ini, hingga Hyang Widhi bosan kepada kekuasaan kemalangan dan kejahatan di dunia ini. Kebosanan Sang Hyang Widhi, itu akan menimbulkan ’kerinduan’ Sang Hyang Widhi datang langsung ke bumi yang hina. Itulah janji-Nya, untuk membangun Parahyangan. Wahai anakku, itulah Sabda Palon.”
”Maka kemalangan manusia dengan noda dosa tidak lagi harus diruwat. Karena Sang Hyang Widhi Maha Agung akan turun ke muka bumi, yang didampingi oleh adikku Batara Guru.”
”Batara Guru, adalah menjadi kendaraan yang indah dari Sang Hyang Wenang Hing Maha Agung, untuk mensucikan segala darah-darah yang telah engkau tampung, yang telah engkau simpan, supaya Parahyangan menjadi kenyataan. Parahyangan itu hanya bisa dilakukan, dibentuk, dipersiapkan oleh adikku Batara Guru, dan disempurnakan oleh kerinduan Yang Maha Agung untuk menjadikan parahyangan bagian dari jagad Kahyangan. Walaupun sesaat, tapi senyuman Hing Murbeng Agung menerpa, mengagungkan, mensucikan semua yang suci. Dan Pangruwating Diyu sudah tidak ada lagi. Karena Pangruwating Diyu telah menjadi Kendaraan kejahatan dan kemalangan, untuk kembali kepada pusatnya yang amat rahasia.”
”Yang ada adalah Batara Guru menjadi Satria Lelanang Jagad. Dialah nanti di bumi yang akan memedar ’Naya Genggong’. Naya Genggong akan dipedar oleh keagungan Lelanang ing Jagad dari Sang Hyang Jagad Nata, Prabu Siliwangi Kahyangan, ngahyang (moksa) dan muncul dimuka bumi. Di bumi yang ditentukan dalam tugasnya adalah memedar Naya Genggong.”
”Naya Genggong anakku, adalah Gemah Ripah Loh Jinawi. Hanya Prabu Jagad Nata, Panata Jagad, Panata Negara, Panata Manungsa, yaitu adikku sendiri [Batara Guru] yang mampu demikian. Karena menjadi ’raga’nya Hyang Widhi.”
”Adikku tidak lagi sebagai Dewa, tetapi menjelma menjadi manusia yang berdarah berdaging. Ilmu punah! Karena budi menjelma. Budi dan jatidiri bukan lagi rahasia, tapi menjelma menjadi darah dan daging adikku sendiri, untuk memedar Naya Genggong, Gemah Ripah Loh Jinawi.”
”Wahai anakku, terimalah kemalangan dan kejahatan di dalam wadah keikhlasan supaya dengan cepat dan pasti mengundang Adikku dan Sang Hyang Agung turun ke bumi. Dan darah-darahmu, yang ditampung dari darah umat Manusia. Tambah banyak penampungan tetes darah Perawan, tambah cepat mengundang Sang Hyang Batara Pengasih Sukma, Panata Gama, Panata Buana, Panata Cinta, Panata Asmara, Batara Panata Sakti untuk segera hadir.”
”Wahai Dewa Narada”, berkata Begawan Wisrawa, ”Mengapa demikian? Kenapa Sang Hyang Murbeng Agung turun ke bumi ini? betapa malu. Aku tenoda, noda ini harus didekati oleh Yang Punya Kesucian, Sumber Kesucian. Mungkinkah itu terjadi? betapa malu, aku.”
”Wahai anakku, biarkanlah rasa malumu terkikis habis oleh senyuman dari Batara Hing Murbeng Asih. Dan Batara Hing Murbeng Asih sudah sejak lama hendak turun ke dunia ini, cuma Batara Narada masih malu untuk mengajak Sang Hyang Widhi datang ke bumi ini. Karena genangan darah belum lengkap mengisi mangkok kehidupan dunia ini.”
Mohon disimak baek-baek dialog-dialog yang cukup mendalam antara Batara Guru dan Batara Narada …. perhatikan maknanya ….. karena itu adalah Sabda Agung yang nyata …. tentang sosok Batara Guru yang “telah” hadir di bumi …….
Sang Hyang Widhi
I
I
Nur Muhammad
I I
I I
Batara Narada (SAW) Batara Guru (Al Mahdi)
* Sastra : adalah hidup dalam kehidupan; penghidupan dalam hidup; enghidupi; menghidupkan segala yang hidup. (Hiru dina kahuripan; Ngahuripkeun sagala kahuripan; Hirup kahirupan; Ngahuripan hirup [Sunda].
* Jendra : adalah proses kehidupan yang menghidupi, menuju hakekat kehidupan yang sehidup-hidupnya; mengarungi puncak kehidupan tanpa batas arti hidup.
* Hayuning : sangat bijaksana; Gelombang dari Karim dan Halim- Nya Allah swt.
Kencana Rukmi adalah : – Suatu alat (cahaya) untuk mengarungi Cahaya Allah swt, (Ihdinas shirathal mustaqim). Ketentraman; kedamaian; tanpa keinginan untuk menang atau mengalahkan. Bila kita mampu menjadikan Nurani sebagai Perahu kehidupan kita, maka apapun gemerlap kehidupan dunia dengan segala pesonanya, takkan mengecoh kita, walaupun kita ada persoalan, namun kita sudah memiliki kepastian hidup, (Ihdinash shirothol mustaqim).
Lahirnya : Rahwana, Sarpa Kenaka Dan Kumbakarna

Setelah Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesih ke kerajaan Lokapala menemui isteri dan anaknya. Mereka kembali ke Alengka karena di Alengka-lah (Prabu Sumali), yang dapat menerima kedua orang ini.
Dan di suatu malam yang kelam, mencekam, dimana seolah-olah udara diam tidak bergerak. Gempa muncul dan berbagai gunung meletus. Pada saat demikian perut Dewi Sukesih seperti mau meletus.
”Wahai Kakanda, betapa perut ini sepertinya mau meletus. Oh Kakanda, betapa sakit perut ini”, kata Sang Dewi.
Walaupun kandungan tidak memperlihatkan perut membesar, tetapi terasa ada makhluk yang bergerak-gerak dalam perutnya. Jadi selama mengandung benih dari suaminya, Sang Dewi perutnya tidak berubah tetap langsing seperti sediakala. Namun rupanya pertumbuhan janin sedemikian pesatnya. Maka malam itu Sang Dewi tersiksa oleh sakit perutnya.
”Wahai Dindaku, anak-anak, bayi-bayi yang ada dalam rahim sudah siap, ingin keluar. Dan mengapa engkau penjarakan anak kita yang akan lahir? mengapa engkau penjarakan dalam perutmu? mereka punya hak hidup untuk lahir ke dunia. Biarkanlah mereka masuk ke alam kebebasan dunia ini, dan mereka jenuh dan lelah bergaul dengan alam kesempitan perutmu”, kata Begawan Wisrawa.
”Wahai Kakandaku, aku malu. Aku malu pada pepohonan, pada daun-daun dan gunung-gunung. Bukankah semua air, semua tanah, semua pepohonan akan menertawakan kita. Bukankah bayi ini hasil nafsu kita yang diukir bersama? Wahai Kakandaku, bukankah bayi ini hasil cinta kita? Cinta yang tidak mendapat restu sang Dewa!”, demikian Sang Dewi.
”Terimalah noda yang ada dalam bayi kita”, kata Begawan Wisrawa, ”Dan kejahatan apapun yang akan dilakukan oleh anak kita, bukan kesadaran dari anak-anak kita. Tapi itu adalah perpanjangan kesalahan kita, wahai isteriku. Seandainya anak-anak kita nanti berpesta ria dalam syahwat, itu bukanlah anak-anak kita. Tetapi adalah perpanjangan kerinduan syahwat yang terpendam dari kita bersama. Terimalah semua itu sebagai ’nikmat’ dari Dewa. Kesakitan jiwa ini, jiwaku, jiwamu, obatnya adalah penghinaan dari alam ini, dari mereka, dari semuanya. Tanpa penghinaan, kita akan tetap terkurung oleh ketersiksaan rasa bersalah. Penghinaan wahai Dindaku, membebaskan kesalahan kita, membebaskan keterkurungan dari rasa noda. Kita malu mohon ampun kepada Tuhan, kita malu mohon ampun pada para Dewa. Namun kita pun harus terbebas dari rasa bersalah. Satu-satunya adalah menerima penghinaan. Hinaan adalah membebaskan kita dari penjara noda, penjara rasa hina, penjara rasa bersalah, wahai Dindaku. Bernafaslah engkau, terimalah hinaan itu. Berarti bayi itu akan lahir ke dunia ini dengan selamat.”
Maka diujung kepasrahan yang paling dalam, karena bagaimanapun juga Dewi Sukesih telah sampai ke puncak Sastra Jendra. Sudah dipersiapkan arti makna kesabaran yang paling sempurna, makna kepasrahan yang paling suci. Dan diujung kepasrahan yang total, bayi pun lahir.
Namun bukan sebagai jabang bayi yang sempurna, yang keluar adalah darah-darah yang menggumpal, kemudian disusul oleh kuku-kuku, kuku kecil, kuku besar, kuku hewan, kuku manusia. Kemudian lahir lagi telinga, untaian telinga yang panjang.
Tak lama kemudian, disaksikan kedua orang tuanya. Darah itupun berproses jadi jantung, jadi paru-paru, setiap organ tubuh membentuk diri, hingga sempurna menjadi bayi. Dan yang lainpun, telinga dan kuping, berproses hingga sempurna menjadi tiga bayi.
Yang dari gumpalan darah menjadi Rahwana,
Yang dari Kuku, seorang wanita, menjadi Sarpakenaka,
Yang dari Kuping berproses menjadi Kumbakarna.
Namun setelah menjadi manusia Sang Dewi enggan memeluknya. Karena proses yang begitu cepat, dari gumpalan darah, kuku dan telinga, menjadi janin bayi. Menimbulkan perasaan aneh, kagum, sekaligus takut!
”Wahai isteriku, kini engkau telah menjadi seorang Ibu, aku menjadi Ayah. Peluklah anakmu, jangan engkau biarkan diam. Cepatlah susui mereka sebelum menangis. Seandainya bayi ini, anak ini, menangis, menjerit sebelum engkau susui. Maka keagungan cintamu sebagai wanita takkan bisa mengalahkan dunia ini. Cepat kalahkan dunia dengan air susumu. Karena dunia dengan segala kegagahannya akan kalah, akan takut oleh air susumu. Karena air susumu membuat energi cinta yang sempurna dari seorang Ibu.” Maka dengan cepat, satu persatu ketiganya disusui oleh Sang Dewi.
Begitu anak pertama, Rahwana, disusui maka dengan segera menangislah ia dengan keras, pun demikian dengan yang lainnya. Namun yang unik, Rahwana, begitu menangis, keluarlah sepuluh kepala, Dasamuka!
Sarpa Kenaka, begitu menangis tiba-tiba tersenyum, tiba-tiba membesar! Dan seketika, semuanya membesar! Sehingga Ibunya sendiri, lebih kecil dari ketiga anaknya. Jadi raksasa.
”Wahai isteriku”, berkata Sang Begawan, ”Cintailah mereka. Mereka adalah ’diyu-diyu’, raksasa-raksasa dari diri kita yang belum sempat diruwat. Mereka adalah jelmaan dari diyu-diyu yang ada dalam jiwa kita, yang belum sempat di sucikan oleh Sang Hyang Widhi. Terimalah mereka, raksasa-raksasa, sebagai anak kita, yang kita cintai, yang kita kasihi.”
”Wahai Kakanda, bagaimakah sifat nereka?”, tanya Dewi Sukesih.
” bahwasanya motivasi perkawinan, gejolak (Sibak kembali Mutasyabih ” perasaan/bathin, dan kadar keimanan, saat berhubungan intim, sangat menentukan karakter anak yang akan terlahir).
”Rahwana adalah dari gumpalan darah yang kita tampung, dengan kebanggaan ilmu Sastra Jendra, dengan kebanggaan kesaktian yang kita rasakan. Dan dengan kebanggaan kita sudah pasti masuk Nirwana. Kitapun terjatuh! Maka semua dosa, darah-darah seluruh umat kita tampung bersama. Maka Rahwana adalah anak kita, dosa kita yang sempurna, syahwat kita yang sempurna. Kitapun telah meminjam semua syahwat manusia, kitapun telah meminjam semua nafsu umat manusia ke dalam mangkok-mangkok kecil kita. Maka Rahwana anak kita, adalah jelmaan kesempurnaan syahwat yang Tuhan ciptakan untuk umat manusia. Rahwana adalah sumber syahwat, sumber kejahatan, sekaligus sumber kemalangan. Rahwana adalah anak dari kejahatan dan kemalangan, yang diikat oleh syahwat yang sangat sempurna. Cintailah dia, wahai Dindaku. Hak anakku, hak anakmu untuk menjadi apapun. Yang penting kita hantar mereka dengan cinta dan kasih sayang. Kita didik mereka dengan tanggung-jawab. Hasil tidaknya itu kita serahkan pada Tuhan Yang Esa. Yang penting cinta kita dalam mendidik, cinta kita menghantar hingga dewasa. Itupun, penghinaan telah berkurang dari dosa-dosa kita. Rasa kebersalahan kita akan berkurang, manakala cinta-kasih kita, kasih-sayang, kepada anak-anak kita tidak pernah berkurang dan utuh. Sekalipun mereka sangat mengecewakan kita. Kini mereka milik Dewa, meskipun kita yang melahirkan.”
”Ada pun anak kita yang wanita, Sarpa Kenaka”, lanjut sang Begawan, ”Adalah kuku-kuku kita, wahai Dindaku. Engkau telah terangsang oleh seksual. Kukumu mengusap-usap tubuhmu sendiri di Telaga Nirmala, kukumu mengait-ngait, mencakar-cakar tubuhmu sendiri. Karena deru birahi betapa kuat, menguasai jiwamu dan fikiranmu, wahai Dewi Sukesih. Dan itupun kuku-ku, saat aku jadi kuda jantan, berlari-lari dalam birahi. Kuku kuda itu ada dalam kandunganmu. Lahir sebagai anak kita, yang kita cintai, Sarpa Kenaka. Sarpa Kenaka adalah lahir dari erangan-erangan, cakaran-cakaran kuku, karena birahi yang begitu hebat, yang menggerogoti jiwa kita. Dan kuku-kuku birahi sudah merasuk umat manusia hingga akhir zaman, wahai Dindaku. Dan puteri kita adalah simbol dari semua kuku yang ada di muka bumi ini. Kelak puteri kita, tidak ada yang dicari, selain lelaki! Tidak ada yang dicari kecuali kebanggaan menguasai lelaki. Cinta, tidak ada bagi anak kita yang wanita ini, yang ada adalah birahi. Dia tidak pernah puas menyerahkan tubuhnya untuk disenggamai oleh setiap lelaki, dan dia tidak pernah puas hanya dengan disetubuhi, bahkan dia harus memperkosa setiap lelaki. Kejantanan setiap lelaki dari anak manusia itu bisa dikalahkan oleh birahi putri kita. Dan tidak itu saja, kuku birahi lelaki tidak boleh memiliki wanita, tetapi lelaki harus dibeli oleh syahwat. Walaupun puteri kita berupa wajah buruk, bau, kotor, raksasa. Tapi manakala timbul birahi pada laki-laki, dia akan secantik bahkan melampaui kecantikan bidadari dari Kahyangan. Betapa akan terpesona semua mereka yang merasa menjadi pria, yang merasa menjadi lelaki. Kecantikan yang sempurna, kecantikan engkau wahai Dewi Sukesih, telah terwariskan pada puteri kita. Namun, saat dunia engkau menjadi kuda betina, dunia aku menjadi kuda jantan yang mengerang dalam senggama yang sempurna. ltu lebih luas, lebih besar jagadnya dalam jiwa puteri kita. Maka lelaki harus di beli, tidak saja fikiran dan jiwanya, namun semuanya akan dibeli oleh puteri kita. Satu lelaki tidak cukup, seribu lelaki lebih tidak cukup. Tidak saja fikiran dan jiwanya yang harus menghamba pada puteri kita, tetapi puteri kita bisa menimbulkan kebanggaan kelamin dari setiap pria, yang anak kita beli.
Jadilah puteri kita, sumber sensual dari semua pria yang ada di dunia.”
”Dan anak kita Kumbakarna dari kuping/telinga”, sang Begawan meneruskan, ”Manakala kita di perbatasan Sela Menangkep, pintu Surgawi. Kita sadar, kita merindukan Yang Menciptakan Nirwana, walau kita tidak merindukan nikmat Nirwana. Namun kitapun sadar, manakala datang cobaan-cobaan. Rayuan engkau kepadaku dan tuntutan seks dari aku kepadamu, kitapun sadar sedang dicoba oleh sang Dewa. Maka bukankah Kakang sudah mencoba mengajak engkau ke bumi ini? Telinga kita saat itu, mendengar panggilan Sang Hyang Murbeng Asih, dari puncak Nirwana. Karena saat itu kita merasa kotor, belum siap masuk ke Nirwana. Jangan sampai mendengar kesucian yang luar biasa dari panggilan Illahi, manakala jiwa kita masih kotor, ternoda. Maka telinga-telinga yang lahir dari rahimmu menjadi putera Kumbakarna. Itu adalah perpaduan kerinduan pada kesucian, kerinduan pada kebenaran namun tanpa daya dalam dunia kekotoran. Kumbakarna adalah simbol bahwa manusia merindukan kesucian, merindukan ’dharma’ yang sempurna dan merindukan ingin sempurna dalam amal ibadah. Tapi manusia pun tidak mau melepaskan jerat birahi, jerat harap, jerat nafsu yang kuat. Maka kerinduan ini, dari suatu Dharma dan kesucian hanya ada dalam pendengaran Nurani manusia, tidak dalam pendengaran kuping manusia. Maka Kumbakarna, wahai istriku, setelah besar nanti. Dia melihat angkara murka di sekelilingnya tapi dia tidak kuasa untuk memperbaiki. Lebih senang tidur! Meninggalkan angkara murka. Tidur dalam ketenangan, karena tidak mau terbawa oleh angkara murka, namun gagal untuk merubah angkara murka. Maka anak kita seperti gunung yang diam, dia tidur dalam kediamannya. Tahu semua yang ada di dunia ini, tapi tak mampu untuk mengubahnya. Dia berhasil untuk tidak terserang angkara syahwat, tapi dia tak melawan, menghabiskan angkara syahwat. Syahwatnya memang tidak disenggamakan dengan sesama manusia, tidak diungkapkan dalam hubungan suami isteri, dalam hubungan lelaki dengan wanita. Tetapi, syahwatnya di bawa ke dalam tidur dan muncul dalam ilusi yang hebat. Dalam tidurnya dia bersenggama, dalam tidurnya dia bermegah-megah. Dalam tidurnya dia merasa ketenangan. Walau tidur, nafsu tetap sempurna dalam jiwanya. ltulah manusia yang akan lahir, seperti anak kita, Kumbakarna”, demikian Begawan Wisrawa.
”Kakandaku, betapa kasihan anak-anak kita ini, betapa kasihan mereka hidupnya. Aku sebagai Ibu yang melahirkan, terlalu berat untuk menerima kenyataan ini.”
Sang Begawan mengangkat kedua tangannya ke langit, ”Wahai Maha Dewa, aku mensyukuri bahwa isteriku muncul kekuatan cintanya, disela cinta muncul tanggung-jawabnya. Wahai Maha Dewa, bukankah cinta tiada arti tanpa tanggung-jawab? Bukankah cinta tiada makna tanpa tanggung-jawab? Dan, bukankah cinta tidak harus ada tanpa tanggung-jawab? Tanggung-jawab adalah buah dari cinta, tapi cinta itu sendiri lahir dari tanggung-jawab. Betapa Engkau telah menganugerahkan perasaan pada isteriku, untuk membuahkan cinta. Wahai Sang Dewa, isteriku telah ’meruwat’ dirinya dengan tanggung-jawab.”
”Wahai isteriku, engkau telah suci kembali, sebagaimana engkau telah sampai ke puncak Sastra Jendra Hayuningrat. Bawalah kesucian dirimu yang sudah pasti masuk ke Nirwana, atas jaminan Dewa. Bawalah cinta, bawalah kesucian dan bawalah tanggung-jawab dalam menyaksikan bagaimana anak- anak kita merusak dunia ini”, kata sang Begawan.
”Bagaimana Kakanda, seandainya para Dewa mengubah, apa yang telah Kakanda lihat tentang anak-anak kita. Bisakah itu?”, Sang Dewi bertanya.
”ltu, ’titis tulis’, Hing Dumadi”, jawab Sang Begawan, ”Kita membuat tulisannya, kita mempersiapkan daun lontarnya. Kita telah menulis dengan cinta, dengan syahwat, dengan ilmu dan dengan kesucian, pada daun lontar. Maka para Dewa meniupkan daun lontar itu jatuh di muka bumi ini. Memang hukum dunia dari kejahatan dan kemalangan, itu dibawa di permukaan daun lontar yang telah kita tulis bersama, telah tertulis pula di Nirwana. Permata-permata indah yang menghiasi Nirwana, yang memberikan cahaya ke negeri Nirwana, yang memberikan cahaya ke alam para Dewa, mulai redup. Karena telah kita nodai dengan air kehidupan dunia di permata cahaya dinding-dinding perhiasan Nirwana. Maka Permata kehidupan berkurang pancaran cahayanya oleh percikan air yang kita siramkan ke Nirwana.”
”Oh! Kakanda. Kapankah itu? Bukankah kita tidak pernah masuk ke Nirwana ? Dijegal oleh para Dewa!?”
”Lupakah wahai Dindaku? Ternyata perbuatan kita melakukan hubungan suami istri dan pesta syahwat, itu adalah kehendak Dewa? Dan manakala selesai Batara guru mempengaruhi kita untuk bersenggama, sang Dewa keluar dari jagad jiwa kita, kembali ke Nirwana membawa air kehidupan dunia dari tubuh kita, dari darah kita, dari daging kita. Batara Guru tak kuasa untuk menggenggam air kehidupan dunia, maka memerciklah ke permata cahaya di dinding Nirwana. Dan Batara Guru hanya melaksanakan tugas, titah, dari kebenaran Nirwana. Dan air itu kita yang membawa ke Puncak Sastra Jendra. Air dunia yang ternoda, kita bawa ke puncak Hayuningrat yang belum saatnya tiba. Wahai Dindaku. Anak-anak kita sudah masuk ke alam Takdir. Sudah masuk ke jagad Paria yang terendah, yang terhina, yang terhitam dari kehidupan. Anak-anak kita sudah terlanjur kita penjarakan di Alam Samsara. Walaupun mereka jahat, merekapun harus menerima penderitaan. Samsara!”
”Anak kita Rahwana, berkuasa jadi raja, apapun yang diinginkannya mampu didatangkan. Tapi apa yang didapat tidak membahagiakan anak kita. Justru itu alam Samsara, alam penderitaan yang lebih menderita dari kita sendiri, wahai isteriku.”
”Sarpa Kenaka, kecantikannya mampu membeli seribu laki-laki, menikmati seks, pesta pora dalam birahi. Seribu lelaki yang molek mudah didapatkan. Erang kuda kejantanan lelaki mudah dikecap, tapi puteri kita tidak pernah, tidak bisa menikmati, karena puteri kita ada di alam jagad Samsara, lebih mederita dari kita.”
”Anak kita Kumbakarna, dalam tidurnya dia menikmati kehidupan illusi, dalam tidurnya dia menikmati seks, pesta seks. Dalam tidumya dia ada dalam Istana dengan berbagai kemewahan dan keindahan. Tapi Kumbakarna anak kita, tidak menikmati di alam nyata. Tetapi alam illusi. Dalam tidurnya ada di jagad Samsara, di jagad penderitaan yang sangat, melampaui penderitaan kita, wahai isteriku.”
”Karena itu mereka sudah terlanjur masuk ke jagad Takdir, Kehendak Hyang Widhi. Karena kita memercikkan air noda dunia ke dinding Permata Cahaya di Nirwana.”
”Bagaimanakah wahai Kakanda, dalam menghadapi cinta anak-anak kita, seandainya pada waktunya, saya ibunya harus menderita melihat penderitaan mereka, anak-anak kita. Masihkah tetap diam?”, tanya Dewi Sukesih pada suaminya.
”Wahai isteriku, apapun usaha perjuangan dengan segala upaya untuk memperbaiki anak-anak kita, itu tidak mungkin menjadikan anak-anak kita lebih baik. Kita harus menerima penderitaan mereka, karena penderitaan itu kita pula yang mengukir.”
”Bisakah kita menyelamatkan mereka, wahai Kakanda?”
Rupanya hati seorang Ibu (Dewi Sukesih) masih selalu berharap yang terbaik bagi anak-anaknya.
”Oh Dindaku, bukankah sewaktu kita sama-sama memedar Sastra Jendra Hayuningrat, kitapun tak mampu menyelamatkan diri kita dari serangan syahwat? Bagaimana kita akan mampu menyelamatkan anak-anak kita? Kita sendiri tidak mampu menyelamakan diri kita sendiri! Terimalah azab mereka sebagai ’cermin’ bahwa kita telah membuat tulisan dan lukisan di cermin kehidupan ini. Dan semua anak manusia ikut serta, ma’mum, kepada anak-anak kita, hingga keputusan Hyang Widhi, keputusan Allah bersama Batara Guru, bersama Batara Narada, turun ke bumi ini membebaskan Kumbakarna-Kumbakarna yang lahir. Beribu-ribu Kumbakarna akan lahir, berjuta Sarpa Kenaka akan lahir dan berjuta Rahwana akan lahir. Hanya Hyang Maha Asih yang mampu melepaskan dari jerat noda mereka.”
”Satu-satunya wahai Dindaku, semua sisa kehidupan ini, kita peruntukkan bagi Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pencipta Nirwana, Maha Pencipta kita. Kita serahkan semua teruntuk Hing Maha Murbeng, Allah swt.”
”Dunia jagad jiwa kita, kita bagi dua. Jagad mencintai anak-anak kita dan jagad yang kita persembahkan kepada Hing Murbeng Agung, Allah swt.”
Realisasi Pangruwating Diyu Dan Sejarah ” Cupu Manik Astagina ”
Ternyata ada dendam pada Begawan Wisrawa, dari seorang yang sangat sakti yaitu pamanda Dewi Sukesih, Jambumangli. Waktu para raja datang melamar Dewi Sukesih, semuanya dibunuh oleh Arya Jambumangli ini. Namun setelah tahu bahwa si keponakan diperisteri seorang resi, mengamuklah dia. Datang kehadapan Begawan Wisrawa.
”Wahai Begawan, aku tidak mengira, kesucian dirimu sebagai pengemban Wedha, pengemban kebenaran, pengemban kesucian, ternyata hanyalah srigala yang berbadankan kebenaran dan kesucian. Wahai Begawan! Ternyata kependetaanmu hanyalah sandiwara. Padahal, aku cukup lama di puncak penghormatan hati ini, menyimpan penghormatan kepadamu, penghormatan ini runtuh dalam jiwa ini ! Ternyata penghormatan kepadamu sebagai Resi tak pantas! Dan engkau tidak malu menghancurkan puteri Kakandaku, mencuri cinta anakmu sendiri! Dan engkau menodai dirimu sendiri di hadapan rakyat Alengka. Menghitamkan segala kesucianmu di hadapan rakyat Lokapala. Karena itu, aku memiliki ilmu yang belum pernah kugunakan. Seribu Ksatria akan mati, akan hancur oleh ilmuku ini. Aku tidak takut! Sekalipun engkau sakti mandraguna, wahai Resi.”
Ternyata segala caci-maki dan hinaan ini diterima sebagai ’nikmat’ oleh Begawan Wisrawa. Sang Begawan tunduk, malah bersimpuh kepada Arya Jambumangli. Sang Arya yang sedang mengamuk ini memanah sang Resi, dengan panah yang sakti. Berbagai panah menusuk ke tubuh sang resi. Beratus pusaka ditusukkan ke tubuh sang resi, sang resi membiarkan. Diam tak melawan. Karena ini semua dianggap qishash (karma), siksa dunia atas noda yang diciptakannya.
Dalam hati sang Begawan berkata, ”Terima kasih wahai Dewa, Engkau telah menjadikan pengadilan di Nirwana, di dunia ini. Engkau mendahulukan pengadilan di Nirwana, di dunia ini. Bagiku ini adalah kehormatan yang sangat tinggi, wahai Sang Dewa. Ternyata Engkau masih menghormati diriku yang ternoda. Ternyata engkau tidak rela mengadili aku di Nirwana, tapi mengadili aku di jagad bumi ini. Betapa Engkau dan semua para Dewa menghormati aku. Biarkanlah siksaan ini membawa noda-noda dosa yang ada dalam jiwa dan fikiranku, wahai Dewa-Dewa .”
Dan ternyata, setiap senjata yang masuk dan keluar dari tubuhnya, tidak mengeluarkan darah setetes pun. Tambah disiksa oleh Jambumangli, tambah ikhlas, tambah nikmat dan tambah tinggi kesaktian yang ada dalam diri sang Begawan ini. Sampai ilmu apapun telah dikeluarkan, habis semua kesaktian Jambumangli.
”Wahai Resi, Pendeta yang melacur! Pendeta yang bersyahwat! Ternyata engkau sakti. Dan aku tidak menyimpan lagi kesaktian, karena aku tahu, kesaktian engkau karena kekuatan birahi yang engkau agungkan bersama keponakanku, Dewi Sukesih! Ternyata kesaktian engkau melampui kesaktian semua ksatria, karena engkau beli dengan syahwat yang tinggi. Karena engkau beli dengan tapa yang lama di dunia, dengan keserakahan cinta dan keserakahan syahwat menundukkan Dewi Sukesih. Aku mengaku atas kesaktianmu dan aku mengakui, kesaktian itu kau dibeli oleh syahwat dan puasa untuk mengejar syahwat, tapa untuk mengejar syahwat”, demikian Jambumangli.
Yang tadinya hinaan sebuah kenikmatan bagi sang Begawan. Tapi fitnah ini, sanggup menimbulkan rasa sakit di jiwanya. Maka manakala sakit di jiwanya karena tidak merasa seperti itu muncul dengan deras, justru saat itu anak-anaknya yang tiga itu, tambah besar, tambah dewasa dengan cepat, tanpa lagi melalui proses waktu. Ketersinggungan sang Resi, cepat mendewasakan mereka. Sang Resi kembali ke jagad kesuciannya. Hanya jagad kesuciannyalah sebagai Iman seorang resi yang sempurna, yang dapat mengalahkan perasaan – perasaan ketersinggungan tersebut.
Datanglah suara dari Nirwana, ”Wahai Begawan Wisrawa, bunuhlah Arya Jambumangli. Karena keangkara murkaan yang telah disebar oleh anak-anakmu, cukup melampaui kemurkaan dunia, melampui noda dunia. Jangan sampai ditambah noda-noda angkara Jambumangli. Namun, bunuhlah Jambumangli, bukan dengan siksaan. Tapi bunuhlah dengan kenikmatan yang telah engkau bawa dari Sastra Jendra!”
Maka Sang Begawan mengeluarkan ”alat” dari tubuh dirinya sendiri. Pusaka itu bukan tersimpan di luar tubuhnya, tapi di dalam tubuh fisiknya. Diambillah sebuah pusaka dari perutnya, maka keluarlah satu cahaya kuning yang menyilaukan Jambumangli. Jambumangli yang tadinya marah, mengamuk. Tiba-tiba, tersenyum, keluarlah keringat dari sekujur tubuhnya terus membuka bajunya sendiri, telanjang bulat! Maka tampaklah suatu pandangan yang ganjil. Jambumangli sebagaimana seseorang (laki-laki) yang sedang dipermainkan oleh suatu birahi yang maha dahsyat, seksnya terangsang, nafasnya mendengus sebagaimana nafas kuda jantan yang binal, gelisah!
Ternyata cahaya kuning dari Pusaka ini, membawa kabar, rekaman-rekaman peristiwa jadi kudanya Begawan sewaktu hubungan suami-isteri, pesta pora seks dengan Dewi Sukesih. Peristiwa itu, terulang kembali! Jambumangli ikut serta dalam pengulangan peristiwa tersebut. Dan di puncak syahwat, Jambumangli berguling-guling di tanah, yang disaksikan oleh sang Begawan. Akhirnya terungkaplah desah Jambumangli.
”Wahai Dewi Sukesih, ternyata aku berhasil memiliki dirimu, engkau jadi isteriku. Aku menyentuh tubuhmu, aku mencium tubuhmu, engkau mencintai aku Dindaku, isteriku. Engkau berhasil menjadi milikku dan aku puas hidup di dunia ini. Kekasihku, Cintaku, Dewi Sukesih”, demikian Jambumangli sambil tersenyum.
Maka senyuman itu sekaligus tarikan nafas yang terakhir. Jambumangli mati dalam kesempurnaan nikmat syahwat bersama Dewi Sukesih, seolah-olah. Padahal memang sesungguhnya terjadi seperti itu, karena Rahmat Allah terlalu luas ”Nafidad Kalimatullah”. Tetap diberikan kenikmatan dan kenyataan memiliki Dewi Sukesih. Tetapi yang dimiliki bukan keikhlasan kesucian ilmu Sastra Jendra yang sudah ada dalam diri Dewi Sukesih. Yang dimiliki adalah fisik syahwatnya dan kewanitaan Dewi Sukesih. Dibawa serta dalam kematiannya.
Maka datanglah suara dari Nirwana.
”Wahai Begawan, engkau telah menyelesaikan tugasmu membunuh Jambumangli, demi ketenteraman dunia, dengan ilmumu. Dibunuh oleh peristiwa hidupmu, dibunuh oleh pengalaman hidupmu, oleh nafasmu, oleh cintamu. Dibunuh oleh keikhlasanmu dan dibunuh oleh kesaktian engkau. Namun bagian-bagian syahwat yang tersisa dari dirimu, karena peristiwa ’senggama’ telah engkau wariskan kepada Jambumangli. Dan oleh Jambumangli telah dibawa kembali ke sumbernya. Biarkanlah Jambumangli, kematiannya di alam kenikmatan seksual, karena itu semua kehendak Dewa Yang Agung.”
Dewi Sukesih menyaksikan peristiwa ini.
”Kakanda, betapa tragis! Aku takut, aku dibawa. Syahwatku, fisik tubuh kewanitaanku. Aku takut. Bukankah aku manusia yang harus menyertakan perasaan kewanitaanku?”
”Wahai Dewi Sukesih isteriku kau harus mensyukuri”, jawab Begawan Wisrawa. ”Engkau telah diruwat oleh pamanmu sendiri, yang mencintai syahwatmu, yang mencintai kewanitaanmu. Pesona tubuhmu telah sirna kini, di dunia, kembali ke tempat asalnya. Dibawa oleh kendaraan cinta yang ada dalam diri pamanmu.”
Batara Narada pun datang menyampaikan sabdanya.
”Anak-anakku, engkau telah menghantar bayi-bayi hingga besar. Seiring dengan usia bayi yang membesar, seiring pula dengan ampunan dari Yang Maha Murbeng, menyertai engkau. Kini engkau terbebas dari dosa, noda. Engkau suci dari ujung rambut hingga ujung kaki. Suci segala gejolak jagad fikiranmu, suci segala gejolak jagad bathinmu, jagad jiwamu, dan suci pula rukhmu. Aku kirimkan ’Atma’ dari puncak Surgawi, ’Atma’ dirimu. Atma dirimu akan Kukembalikan wahai Begawan, dan Atma dirimu wahai Dewi Sukesih. Pakailah kembali Atma dirimu, jati dirimu, yang telah lama engkau simpan di arsip Kahyangan, atas kehendak Hyang Widhi.”
Maka datanglah cahaya yang persis wajahnya, yang persis fisiknya. Dan sang Atma itupun mengucapkan salam.
”Wahai sang Begawan, aku terlalu lama engkau tinggalkan. Dan aku terlalu lama engkau lupakan, namun aku rindu padamu. Kerinduan ini dapat izin dari Hyang Widhi untuk kembali kepadamu. Terimalah aku, dalam rumah jiwamu, dalam rumah fikirarmu.”
Berkata sang Begawan.
”Selamat datang wahai diriku yang sudah lama kurindukan. Selamat datang hatiku yang sudah lama kulukis dengan kerinduan kepada kebenaran. Selamat datang, wahai jiwaku yang selama ini kugapai, masuklah ke dalam rumahmu, yang sudah lama engkau aku kotori. Masuklah ke dalam rumahmu, yang sudah lama aku nodai. Dan tidurlah dengan nyenyak, di tempat tidur yang terpercik oleh spermaku, Wahai diriku. Masuklah ke jagad yang lama kosong di dunia ini.”
Maka masuklah Atma itu ke dalam diri keduanya, Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesih.
Bersabda Batara Narada.
”Wahai Begawan, engkau telah kembali pada dirimu. Engkau telah kembali kepada haq yang telah engkau genggam. Penderitaan yang telah engkau genggam, usai sudah. Pengorbanan yang harus engkau bayar telah selesai, dharma tak perlu lagi karena sang Atma adalah dharma. Ibadah sudah tak perlu lagi, karena sang Atma, adalah ibadah. Engkau menjadi bagian dari kami, para dewa di Surgawi. Dan engkau telah menjadi dewa di dunia ini, di bumi ini. Wahai Begawan, segeralah berkunjung ke Nirwana. Tapi engkau, wahai Dewi Sukesih, masih punya tugas untuk membesarkan anak-anakmu. Maka manakala engkau rindu kepada Hyang Widhi, datanglah ke Nirwana dalam tapamu. Dan manakala engkau terpanggil oleh tanggung-jawab kepada cinta anak-anakmu, bangunlah dari tapamu.”
Sang Dewi menjerit
”Wahai sang Dewa Narada, kenapa aku tak diundang ke Nirwana?”
Batara Narada menjawab.
”Wahai Ratu Bumi, wahai Ratu Dunia, cinta kasihmu masih diperlukan oleh umat manusia. Cinta kasihmu masih diperlukan untuk mengembangkan keturunan manusia untuk mengembangkan semua habitat hewan dan tumbuh-tumbuhan. Supaya daun tetap lestari, supaya bumi tetap berjalan. Engkau harus terima dharma ini sebagai penghormatan dari kami para Dewa. Biarkanlah suami lebih dulu berkunjung ke Nirwana. Tunggulah, sampai sang Dewa mengajak engkau ke Nirwana. Dengan rukhmu, dengan tubuhmu, dengan jiwamu.”
Sang Begawan pun bolak-balik, Nirwana Dunia (bumi) di dalam tapanya.
”Hal ini merupakan dambaan para filosof, para sufi, para pertapa, para ahli yoga, termasuk penganut kejawen. Menjadi dambaan keinginan melanglang buana dalam sepinya, dalam tapanya, di dalam mati raganya. Umat Islam memiliki yang sempurna dalam tapa, yaitu ’Shalat’ dengan segala kekhusu’an. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw, ’Isra’ Mi’raj’ umatku adalah ’Shalat’. Karena shalat adalah Puncak nilai-nilai yang tidak diberikan kepada umat lain. Hanya diberikan kepada umat Rasulullah SAW.”
Manakala Begawan Wisrawa dijemput di Nirwana oleh para Dewa, para Bidadari, khususnya Batara Narada dan Batara Guru, dan Batara-batara lainnya. Mereka bertanya kepada sang Begawan ini yang namanya bukan lagi Begawan atau Resi, tetapi sudah menjadi Batara. Batara Wisrawa (Dalam wayang Batara Ismaya).
”Wahai Batara Wisrawa, apakah engkau bisa membersihkan air-air noda dunia dari Permata Kehidupan, Permata yang ada di dinding Nirwana ini? Kami para Dewa tak mampu membersihkan air noda dunia ini, cahaya surga berkurang oleh air noda dunia. Hanya engkau, Batara Wisrawa. Yang mampu membersihkan, dan bawalah kembali air noda dunia ini ke bumi, karena engkau bisa kembali ke bumi.”
Tak ada dalam Wedha, atau kitab agama apapun, hanya bisa diwedar dengan menggunakan, ”Senter Besar Mutasyabih” dari rahasia-rahasia Al-Qur’an. Karena kita sudah memberi wedaran ”Cupu Manik Astagina.”
Maka Batara Wisrawapun mengumpulkan air noda dunia yang memercik pada permata cahaya di dinding surga. Namun, setelah dibersihkan ternyata cahaya yang berkurang dari surga tak bisa terang kembali.
Berkatalah para dewa, ”Wahai Batara Wisrawa, engkau telah berhasil menyimpan kembali air noda dunia dalam mangkok jagad jiwamu. Tetapi cahaya gemerlap yang biasa ada di Surgawi berkurang. Permata-permata indah yang biasanya mengeluarkan cahaya gemerlap di alam Kahyangan, agak buram. Tetap buram walaupun air noda dunia itu sudah diambil.”

Bersabda Batara Narada, ”Wahai para Dewa, lihatlah! Karena peristiwa anak manusia yang mencoba masuk ke Nirwana, disebabkan oleh ketinggian ilmu Sastra Jendra Hayuningrat, menyebabkan cahaya Nirwana berkurang. Walau sang Batara Wisrawa telah mengambil air noda dunia itu ke mangkok bathinnya, cahaya tetap buram. Permata-permata itu sendu. Permata indah di dinding surga menjadi sendu.”
Batara Narada memberikan istilah kepada sumber cahaya yang ada di surga menjadi redup, permata menjadi sendu, adalah ”Air permata sendu.” Jadilah Air Permata Sendu, permata air kehidupan yang sendu.
Selanjutnya Batara Narada, mohon pada Sang Hyang Widhi di puncak Nirwana,
”Duhai Hyang Widhi Yang Agung, Dewata Sang Pencipta Segala Dewa, hanya Engkaulah yang mampu mengembalikan cahaya yang telah memudar di Nirwana ini.”
Terdengarlah firman dari Allah swt :
”Memang, hanya Aku-lah yang mampu mengembalikan cahaya semua surya yang Aku ciptakan. Hanya Aku-lah yang mampu mengembalikan cahaya. Aku akan turun ke Nirwana, dalam membawa cahaya.”
Maka, Sang Hyang Wenang Maha Dewata Agung, Hing Murbeng Agung, Allah subhanahu wa ta’ala, turun ke Nirwana. Turun dari Puncak Muntaha ke Nirwana membawa serta cahaya, firman-Nya :
”Siapakah yang bisa menerima ’Ijab Qabul’, dari cahaya ini?” Semua bungkam. Batara Guru bungkam, Batara Narada bungkam, semua Dewa bungkam, Batara Wisrawa pun bungkam.
”Engkau Wisrawa?”, firman Hyang Agung, ”Bisa membawa Ijab Qabul cahaya ini? Engkau telah menyimpan kembali air noda dunia ke dalam jagad jiwamu. Maka Aku terpanggil untuk turun ke Nirwana ini. Berarti engkau bisa mewakili semua dewa-dewa untuk menerima cahaya Nirwana ini.”

Batara Wisrawa tunduk tak berkata-kata, sampai-sampai keindahan perasaannya yang sucipun, padam! Betapa malu. Malu kepada Yang Maha Menciptakan.
”Berarti, siapapun tak mampu menerima cahaya, sumber cahaya dari segala cahaya ini”, kembali Hyang Widhi berfirman :
”Cahaya puji-pujian dari Negeri-Ku, dari Istana-Ku. Cahaya puji-pujian, cahaya yang terpuji, Nur yang terpuji, Nur Muhammad. Berarti Aku yang harus tentukan siapa yang mewakili sumber Cahaya Terpuji ini. Biarkanlah, Aku lebih tahu, kepada siapa Aku lebih mencintai dari semua Dewa di sini.”
Hing Murbeng Agung memandang semua Dewa, satu persatu. Akhirnya, tatapan kesempurnaan Sang Hyang Widhi terhenti pada Batara Guru.
”Wahai Batara Guru, engkaulah yang paling Aku cintai dari semua makhluk, dari pada Nirwana yang Aku ciptakan dengan segala isinya. Aku pun hampir mengalahkan cinta-Ku pada diri-Ku sendiri. Bawalah Kekuasaan Cahaya ini oleh engkau, wahai Batara Guru.”
Batara Guru sujud. Dan setelah Batara Guru bangun, maka Kecintaan Allah pada Diri-Nya sendiri, pindah, ke jagad jiwa Batara Guru. Cinta Allah pada Diri-Nya sendiri ada dalam diri Batara Guru. Cahaya Terpuji dari segala Yang Terpuji, diterima.
”Simpanlah dalam jagad dirimu, wahai Batara Guru.”
Maka cahaya Surgawi yang pudar kembali terang, lebih terang dari semula, sebelum terkena air noda dunia. Permata Sendu, kembali gemerlap! Ternyata Cahaya yang ada dalam Jagad Bathin Batara Guru, lebih cemerlang dari cahaya Nirwana itu sendiri.
Firman Hyang Widhi, pada Batara Guru.
”Wahai Batara Guru, serahkanlah kembali pada-Ku cahaya itu.”
Batara Guru pun menyerahkan kembali cahaya yang terpuji dari segala yang terpuji, bersama jagad bathinnya sendiri, sebagai wadah. Inilah yang dinamakan Cupu Manik Astagina.
Di dalamnya ada Kekuasaan Allah, Cinta Allah Yang Maha sempurna. Demikian dipersembahkan kembali pada Allah, cahaya tetap cahaya di Nirwana. Cahaya dalam bathin Batara Guru pun tetap bercahaya.
Firman-Nya : ”Cupu Manik Astagina ini Ku-bawa dulu sementara waktu, ke tempat-Ku. Manakala engkau turun ke bumi, bawalah Cupu Manik Astagina ini. Guna mempersiapkan turunnya Aku di negeri dunia.”
Begitu semuanya usai, Batara Wisrawa menangis.
”Wahai Dewa-dewa, aku tak mau pulang! Ternyata selama waktu yang panjang, engkau, Dewa-Dewa, belum pernah bersua dengan Sang Hyang Widhi, bertatap muka dengan Hing Murbeng Asih. Kebetulan aku ke Nirwana ini, bersama engkau aku bertemu. Akupun bertemu, bertatap muka dengan Hyang Agung.”
Ternyata semua dewa belum pernah bersua, bertatap muka dengan Sang Hyang tunggal. Batara Wisrawa sangat beruntung, namun dampaknya tak mau kembali pulang kebumi.
Akhirnya datanglah Firman-Nya :
”Wahai Batara Wisrawa, belum saatnya engkau meninggalkan dunia, engkau masih dibutuhkan oleh dunia. Bawalah Cupu Manik Astagina yang telah Ku-genggam, namun cupunya saja. Isilah dengan air kehidupan dunia yang telah tersimpan dalam jiwamu. Cukuplah dunia akan diruwat oleh air yang telah Ku-simpan pada jagadmu yang diisi ke dalam wadah, Cupu Manik Astagina.”
Isi Cupu Manik Astagina yaitu : Nuur, tetap digenggam oleh Allah swt. Maka turunlah Begawan Wisrawa, dari Nirwana kembali ke bumi. Dengan membawa Cupu Manik Astagina yang isinya Air Kehidupan Dunia.
Untuk selanjutnya, Cupu Manik Astagina yang berisi air kehidupan dunia ini, kita sebut sebagai Cupu Manik Banyu Kahuripan.
Adalah sebuah hukum yang belum selesai dari setiap Nabi dan Rasul, turun ke muka bumi ini.
Cupu Manik Banyu Kahuripan ( Cupu Manik Astagina II )
Setelah Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesih dengan sempurna menggunakan Atma yang dikirim oleh Batara Narada dari puncak Nirwana. Sang Begawan naik harkat, jadi Batara.
Batara Wisrawa berkunjung ke Nirwana membawa amanah Hing Murbeng Agung, untuk membawa Cupu Manik Banyu Kahuripan. Yaitu ”Cupu” yang berisi paduan air kehidupan dunia dengan cahaya permata sendu yang ada di Nirwana.
Pada saat Batara Wisrawa berkunjung ke Nirwana, sang Atma membawa fisiknya yang asli, jiwanya yang asli, fikirannya yang asli. Walaupun fisiknya yang biasa, yang dilahirkan bersila, bertapa di dalam pengosongan raga, mati raga. Namun manakala tugas mendidik anak-anaknya memanggil, maka sang Batara harus membawa serta fisik yang dilahirkan, bukan fisik atma. Karena fisik yang dilahirkan lebih pandai dalam menyampaikan ungkapan-ungkapan, ucapan-ucapan, kata-kata. Jadi, kebohongan manusia pada dasarnya berangkat dari ingin memperindah kata-kata dalam semua masalah. Ingin ”memoles” permasalahan yang diungkapkan, supaya lawan bicara tertarik.
Hal ini, sekalipun pas dengan kebenaran hakiki, ungkapan-ungkapan estetika, dialektika manusia, itu di hadapan Allah adalah dosa-dosa kecil yang tidak terasa. Oleh karenanya Rasulullah saw bersabda : ”Bahwa diam itu adalah emas.” Diam yang dimaksud di sini bahwa pada dasarnya fisik manusia kalau ada keinginan, tidak menyatakan secara langsung yang sesungguhnya. Harus melalui cara penyajian yang berhiaskan kalimat-kalimat yang memberikan keyakinan pada lawan bicaranya.
Demikianlah Batara Wisrawa, dalam mendidik anak-anaknya, tanggung-jawab pada masyarakat, harus bangun dari tapanya. Sepenuhnya dengan fisik daging hasil proses pembuahan kedua orangtua-nya.
Dan manakala Cupu Manik Banyu Kahuripan di bawa kembali, mengalirlah cahaya-cahaya permata surgawi. Menyinari alam raya ini, menyinari semua planet. Dan anehnya, planet-planet lain, begitu terbiasi, teradiasi oleh cahaya Cupu Manik Banyu Kahuripan, maka dengan jelas kegelapan planet tersibak! Benderang oleh cahaya Cupu Manik Banyu Kahuripan ini, bukan oleh cahaya matahari.
Namun manakala sang Batara sampai ke bumi, cahaya itu lebih banyak lagi yang keluar, meradiasi, menyoroti, tapi tidak benderang di muka bumi ini, tidak bercahaya, diterima oleh muka bumi ini. Karena cahaya ini ternyata masuk langsung ke dalam hati manusia, ke dalam jiwa manusia, ke dalam kerinduan secara massal kepada Yang Menciptakan di bawah sadar manusia. Menyinari pemikiran-pemikiran manusia untuk berbuat baik, menciptakan strategi untuk menyajikan kebaikan.
Maka seluruh umat manusia memiliki keinginan untuk menjadi baik, ingin menyayangi semua umat, walaupun cahaya ini bergelombang di balik kesadaran masing-masing manusia.
Manakala sang Batara bertapa, cahaya itu semakin bersinar, meradiasi semua permukaan bumi dan manusia itu sendiri. Yang tadinya induk-induk hewan hanya menyusui, tanpa kuasa untuk terus mendampingi hingga anaknya besar. Dan diam tak berdaya, tatkala baru saja melahirkan, harus melayani ajakan senggama dari pejantan. Namun Hikmah dari Cupu Manik Banyu Kahuripan ini, membuat induk-induk hewan dengan sabar menanti, menghantar anak-anaknya hingga besar. Dan ada kekuatan untuk berjuang melawan ajakan senggama sang pejantan. Dalam Islam, lahirnya Hukum Syariat ”Nifas.”
Bunga-bunga yang tadinya cepat kuncup, enggan kuncup! Dia menuntut pada pencipta untuk menjadi buah. Maka beribu habitat jenis bunga, yang tadinya hanya sampai mekar dan layu, berlanjut menghasilkan berupa buah. Buah-buahan pun yang tadinya sekedar manis, menjadi sangat manis. Sebuah proses alam, evolusi alam raya.
Manakala sang Batara bertapa, saat itu pula jiwa-jiwa manusia berbunga dengan harapan-harapan masa depan yang gemilang, bergerak dalam membangun Dharma, amal Ibadah. Untuk menghasilkan buah bagi dirinya sendiri, buah keimanan bagi dirinya sendiri ataupun buah keimanan bagi umat manusia.
Manakala sang Batara bangun dari tapanya, hewan dan tumbuh-tumbuhan riang gembira dalam memperbesar masing-masing fungsinya.
Namun demikian, Batara Wisrawa sendu. Batara Wisrawa melihat keberkahan cahaya ini diterima oleh semua pihak. Mengapa anak-anakku tidak menerima cahaya ini?
Sebuah pertanyaan yang paling menyakitkan, yang tersembunyi di balik jiwa Batara Wisrawa. Kesakitan bertambah sakit dan luka, karena tak mampu mengadu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tak mampu memohon kepada-Nya, kalau ada hubungannya dengan anak-anaknya. Jeritan hatinya hanya diobati oleh kesempurnaan cinta kepada anak-anaknya. Suara hatinya bergelora, dalam kesakitan.
”Wahai anakku Rahwana, hanya cinta ayahmu yang dapat menghantarmu. Hanya cinta ibumu yang dapat menghangatkan, dalam membesarkan dirimu.”
”Wahai anakku Sarpa Kenaka, aku tak mampu menghantar engkau dengan cahaya cinta yang kugenggam, tetapi engkau akan kuhantar dengan kekuatan cinta yang kukumpulkan, yang aku besarkan, yang aku rawat dengan segala pengorbanan.”
”Wahai anakku Kumbakarna, tidurlah engkau dalam cintaku, tidurlah engkau dalam genggaman ibumu.”
Itulah. Hanya suara hati yang meronta!
Karena Titis tulis Hing Widhi, tak mampu diubah. Anak-anaknya mengalir, terpenjara oleh takdir yang tak mampu dibedah.
Sang waktu pun bergulir terus, Batara Wisrawa membelainya dengan tapa dan tugas membesarkan anak-anaknya, serta berangkat dan pulang ke Nirwana. Setiap pulang dari Nirwana, cahaya Kesucian Permata Sendu bertambah camerlang, yang tersimpan dalam Cupu manik Banyu Kahuripan. Maka habitat hewan dan tumbuhan terus berkembang dan berkembang. Manusia pun keturunannya bertambah dan berkembang, meramaikan hiruk pikuk kehidupan di muka bumi.
Cupu Manik Hayuningrat (Cupu Manik Astagina III)
Sementara Batara Wisrawa mengisi waktunya dengan tapa dan tugas mendidik anak-anaknya. Di lain tempat, ada satu negeri. Kerajaan, yang memiliki seorang Puteri yang sangat cantik jelita, Dewi Windradi (Retna Windradi, dalam wayang), tengah diperebutkan oleh para raja, para pangeran, para satria ataupun para pembesar negeri lainnya. Dan sang raja, ayahanda Dewi Windradi begitu terpukau oleh kegagahan raja-raja yang melamar. Sang Dewi pun dipanggil oleh ayahandanya.
”Wahai anakku, Dewi Windradi. Engkau telah mekar, Wanodya yang sangat cantik. Betapa seluruh dunia mengagumi kejelitaanmu, sudah saatnya memilih mereka, menjadi calon suamimu.”
”Anakku Dewi Windradi”, berkata pula ibunya, ”Ibumu dulu memilih ayahmu sebagai tempat menumpahkan kasih sayang. Sebagai kawan dalam berjalan, sebagai sahabat di dalam kegembiraan. Dan, Engkau lahir karena itu semua wahai anakku.”
Namun sang anak meronta, menangis. Menolak!
Dan semua raja, semua pangeran, semua ksatria atau siapapun yang melamar di tolaknya. Marahlah kedua orang-tuanya, hingga ia pun akhirnya diadili oleh kedua orang-tuanya.
”Anakku Dewi Windradi, engkau telah mencemari namaku sebagai Raja. Penolakan engkau adalah penghinaan. Penghinaan engkau kepada ayahmu berarti penghinaan raja-raja kepada aku. Engkau telah melawan ayahmu!”
”Wahai ayahku, engkau bapakku ternyata lebih mencintai penghomatan sebagai raja, daripada cinta kepada anakmu”, jawab Dewi Windradi.
”Engkau lebih mencintai penghormatan dari umat, dari masyarakat, daripada cinta padaku. Aku pun, anakmu, harus mengakui bahwa aku lebih menghormati cinta Hing Murbeng Asih daripada aku menerima cintamu sebagai ayah. Dan matahatiku lebih jelas sekarang, wahai ayahku. Engkau tidak mencintai aku, tapi engkau memanfaatkan aku demi ambisimu sebagai raja! Namun hatiku bertambah peka. Betapa cinta Hing Murbeng Agung lebih tinggi, lebih agung, daripada engkau wahai ayahku.”
”Dewi Windradi!” sang ibu terpekik, ”Oh anakku, engkau jangan melawan ayahmu, walau bagaimanapun juga engkau sudah kami besarkan dalam pelukan cinta dan belaian kasih, mengapa engkau melawan?”
Dengan tenang, bahkan terlalu tenang, Dewi Windardi menatap Ibunya, namun dengan bibir yang agak tergetar.
Dewi Windradi menjawab.
”Wahai Ibuku, aku tahu. Ibu, di dalam kamar hatimu, tersimpan cinta kepada suamimu dan kepadaku sebagai anakmu. Engkau tersudut oleh dua kekuatan cinta, yang kadang-kadang seimbang, yang kadang bertengkar. Wahai Ibuku, Engkau menderita karena pertengkaran cinta kami. Karena itu Ibu, persembahkan kembali pertengkaran itu pada Hing Murbeng Asih. Jangan Ibu tersiksa oleh cinta pada suami dan cintamu kepada aku.”
Sang ayah bertambah murka!
”Dewi Windradi, ternyata engkau adalah anak yang sia-sia, berarti engkau adalah anak yang durhaka! Maka enyahlah dari Istana ini! Aku sudah tidak memiliki anak seperti engkau. Adik-adikmu, kakak-kakakmu, masih banyak yang akan mencintai aku. Dan juga adik-adikmu akan lahir. Akan lahir kembali bayi yang lain. Yang akan lebih mencintai aku daripada Engkau. Enyahlah engkau dari Istana ini!”
Sang Ibu terpekik! Sang Dewi tercekat! Sekilas tampak kilatan di matanya yang bening dan tenang, namun dalam sekejap sinar matanya kembali tenang. Setenang permukaan danau tanpa riak oleh buaian sang bayu, dengan tatap seolah tanpa ada kejadian apapun yang menimpa dirinya. Dewi Windradi, sambil langsung menatap mata sang ayah, dia berkata/
”Wahai ayahku, terima kasih atas jasamu dan perlindunganmu selama ini, itu tidak akan kulupakan, menggores dalam jiwa ini. Dan suatu saat akan aku ungkapkan kepada Hing Murbeng Agung bahwa engkau telah mencintai dan menyayangi aku. Namun akupun akan mengadu pada Sang Dewata Agung, bahwa engkau pun telah menjualku demi ambisimu. Aku, bukan barang, tapi harkat dan hati yang diciptakan oleh Hing Murbeng Agung. Karena ayah menganggapku barang, maka izinkanlah sang barang ini mengucapkan selamat tinggal.”
Maka Dewi Windradi pun meninggalkan istana. Sang Ibu menangis, meronta! Cinta kepada anaknya diputuskan oleh cinta kepada suaminya.
”Suamiku, mengapa engkau kejam seperti itu. Aku lebih tersiksa dari kedurhakaan anak kita, dan cinta inipun mudah-mudahan tidak selamanya utuh padamu. Semoga cinta aku kepadamu wahai suamiku, dibawa oleh cinta Dewi Windradi.”
”Isteriku”, kata Sang Prabu, ”Engkaupun harus tunduk padaku. Seorang isteri adalah kaki dari tubuhku, seorang isteri adalah lutut dari tubuhku, seorang isteri adalah dada dari tubuhku. Aku tidak takut kehilangan jari dari tubuhku, masih ada dada yang lain, masih ada punggung yang lain. Beribu kecantikan wajah, siap untuk diperisteri olehku. Enyahlah engkau! Kalau memang kau lebih mencintai Dewi Windradi.”
”Wahai suamiku cintaku tak utuh, kalau aku bersujud pada Hyang Widhi, namun cintaku utuh kembali, manakala aku menyujudi dirimu sebagai suamiku. Biarkanlah, aku memilih menyujudi Hing Murbeng Asih, supaya aku tidak tersiksa oleh cinta kepadamu. Izinkanlah cinta ini, yang telah kupersembahkan kepada Tuhan. Mengucapkan salam perpisahan, wahai suamiku.”
Sang isteri pun meninggalkan istana. Kepergian kedua wanita ini, masing-masing dengan langkahnya, dengan tujuannya yang belum jelas. Dewi Windradi dan Ibunya, masing-masing melangkah, pergi tak tentu arah. Sekedar mengikuti ujung jari kakinya.
Sang Prabu di Istananya yang megah. Resah, gelisah, berbagai perasaan bergolak di dadanya membakar jiwanya. Sebagai raja, dia merasa tak disujudi oleh hambanya, sebagai suami dia merasa betapa kelelakiannya dicampakkan begitu saja, sebagai ayah betapa dirinya dianggap sepi oleh sang anak. Pergolakan perasaan yang demikian dahsyat dimana antara keangkuhan, merasa terhina dan dilecehkan, silih menyusul, memadu, dan tumpang-tindih dalam jiwanya. Hingga menghempaskan sang Prabu pada suatu dendam. Dendam yang sangat tinggi! Dendam yang menghanguskan jiwanya, dendam yang menghujat dirinya sebagai raja! Dendam sang Prabu kepada Isterinya, untuk sementara waktu terobati dengan mengambil wanita cantik sebagai selir. Nafsu syahwat, keangkuhan lelaki dari sang raja, itu adalah hiburan dalam mengurangi dendam kepada mantan isterinya.
Tetapi dendam kepada Puterinya, tak ada obatnya! Cinta kepada anak tak mampu digantikan atau dialihkan kepada siapapun manusianya. Secinta apapun pada orang lain yang dianggap sebagai anak, tidak seindah dan sekokoh cinta kepada anak yang dilahirkan. Ini hukum alam. Namun, Seandainya manusia bisa mencintai anak yang tidak dilahirkan, itu berarti sedang meraih cinta Allah subhanahu wa ta’ala.
Dendam Sang Prabu sebagai ayah, tak mampu terobati. Karena cinta pada anak yang dilahirkan tak bisa dipungkiri, lebih tinggi gejolaknya daripada cintanya kepada anak yang tidak dilahirkan. Dan pada puncak dendamnya, sang raja pun menjatuhkan perintah kepada pasukan pilihan, melalui Senopati tertinggi untuk menangkap Dewi Windradi.
Maka langkah gontai dengan segala penderitaan Dewi Windradi berhadapan dengan pasukan pilihan dari ayahandanya. Sang Dewi pun dikembalikan ke Istana, sebagai tawanan! Dan dipenjarakan di bawah tanah, di bawah istananya sendiri.
”Anakku engkau harus menerima ganjaran atas dosa-dosamu. Bagi Sang Dewa, wahai anakku, lebih senang kepada aku sebagai raja daripada kepadamu, kepada anak durhaka. Supaya sang Dewa membebaskan dosa-dosamu. Sang Dewa bersabda kepadaku, supaya memenjarakan engkau di bawah tanah.”
”Ayah. Aku terima, aku siap dipenjara. Bukan atas nama Dewa, tapi atas nama cinta Ayah, cinta Ibu. Aku siap dipenjarakan karena hutang cinta dan perawatan saat aku dilahirkan hingga dewasa. Dan akupun yakin sang Dewa akan membebaskan diriku, manakala hutang ini telah selesai.”
Sang Dewi pun dipenjara dengan senyum kepasrahan. Dan disuatu saat, dalam salah satu kunjungan Ayahandanya ke tempat dia dipenjarakan, Sang Dewi menyampaikan isi hatinya kepada sang Prabu.
”Wahai Ayahanda”, ujar sang Dewi, ”Izinkanlah aku mengungkapkan isi hatiku. Ayahku, kenapa aku menolak dijodohkan. Aku tak mengerti apa yang dikatakan cinta kepada lelaki. Jiwaku dan perasaanku tidak tahu tentang cinta itu sendiri, walau kawan-kawanku berkata tentang Ksatria yang gagah dengan segala keceriaan dan perasaan. Di relung jiwaku, tak ada perasaan cinta seperti itu. Manakala kawan-kawanku bercerita tentang kegagahan lelaki, tubuhnya, keindahan wajahnya dan kesaktiannya. Sekali lagi, di relung hatiku tak mempunyai perasaan kagum kepada mereka. Dan, saudara-saudaraku yang telah menikah, bercerita tentang kenikmatan hubungan suami-Isteri di ranjang. Akupun tak punya perasaan seperti itu, wahai Ayahku. Cinta dan syahwat, barangkali bukan milikku. Biarkanlah aku merdeka dari cinta dan syahwat. Hanya itulah wahai Ayahanda, yang perlu engkau ketahui kenapa aku menolak permintaanmu. semoga hal ini mengurangi murkamu”, Demikian Dewi Windradi.
Dalam penjara bawah tanah, dalam ruang yang sempit, sang Dewi bertapa.
Diantara kerinduan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kerinduan kepada Ibundanya yang telah tiada di istana dan rasa memaafkan kepada ayahandanya. Memadu dalam tapanya. Maka rukhnya, jiwanya, keluar dari badannya.
Fisiknya di penjara tapi rukh dan jiwanya keluar, bebas dari penjara. Begitu keluar dari penjara, ternyata rukh dan jiwanya melihat cahaya. Cahaya itu pun diikutinya. Dan akhirnya dari perjalanan mengikuti cahaya itu adalah, tatkala ternyata cahaya tersebut masuk ke dalam diri seorang wanita, seorang ibu yang sedang menjaga anak-anaknya. Begitu masuk ke tubuh wanita tersebut yang ternyata adalah Dewi Sukesih, Dewi Windradi bertanya, ”Kakanda. Aku datang mengejar cahaya. Cahaya itu masuk ke dalam tubuhmu, cahaya apakah itu?”
Dewi Sukesih karena sudah memakai Atma, lulus dalam Sastra Jendra dan sudah mendapat ridho para Dewa. Cepat menangkap maksud Dewi Windradi ini.
”Wahai anakku, engkau telah hadir. Kerinduan aku tentang anak, dambaan aku tentang anak yang memiliki keindahan bathin dan keindahan hati. Sang Dewa mengutus engkau sebagai anakku. Engkau adalah anakku yang tidak pernah kulahirkan. Rukhmu, Jiwamu adalah anakku. Manakala aku menjelang masuk ke Surgawi. Dalam tubuhku meronta seorang bayi, namun aku belun tersentuh lelaki. Tubuhku meronta, menolak engkau hadir dalam kehamilan. Engkau adalah anakku, bayi yang kurasakan sejak di perbatasan Nirwana. Karena sang Dewa mendengar rontaan hatiku. Kehamilanku diambil alih oleh seorang wanita yang kau kenal sebagai ibmu. Engkau adalah anakku, darah dagingku, jiwaku”, Dewi Windradi pun dipeluknya.
Dalam Mutasyabih…….., Adam dan Hawa sebelum ”tragedi qolbi”, diperintah Allah swt untuk saling berkasih sayang atas dasar kasih sayang kepada-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala (seks suci dalam ridho-Nya) Adam dan Hawa saling berpelukan, saling meremas tangan. Pembuahan pertama terjadi di surga. Pembuahan ini ”terpotong” oleh tragedi qolbi. Maka saat Adam dan Hawa di bumi, diperintahkan kembali untuk saling meremas tangan dalam semacam buah, sebesar buah kelapa, dan beberapa tahun kemudian, lahirlah Nabi Tsys as.
Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesih, saat gagal digoda oleh Batara Guru, sebenarnya jiwa masing-masing sudah saling bermesraan. Walau tanpa sentuhan fisik. Saat ini terjadilah ”pembuahan” di bumi, terlahir jabang bayi, Dewi Windradi.
”Yang Maha Agung, Yang Maha Esa. Betapa Engkau mengabulkan kerinduan kepada anak-anakku. Sarpa Kenaka, biarlah terpenjara oleh kemurkaan Engkau. Tetapi anakku yang satu ini adalah Sarpa Kenaka yang telah Engkau selamatkan. Terima kasih, Duhai, Yang Maha Agung”, Demikian doa syukur dari Dewi Sukesih.
”Ibuku, akupun merasa, betapa saat aku dibesarkan oleh ayahku dan ibuku. Aku merasa terasing dalam Istana. Kasih sayang mereka tetap kurasakan, tetapi keterasingan jiwa ini, keterasingan fikiran ini seolah-olah aku bukan anak mereka. Hari ini, ternyata Maha Dewa telah mempertemukan aku dengan Ibuku sejati.”
Demikianlah proses Ibu dan anak yang tidak pernah dilahirkan, namun dititipkan sebagai ”anak titipan.”
”Wahai Ibuku”, kata Dewi Windradi, ”Cahaya yang lebih terang, telah hadir di hadapanku. Izinkan aku nengikuti cahaya ini.”
Dan setelah mendapat restu dari sang Ibu, Dewi Windradi pun mengikuti cahaya itu. Ternyata, cahaya itu berasal dari Batara, Wisrawa yang sedang bertapa. Dan Batara Wisrawa ternyata lebih memahami makna kehadiran sang Dewi.
”Selamat datang wahai anak jatidiriku. Engkau telah menggembirakan aku dari kesakitan tentang anak-anaku yang terpenjara. Selamat datang Puteriku, engkau telah membebaskan penderitaan aku dari kecintaan yang dalam kepada Sarpa Kenaka. Engkau adalah jelmaan Sarpa Kenaka yang telah terbebas dari penjara. Engkau lahir dari ukiran cinta kami berdua, engkau lahir dari keikhlasan kami berdua, engkau dari kepasrahan kami berdua. Dan saudaramu Sarpa Kenaka adalah lahir dari ukiran syahwat kami berdua, syahwat yang telah kami renda bersama. Engkau adalah hasil ukiran keikhlasan kami di hadapan para Dewa. Izinkanlah, aku memelukmu, wahai Puteriku.”
Manakala Batara Wisrawa memeluk Dewi Windradi, terjadilah kekuatan yang hebat! Dewi Windradi naik, mengangkasa. Jejak-jejak dari sang Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesih, jejaknya sampai ke Nirwana. Diulang kembali oleh Dewi Windradi.
Sang Dewi pun berangkat. Langit demi langit, alam demi alam, nilai demi nilai, terarungi. Sastra Jendra Hayunjngrat jelas mengalir di jiwa dan perasaannya. Langsung dimengerti dan dipahami, tanpa terjemah dan tanpa penjelasan. Karena Nurani Sang Dewi adalah suara para Dewa di Kahyangan. Nurani Dewi Windradi adalah perwakilan cinta yang diukir oleh Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesih. Maka sampailah Dewi Windradi di perbatasan Kahyangan. Sampai di pintu Ar-Royan, Sela Menangkep. Gerbang Loka dari Surga, Gerbang loka dari kesempurnaan nikmat.
Para Dewa gempar! Para Bidadari ramai!
”Itu ada anak manusia datang kembali akan mencoba masuk ke Nirwana ini”, kata salah satu dari para Dewa.
Sebagaimana biasa, Batara Narada bicara dengan adiknya, Batara Guru.
”Dindaku Batara Guru, engkau ada tugas. Halangilah anak manusia itu. Masuklah ke jagad jiwanya, godalah kewanitaannya. Agar dia gagal masuk ke Nirwana ini.”
Namun betapa kaget batara Guru, tatkala dirinya mencoba masuk ke jagad jiwa Dewi Windradi. Batara Guru mental kembali ke Nirwana.
”Wahai kakanda Batara Narada, aku gagal masuk ke jagad jiwanya. Pintu kewanitaannya tertutup rapat, segala daya sudah kuusahakan. Namun kekuatan tak terlihat keluar dari jagad bathinnya.”
Batara Narada bingung. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?
”Adikku Batara Guru, barangkali engkau terpukau oleh pintu kewanitaannya?”
”Oh tidak Kakanda! Aku mengerti tentang keangkuhan wanita, tentang feminim, tentang harkat wanita. Tentang wanita yang merindukan, aku mengerti, aku memahami. Tetapi ada kekuatan yang mengusirku kembali ke tempat ini”, kata Batara Guru.
”Kalau demikian, aku akan mengadu kepada Hing Murbeng Agung yang berada dipuncak Surga”, demikian Batara Guru.
”Kahatur Hing Murbeng Agung, apa dan bagaimana Engkau tahu tentang semua, yang ada dalam jagad tamu yang satu ini. Berikanlah penerangan.”
Maka Hing Murbeng Agung, Tuhan Yang Maha Esa, berfirman :
”Para Dewa yang berada di Nirwana, engkau semua harus malu pada manusia yang akan masuk ke Nirwana ini. Dewi Windradi, sebuah nama yang sudah tertulis di Marcapada, Kahyangan. Namanya sudah tertulis dengan jelas. Wahai Para Dewa! Dewi Windradi adalah nama, yang sudah terukir dalam kalam-kalam-Ku, tulisan-Ku. Manusia itu masuk ke Nirwana ini oleh daya tarik tulisan-Ku. Kalau engkau menahannya, berarti engkau harus melawan Aku, Yang Menciptakanmu.”
Maka semua para Dewa bersujud patuh, para Bidadari menangis pilu, tangisan rindu untuk menjemput Dewi Windradi.
Dalam pada itu, firman turun lagi :
”Wahai para Dewa, sebenarnya Dewi Windradi hanya mengambil tulisan namanya yang ada di Nirwana. Tetapi Dewi Windradi masih punya tugas di muka bumi, belum saatnya menikmati kenikmatan surgawi, belum saatnya bercengkerama dengan rahmat-Ku. Terimalah sementara, di singgasana Nirwana bersamamu. Namun Aku akan menciptakan Dewa baru untuk menemani sang Dewi.”
Kembali pada ”Cupu Manik Astagina.” Astagina ini isinya adalah puji-puji untuk Allah, Nuur Muhammad. Kesempurnaan cinta Allah berkumpul dalam ”Cupu Manik Astagina.”
Maka cahaya yang diambil kembali, cahaya dari Permata. Dan air kehidupannya, diambil oleh Begawan Wisrawa. Cahayanya diambil kembali oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Didalamya ada sumber cahaya dari segala cahaya. Astagina adalah Maha Terpuji, dari energi Asma-Nya mengalir puji-pujian Astagina.
Hing Murbeng Agung menciptakan Dewa baru dari cahaya tersebut yang namanya Batara Surya (Batara Indra).
Manakala para Dewa, para Bidadari terpekik kagum, dewi Windradi pun tak terkecuali. Terpesona kepada Batara Surya. Dalam jiwanya sang Dewi berkata :
”Betapa indah yang satu ini. Lebih indah dari Nirwana ini.” Dan ternyata ungkapan bawah sadar ini, terucapkan secara lisan.
”Benar wahai Dewi Windradi”, kata Batara Narada.
”Betul wahai Dewi Windradi”, kata Batara Guru,
”Lebih indah dari keindahan Nirwana beserta isinya.”
Ksatria lelanang Jagad, Batara Surya, tersenyum. Senyuman yang menggelisahkan para Bidadari yang ada di surga.
Sang Dewi pun berkata,
” Wahai,……Dimanakah cahaya yang aku kejar sejak dari bumi?”
”Cahaya itu tidak ada di surga ini”, jawab Batara Narada, ”Sudah diambil oleh Hing Murbeng Agung, dalam Cupu Manik Astagina.”
”Izinkanlah aku masuk ke sana”, pinta sang Dewi.
”Tidak bisa”, berkata Batara Guru, ”Kami pun tak mampu, apalagi engkau, wahai Dewi Windradi.”
”Wahai wanita”, berkata Batara Surya, ”Hadapi aku, kalau mampu menghadapi aku, maka engkau berhak untuk naik lebih tinggi lagi. Menuju Yang Maha Pencipta.”
Pada saat Batara Surya berkata-kata, jiwa sang Dewi bergetar!
”Inikah cinta, yang tidak pernah aku miliki selama ini? lnikah syahwat? Yang tidak pernah mampu aku miliki di bumi?”
Getaran-getaran ini melumpuhkan sang Dewi. Sang Dewi terduduk, merunduk.
”Wahai para Dewa, aku kalah! Jangankan datang pada surga yang lebih tinggi tempat Cupu Manik Astagina. Berhadapan dengan Batara Surya pun, aku sudah tak mampu.”
”Wahai Batara Surya, apakah perasaan, seperti yang aku rasakan ini?”
”Itu adalah cinta”, kata Batara Surya.
”Dan apa yang menggetarkan darah dagingku?”
”Itu adalah syahwat.”
”Wahai Batara Surya, dosakah aku memiliki ini semua?”
”Tidak dosa, malah anugerah. Cinta dekat di tempat ini, namun syahwat engkau harus buang dari tempat ini.”
”Bagaimakah cara membuangnya, wahai Batara Surya?”
”Karena itu engkau belum saatnya menikmati surgawi ini. Kau harus membuang syahwat di muka bumi, supaya kegairahan kehidupan manusia bumi bertarnbah gejolaknya dan cepat menurunkan keturunan sebagai khalifah di muka bumi.”
”Berikanlah keindahan hubungan suami-isteri dengan illusi-ilusi yang hadir dalam perasaan. Buanglah syahwatmu wahai Dewi Windradi, supaya para isteri bertambah mesra dengan suaminya.”
”Buanglah syahwatmu wahai sang Dewi, supaya para isteri walaupun sakit oleh suaminya, tetap setia dalam menghadapi rumah-tangga. Syahwatmu akan mengikat rumah-tangga agar tetap setia sebagai isteri. Supaya anak manusia terlindungi dan terawat oleh Ibu dan Ayahnya. Karena asmara yang engkau buang pada jiwa-jiwa mereka.”
”Tumpahkanlah wahai sang Dewi Asmara ini, Asmaradana akan merekah di muka bumi. Dan engkau bisa kembali tanpa syahwat. Hanya cinta”, Demikian Batara Surya.
”Wahai Batara Surya, cinta ini, untuk siapa?”
”Wahai sang Dewi. Cintamu untuk siapa. Tanyakan pada hatimu, cinta itu untuk siapa.”
”Untuk tempat ini, dengan segala kenikmatan”, kata sang Dewi.
”Bisa, tapi bukan”, jawab Batara Surya.
”Untuk para Dewa yang berada di sini?”
”Benar, tapi tidak.”
Dan dengan malu-malu, ”Untuk engkau, Batara Surya.”
”Kuterima. Tapi aku tak mampu menerima.”
”Lalu untuk siapa wahai Batara Surya?”
”Untuk Yang Menciptakan kita, Hing Murbeng Agung. Maka ungkapkanlah perasaan itu pada Sang Maha Pencipta.”
Dewi Windradi mengerti dan memahami. Maka bersujudlah memohon ijab qabul denganTuhan Yang Maha Esa.
”Wahai Sang Hyang Agung, Rajanya para Dewa, Terimalah cinta ini, hanya untuk Engkau.”
Turunlah f irman-Nya :
”Dewi Windradi, betapa aku tak sia-sia menciptakan engkau. Betapa aku bangga pada diriku sendiri. Engkau telah membuktikan bahwa Aku adalah Segalanya. Bagi-Ku sendiri apalagi bagi mereka, para Dewa ciptaanku. Dan engkau adalah milik Aku, Kuberikan dengan izin-Ku pada semua para Dewa. Dan akan aku berikan keindahan cintamu, hanya pada seseorang.”
”Siapa?”
”Dia ada di hadapamu, mengerti Dewi Windradi? Dia itu, Batara Surya.”
Batara Surya menjawab :
”Aku menerima. Yang tadinya aku menerima tapi tak bisa merangkul, tapi sekarang aku terima. Engkau adalah isteriku. Kita telah dinikahkan oleh Yang Menciptakan kita. Aku adalah suamimu. Dan mereka, para Dewa dan para Bidadari adalah saksi, pernikahan agung di surgawi ini.”
Dewi Windradi dengan puncak kebahagiaan di atas Sastra Jendra Yang paling bahagia, Hayuningrat. Hayuningrat kewanitaannya sempurna.
Dikatakan Hayuningrat adalah : Suasana-suasana dialog ini semua, mulai dari Dewi Windradi naik ke Nirwana, dialog dengan para Dewa, Firman Allah. ltu semua adalah Hayuningrat. Tanpa ada lagi ”pangruwating” karena sang Dewi dilahirkan tanpa diruwat lagi. Lahir dari ukiran-ukiran cinta, kasih-sayang Batara Wisrawa dan Dewi Sukesih.
Bisakah kita melahirkan anak tanpa diruwat lagi?…..Bisa. Dewi Windradi adalah bukti, anak yang langsung tanpa ruwat. Langsung ada dalam wadah Hayuningrat Sastra Jendra adalah proses pencarian nilai-nilai, dalam mengejar sinar.Penjelajahan Ihdinas shirothol Mustaqim.
Dialog Dewi Windradi dengan Bapaknya, dengan Ibunya, diusir dari Istana, di penjara tubuhnya. Keluar rukh dan jiwanya dari penjara, bertemu dengan orang-tua sejati, berangkat ke langit-langit sampai masuk Nirwana. lni semua adalah Hayuningrat.
Suasana dialog selanjutnya adalah Hayuningrat. ltu adalah kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan kenikmatan illusi. Kenikmatan duniawi sebenarnya adalah kenikmatan illusi, manakala kita makan, lidah kita merasakan nikmat. Kita menikmati dengan kenyang. Kenikmatan seksual suami-isteri. ltu semua adalah kenikmatan illusi. semua kenikmatan dunia pada dasarnya adalah illusi, bayang-bayang atau wayang. Senda-gurau dan permainan. Dalam Al-Qur’an dikatakan ”lahun walaib.” Saat sang Dewi akan mengecap kebahagiaan yang sempurna, dirangkullah Batara Surya, suaminya. Saat itu pula turun firman :
”Wahai Dewi, wahai Batara Surya, belum waktunya engkau menikmati kebahagiaan, walaupun Aku yang telah menikahkan. Tapi engkau belum mampu bersenggama dengan rasa, bersenggama dalam rukhani, bersenggama dalam fikiran. Di surga tidak ada daging dan kelamin. Pulanglah engkau Dewi, bawalah ’Cupu Manik Astagina’ yang isinya cahaya Hayuningrat.”
Maka sejak saat ini, telah datang duplikat kedua ”Cupu Manik Astagina.”
Untuk selanjutnya Cupu Manik ini kita sebut dengan ”Cupu Manik Hayuningrat”, yang dibawa oleh Dewi Windradi.
Sebagaimana firman-Nya :
”Wahai Dewi Windradi, bawalah ’Cupu Manik Hayuningrat’, supaya kehidupan di bumi walaupun illusi, akan ’adem-ayem’. Hayuningrat, akan membangunkan mimpi-mimpi indah dari kenyataan, akan membangunkan nikmat illusi menjadi kenyataan. Dan supaya Aku pun rindu, pada makhluk yang ada di muka bumi. Bawalah wahai Dewi Windradi.”
Dan manakala sang Dewi menerima Cupu Manik Hayuningrat. Batara Surya berkata :
”Wahai Dindaku menikahlah engkau dengan seorang lelaki di bumi. Engkau pun, akan punya anak tiga. Menikahlah dengan seorang lelaki Lelanang Jagad, Mandra Guna, Ksatria yang sakti, yang kini sedang bertapa. Namanya Resi Gotama. Engkau menikahlah dengan ksatria tersebut. Hiduplah sebagaimana seorang isteri, sebagaimana wanita yang dicintai oleh suami. Dan manakala suamimu meminta tubuhmu, berikanlah. Manakala benih suamimu hadir dalam rahimmu, terimalah sebagai anakmu yang akan lahir di muka bumi. Namun aku minta, anakmu yang akan hadir di perutmu, isilah dengan Hayuningrat. Suamimu Resi Gotama, biarkanlah, lepaskanlah dari Hayuningrat, karena sang Resi bertapa bukan mencari nilai. Sudah seratus tahun ksatria ini bertapa mohon pada sang Dewa agar diutus seorang isteri, bidadari dari Kahyangan. Maka hadirlah sebagai bidadari dari Kahyangan. Jangan berikan Hayuningrat pada suamimu karena sang Resi tafakur, berdoa, mohon pada sang Hyang Widhi, dalam tapa seratus tahun, untuk kepentingan syahwatnya, akan kerinduan kecantikan wanita surga. Tugasmu hanya satu, ruwatlah suamimu! ’angruwating Diyu’, keangkuhan lelakinya, dalam bertapa ruwatlah oleh engkau, wahai Dindaku”, demikian Batara Surya.
Sang Dewi pun berpamitan pada suaminya, Batara Surya, kepada para dewa yang berada di Nirwana. Turun dengan segala keindahan kecantikan. Seluruh kecantikan wanita yang dilahirkan di bumi, cahayanya di ambil alih ke dalam wajah rupawan dan keagungan dari Dewi Windradi ini.
Dewi Windradi Menikah Dan Lahirnya Guarsa (Subali), Guarsi (Sugriwa), Dan Retna Anjani.
Hari terakhir dari seratus tahun tapanya Resi Gotama. Pada hari jum’at jam l6.00, sore hari, terdengarlah sabda dari Batara Narada : ”Anakku Resi Gotama, tapamu di terima oleh kami. Terimalah persembahan kami, ini, telah datang dari Nirwana, Dewi Windradi.”
Selama seratus tahun, satu abad! Sang Resi tak pernah membuka matanya, namun saat itu, manakala matanya dibuka. Bersimpuhlah seorang wanita cantik di hadapannya.
”Sujud simpuhku, wahai Dewa Agung di Nirwana. Engkau mendengar jeritan kerinduan hatiku pada Bidadari Surga. Engkau memberikan penghormatan kepada kami wahai dewa-dewa Agung. Puji syukur untuk-Mu.” Maka bersujudlah Resi Gotama. Begitu sang Resi bangkit dari sujudnya :
”Selamat datang wahai isteriku.”
”Tidak perlu mengucapkan selamat datang”, jawab sang Dewi, ”Karena aku hadir lebih dulu. Dari dulu pun aku datang ke hadapanmu. Aku datang, terundang keyakinanmu. Engkau, suamiku dan aku, isterimu. Dekaplah aku, wahai suamiku.”
Tatkala sang Dewi dipeluk oleh Resi Gotama, maka munculah cahaya yang indah keluar memancar dari dalam diri kedua orang ini. Dan cahaya-cahaya ini, cahaya yang berasal dari Cupu Manik Hayuningrat, menggulirkan anak-anak manusia, dalam perut sang Dewi, walaupun belum bersenggama dengan suaminya. Tiga anak sekaligus hadir dalam rahim sang Dewi, dan langsung diberi nama oleh sang ayah, Batara Surya, di surgawi.
”Wahai Dindaku, anak kita telah hadir berilah nama Retna Anjani, Guarsa dan Guarsi.”
Hayuningrat, cahayanya menggelora. Cinta kasih dan syahwat sang Resi tertolak oleh cahaya Hayuningrat. Tetapi cinta yang dibawa dari surga, cinta kepada Batara Surya diterima oleh jagad bathin sang Dewi. Maka dalam rahimmya menetes benih-benih anak manusia.
Sang Dewi pun mengandung, disinari oleh cahaya Hayuningrat. Namun sang Resi merasa itu semua adalah anak kandungnya. Cinta pun menggelora, mengiringi dalam membesarkan ketiga anaknya. Perempuan satu, laki-laki dua. Yang paling besar Guarsa, kedua Guarsi dan Retna Anjani sebagai anak bungsu.
Dan manakala saat bersenggama dengan suaminya, sang Dewi pun memberikan tubuhnya. Yang berarti, tubuh Dewi Windradi yang sedang di penjara bawah tanah, dibawah Istananya sendiri. Pindah tempat ke peraduan di ranjang sang Resi, dan setelah selesai dengan suaminya maka tubuh sang Dewi pun, raganya, kembali ke penjara. Sang Ayah pun tetap melihat bahwa anaknya masih ada di penjara, di bawah istana.
Meskipun sang Dewi memberikan tubuhnya pada suaminya saat bersenggama namun tubuh Atma sang Dewi berkumpul kembali di Nirwana dengan suami sejatinya, Batara Surya. Atau masuk ke dalam Cupu Manik Hayuningrat, karena dalam cupu manik ini ada alam raya dan isinya, termasuk alam Nirwana bersama para Batara dan para Dewa.
Demikianlah Dewi Windradi menjalani hidupnya, menjadi isteri yang dicintai oleh suaminya Resi Gotama, dan memberikan tubuh aslinya (tubuh yang di lahirkan) manakala kewajiban sebagai isteri memanggilnya dalam persenggamaan dengan sang Resi. Dan manakala sang Dewi merindukan suami sejatinya, Batara Surya, Sang Dewi masuk ke dalam Cupu Manik Hayuningrat, menjelajahi alam raya, bersua dengan para dewa termasuk suaminya. Hingga anak-anaknya dewasa. Hingga suatu saat, Dewi Windradi merindukan suami sejatinya, Batara Surya.
Namun manakala masuk ke dalam Cupu Manik Hayuningrat, Cupu Manik terkunci dari dalam! Kerinduan yang tak tertahankan kepada Batara Surya, tak mampu diekspresikan karena Cupu Manik rapat terkunci dari dalam. Maka sang Dewi pun mengangkasa, melalui jalur yang jauh. Di puncak kegelisahannya, sang Dewi menggenggam Cupu Manik Hayuningrat ini, di bawa ke taman. Padahal selama ini tak ada yang tahu kalau sang Dewi memiliki Cupu Manik Hayuningrat. Karena Cupu Manik Hayuningrat ini oleh sang Dewi disimpan di jagad bathinnya. Namun saat itu, saat dilanda kegelisahan karena sang Dewi rindu kepada Batara Surya, Cupu Manik Hayuningrat dikeluarkannya dari jagad bathin, digenggam dan dibawa ke taman. Dan tanpa dikehendakinya, anak perempuannya, Retna Anjani yang sedang bermain-main di taman. Melihat keindahan cahaya yang sedang digenggam oleh Ibunya.
”Apakah itu, Ibu?”
”Ini adalah benda pusaka warisan Dewa.”
”Pinjamilah aku, Ibu.”
”Jangan anakku, ini milik Sang Dewi, bukan milik ibu.”
”Tapi berikanlah padaku, ibu”, Retna Anjani mulai merajuk.
”Jangan anakku.”
Retna Anjani adalah anak yang sedang lucu-lucunya. Maka dengan segala kelucuan dan kamanjaan rengekan seorang anak, Retna Anjani merebut pusaka dari tangan Ibunya. Dewi Windradi tak mampu melepaskan diri dari rasa kasih sayang seorang Ibu, kelucuan sang anak melonggarkan tangan dalam menggenggam Cupu Manik Hayuningrat.
Bagi seorang Ibu yang sudah berputra, dapat merasakan hal ini. Kelucuan dan rengekan anak ternyata menggoyahkan apa saja. Keangkuhan, kebanggaan seorang ayah dan ibu akan goyah oleh lucunya sang anak. Termasuk hal prinsip yang sedang digenggam dengan kokoh.
Pun demikian yang terjadi pada Dewi Windradi. Cupu Manik Hayuningrat lepas dari genggaman tangannya, karena kalah oleh rayuan lucu dari sang anak, Retna Anjani. Cupu Manik Hayuningrat dibawa bermain-main oleh Retna Anjani. Dan tanpa sengaja, terbukalah Cupu Manik Hayuningrat, sang anak pun masuk ke dalamnya (tersedot)
Retna Anjani mengangkasa, langit demi langit, alam dami alam dilaluinya hingga sampai ”Sela Menangkep” di Kahyangan dan bertemu dengan para Dewa. Maka terdengarlah firman dari Hing Murbeng Agung :
”Wahai para Dewa ! jangan engkau terpesona oleh kelucuan anak ini. Hai para Dewa ! betapa engkau melihat, betapa indah anak ini lebih indah daripada kenikmatan Nirwana dan cepat kembalikan ke bumi. Belum saatnya anak ini menikmati, akan merusak keindahan ”angkasa Nirwana”. Jangan biarkan anak ini menggagalkan keindahan Nirwana. Karena keindahan lucu anak-anak hanya milik mereka, manusia bumi. Tidak kuberikan kepadamu, wahai para Dewa.”
Retna Anjani pun turun kembali ke bumi dan keluar dari Cupu Manik Hayuningrat. Maka dimain-mainkan kembali Cupu Manik ini. Tatkala Retna Anjani tengah memainkan Cupu Manik ini datanglah kakak-kakaknya Guarsa dan Guarsi.
”Hai! Apa itu?”
Terjadilah perebutan diantara ketiganya. Masing-masing ingin memiliki, tidak ada yang mau mengalah, sampai salah seorang mengadu kepada ayahnya.
Sang Ayah, Resi Gotama, juga merasa aneh terhadap benda yang diperebutkan anak-anaknya. Maka ia pun bertanya kepada isterinya :
”Dindaku, benda apakah itu? Jangankan anak-anak kita, aku pun terpesona oleh benda itu.”
Sang isteri, Dewi Windradi tidak berkata-kata. Diam seribu bahasa.
”Wahai isteriku, berkatalah, jangan bungkam seperti itu. Benda apakah ini?”
”Ayah”, tiba-tiba Retna Anjani berkata pada ayahnya, ”Tadi aku telah pergi ke Nirwana. Aku bertemu dengan Dewa yang bernama. Batara Surya, katanya dia suami Ibu.”
Resi Gotama adalah seorang yang sangat sakti dan seorang yang teguh dalam kemauan. Cepat menangkap apa makna dari semua ini. Maka muncullah kecemburuan, merasa dikhianati, merasa dihancurkan sendi-sendi kehidupannya sebagai suami. Di puncak emosinya sang Resi melemparkan Cupu Manik Hayuningrat.
Cupu Manik Hayuningrat dilemparkan oleh rasa dikhianati dan rasa kecemburuan pada Batara Surya. Cupu Manik pun melayang di udara dengan derasnya dan jatuh di suatu tempat dalam keadaan terpisah. Tutupnya masuk ke dalam suatu hutan sedangkan badannya jatuh di lain tempat, di negeri Ayodya. Tutup Cupu manik Hayuningrat menjadi telaga Sumala, sedangkan badan dari Cupu Manik Hayuningrat menjadi telaga Nirmala. Dan cahaya yang ada di dalamnya memancar membias, menghiasi angkasa bumi ini. Menghiasi seluruh cakrawala dan isinya.
Ternyata cahaya ini meradiasi Alam Raya ini dan intinya masuk ke dalam diri isterinya, Dewi Windradi.
Sang Dewi diam, bungkam, dan menjadi batu! Menjadi Arca! Menjadi patung!
Manakala Dewi Windradi menjadi arca. berarti tugas dirinya membawa Hayuningrat untuk meruwat suaminya dan melahirkan anak-anaknya, selesai sudah. Dewi Windradi dengan cintanya pergi ke Nirwana dan meninggalkan syahwatnya di bumi ini. Pernikahan Agung dirayakan kembali dengan para dewa. Dewi Windradi hidup dengan bahagia yang sempurna di Nirwana.
Resi Gotama, walaupun sudah membuang Cupu Manik Hayuningrat beban emosinya masih dirasakan begitu berat. Maka arca dari Dewi Windradi ini dipukulnya, diinjak dengan segala kemarahannya. Tidak hanya sampai di sini, sang resi pun mengerahkan segala ilmunya, segala kesaktiannya. Patung Dewi Windradi dilemparkannya! Patung Dewi Windradi melayang tinggi sekali hingga membelah awan dan akhirnya jatuh, di negeri Alengka.
Cupu Manik Hayuningrat :
Tutupnya jatuh di sebuah hutan, kemudian berubah menjadi telaga Sumala. Yang berisi air kehidupan dunia yang keruh. Keruh oleh berbagai polusi nafsu manusia di dunia.
Cupunya jatuh di negeri Ayodya, berubah menjadi telaga Nirmala. Yang berisi air kesucian. Perpaduan air kehidupan dunia dengan ”sinar permata surgawi.”
Manakala Dewi Windradi menjadi patung, saat itu pula sang Dewi sempurna fisik yang berdarah dan berdaging, dan fisik ”Atma-nya” hadir di Nirwana bertemu dengan suami tercinta Batara Surya. Pernikahan Agung dirayakan kembali, para Dewa sebagai saksi, sampai menikmati kebahagiaan yang paling sempurna.
Dalam waktu yang bersamaan, saat sang Dewi menjadi patung. Tubuh Dewi Windradi yang di penjara di bawah istana ayahnya, hilang! Moksa. Manakala sang ayah datang seperti biasa, menengok anaknya. Sang Dewi lenyap tanpa bekas. Maka menangislah sang ayah dengan penyesalan yang dalam dan jerit permohonan ampun kepada para dewa. ”Betapa mulianya anakku, moksa, tak berbekas.”
Jadi definisi dari ”moksa” adalah, seperti yang terjadi demikian. Moksa adalah kembalinya tubuh, jiwa dan rukh anak manusia ke alam yang lebih suci dari bumi ini. Mungkin masih di bumi, mungkin di Barzah, mungkin di Mahsyar, mungkin di Surga. Tanpa mensisakan daging tubuhnya sebagai mayat. Hal ini sering terjadi di kalangan Pendeta, para Resi, wali-wali Allah, di abad-abad yang telah lalu. Abad sekarang? Non sense!
Resi Gotama setelah melempar patung isterinya, Dewi Windradi, emosinya yang semula bergemuruh mulai mereda. Sang Resi mencari-cari anak-anaknya, namun ketiganya sudah tidak ada. Ternyata anak-anaknya mengejar-ngejar Cupu Manik Hayuningrat yang dilempar oleh ayahnya sendiri.
Guarsa dan Guarsi mengejar Cupu Manik Hayuningrat, hingga masuk ke dalam sebuah hutan, sampai di sebuah telaga. Telaga Sumala. Demikian pula dengan Retna Anjani yang mengejar Cupu Manik Hayuningrat, telah sampai di satu telaga. Telaga Nirmala.
Guarsa dan Guarsi melihat ikan-ikan membawa benda yang sedang diburu oleh keduanya. Maka Guarsa dan Guarsi, dari sisi yang berbeda, menceburkan dirinya ke dalam telaga itu.
”Wahai ikan, bukan hakmu, Cupu Manik itu. Itu hakku.”
Ternyata dalam pandangan keduanya, ikan-ikan yang ada di telaga itu, di mulutnya membawa-bawa Cupu Manik Hayuningrat. Padahal ikan itu ada dalam ”energi Cupu Manik Hayuningrat” yang berubah menjadi telaga.
Karena bayang-bayang Cupu Manik Hayuningrat terus menerus menggoda ketiganya maka Guarsa dan Guarsi yang masuk ke telaga Sumala, dari tempat yang berbeda berenang terus mengejar ikan hingga ke dasar telaga. Keduanya tenggelam di telaga Sumala yang keruh. Pun demikian dengan Retna Anjani, di tempat yang lain, tenggelam berenang di telaga Nirmala, telaga air kesucian.
Maka terdengarlah sabda dari Nirwana, dari Dewa yang tidak memperkenalkan eksis nama dan identitas namanya. Bersabda kepada Guarsa, Guarsi dan Retna Anjani :”Wahai anak-anak manusia yang berani! Keberanianmu itulah, ombak yang akan mengubur dirimu sendiri. Dan ingatlah! Ketampananmu, kecantikanmu, akan ditelan oleh kegelapan malam.”
Dan ikan-ikan pun bemyanyi bersama :”Oh! Dua anak manusia”, ditujukan kepada Guarsa dan Guarsi,”Dunia akan kegirangan menjemput kedatanganmu,sebagai dua ekor kera.”
Ternyata Guarsa dan Guarsi gagal menemukan Cupu Manik Hayuningrat, walau keduanya telah menyelami telaga Sumala hingga ke dasamya. Maka keduanya keluar, naik dari telaga, dari sisi yang berbeda. Masing-masing tidak merasa dan tidak menyadari telah berubah menjadi kera. Pada saat keduanya bertemu :
”Siapa dirimu wahai Kera?”, kata Guarsa.
”Engkau yang kera!” kata Guarsi.
”Kamu yang kera!”
Air keruh telaga Sumala ternyata memberikan perasaan kepada anak manusia, kepada penduduk bumi. Untuk saling berprasangka buruk diantara sesamanya. Warisan air noda kehidupan dunia yang ada dalam Cupu Manik Hayuningrat. Maka keduanya mewarisi ”saling curiga.”
Terdengarlah suara dari Nirwana :
”Wahai engkau berdua! Berkacalah kepada air yang sedang bercanda dengan cahaya mentari.”
Begitu keduanya mengaca di atas air. Kagetlah, keduanya!
”Mengapa aku menjadi kera? Mengapa engkau adikku, menjadi kera?”
”Mengapa engkau menjadi kera, Kakanda?”
Maka keduanya pun berpelukan, berangkulan sambil menangis. Bagaimana pun cinta sebagai adik dan sebagai kakak tetap utuh dalam diri keduanya.”Mengapa kita menjadi kera?”
Terdengar kembali suara dari Nirwana :
”Wahai Guarsa, Guarsi, Engkau kini memiliki nama.Guarsa sebagai Subali dan Guarsi sebagai Sugriwa.”
”Duhai dewa! Kenapa melaknat kami,yang tidak berdosa menjadi kera?”
Para dewa menjawab dari nirwana :
”Engkau harus bersyukur, wahai Subali dan Sugriwa. Jiwa serakahmu sebagai manusia, akan disucikan kembali oleh Hayuningrat. Ketidak mengertianmu untuk memahami dalam mengejar-ngejar Cupu Manik Hayuningrat. Itu akan disucikan oleh Hayuningat syahwatmu yang menggelegar sebagai lelaki, akan disimpan dulu oleh Hayuningrat. Dan semua batas-batas kamar syahwat, batas-batas keserakahan, batas-batas kamar saling ingin mengalahkan diantara sesamamu sebagai manusia. Batas-batas itu diambil alih oleh kami, para dewa. Karena ada cahaya Hayuningrat di telaga Sumala tersebut. Dan keindahan wajahmu, adalah alat dalam membawa keserakahan, rayuan-rayuan syahwat. Hanya ingin nikmat saja, menolak duka. Menggapai harap akan lebih jelas oleh keindahan wajahmu. Karena itu engkau menjadi kera. Supaya habis semua ambisi sebagai manusia di bumi.”
Dalam pada itu, di tempat yang lain. Retna Anjani sedang menangis, menangisi dirinya sendiri. Karena dirinya pun ternyata menjadi kera juga, walaupun tidak seluruh tubuhnya sebagaimana Subali dan Sugriwa, kakaknya. Retna Anjani wajahnya tetap utuh, tapi badannya adalah badan kera. Karena Retna Anjani berenang di telaga Nirmala, di mana air dunia yang suci bercampur dengan Hayuningrat. Retna Anjani menjadi wanita yang tabah dan mempesona.
Sementara itu Resi Gotama, lari-lari mencari anak-anaknya. Dan dalam pencarian itu, sang dewa bersabda kepada resi Gotama :”Anakku resi Gotama, engkau telah membuang patung isterimu. Batu yang keras, arca yang diam. Jelmaan dari isterimu. Jelmaan dari yang kau cintai. Tahukah engkau, wahai anakku? arca itu adalah egomu. Isterimu engkau perkosa dengan kelamin syahwatmu, menjadi batu! Kesucian dan kelembutan daging dari isterimu, terampas energinya, karena keserakahan seksmu, hingga ampasnya menjadi batu. Dan engkaupun tidak menerima isterimu yang cantik menjadi batu. Bukan persoalan menerima atau tidak, tetapi engkau menangisi syahwatmu, mengapa isterimu menjadi batu, karena engkau tidak mampu lagi melampiaskan cinta dan syahwatmu. Ketahuilah, wahai resi Gotama. Dan engkaupun membuang korbanmu sendiri. Namun demikian, wahai resi, syahwatmu telah di bawa oleh batu arca ke Alengka. Dan engkau wariskan syahwatmu ini kepada anak-anak Wisrawa. Terutama kepada yang berwajah sepuluh, Dasamuka, Rahwana. Batu dari isterimu yang jatuh di Alengka, menyebarkan energi syahwat yang sempurna. Berarti engkau terbebas dari syahwat yang sempurna. Berarti engkau terbebas dari syahwat kelaki-lakianmu, yang dipuja, dipuji dalam seratus tahun dalam tapamu. Mengapa demikian? Karena engkau telah di ruwat oleh isterimu sendiri, Dewi Windradi. Dengan Hayuningrat”, demikian kata dewa dari Nirwana.
Maka berkata-katalah, dalam sabda para dewa, ilmunya mengalir. Wejangan-wejangan para dewa, yang ilmunya tak mampu di tulis. Berkumpul dalam nurani sang resi. Akhirnya tahulah, mengertilah sang resi. Mengapa dan apa, anak-anaknya sampai demikian.
Resi Gotama pun akan mencari anak-anaknya, yang sudah diketahuinya telah berubah jadi kera. Akhirnya, bertemulah ayah dan anak dalam satu tangis yang indah dan haru.
Kesempurnaan kasih sayang bapak, menyempurnakan Hayuningrat putera puterinya.
”Ayah, mengapa aku menjadi kera?”, bertanya Retna Anjani.
”Anak-anakku”, kata resi Gotama, ”Zaman telah menjadi tua dan waktu telah lelah. Tapi manusia dan turunannya selalu bisa dilahirkan dengan cepat. Semakin lelah waktu, semakin cepat turunan manusia dilahirkan. Dan waktu pun akan membawa anak manusia kembali melalui gerbang kematiannya. Dalam membawa bekunya sebuah hati dari syahwat yang tak terjaga. Dalam membawa bekunya sebuah jiwa dari ambisi yang belum selesai. Engkau anak-anakku, terbebas dari semua itu. Karena engkau merasa malu dengan wajah dan badan kera-mu.”
”Oh dunia! Bersinarlah karena penderitaan anak-anakku. Wahai dunia! Teguklah airmata mereka, anak-anakku. Supaya kamu semua dapat keberkahan dari Hayuningrat, yang ada dalam diri kami dan anak-anakku.” Wahai dunia! jemputlah airmata-airmata kami, sisa dari kebenaran yang nyata, yang sukar ada dan jelas di muka bumi.Dunia akan semakin kokoh dengan sedu-sedan anak-anak manusia. Penderitaan umat manusia mengokohkan zaman dan mengangkuhkan, ’harga diri’. Namun api-api itu! semoga air mata kami bisa, menghabiskan panasnya jiwa-jiwa yang serakah. Kau akan melihat dunia dengan isinya melalui Cupu Manik Hayuningrat, tapi ingatlah! Kesaktian tak dapat di rebut dengan begitu saja.”
”Wahai anak-anakku, Cupu Manik Hayuningrat, yang kalian perebutkan adalah sebuah pergulatan yang panjang dalam mencapai buah yang nikmat. Mana mungkin engkau dengan mudah meraihnya, anak-anakku. Namun atas kemurahan sang dewa, engkau menjadi kera, karena jagad ambisi yang ada dalam dirimu itu adalah warisan dariku selama bertapa seratus tahun. Maafkanlah ayahmu ini, wahai anak-anakku.”
”Wahai anak-anakku, kesaktian bukan dari usaha manusia. Kesaktian bukan dari usaha pengorbanan apapun. Kesaktian adalah datang tanpa di sadari, dari sebuah hati yang tak mampu lagi merasa berkorban. Kesaktian akan datang manakala manusia sudah tidak rindu lagi untuk dipuja dan dipuji. Karena kesaktian datang tanpa melalui ucapan salam, tapi hadir dalam jiwa manusia. Kesaktian tidak ada dalam dunia ramai, karena kesaktian, wahai anak-anakku, hanya datang kepada mereka yang teraniaya. Maka engkau mendapat kesaktian, wahai anak-anakku, dari rasa rendah diri sebagai kera. Terimalah itu semua. Anak-anakku jangan duka dan sedih, sebab penderitaan sangat di inginkan oleh dunia. Supaya dunia terbebas dari penderitaan yang sia-sia dari umat manusia, supaya Sang Dewata Hing Murbeng Agung menerima. Dan engkau secara tidak langsung mendapat ’titah’ dari Sang Dewata Hing Murbeng Agung, Tuhan Yang Maha Esa. Dan engkau sebenarnya diangkat harkatnya, oleh rasa rendah diri sebagai kera.”
”Tengoklah wahai anak-anakku. Di seberang sana anak manusia berpesta pora dalam kesombongan, berpesta pora dalam syahwat. Siapa yang kuat itu yang menang! Seolah-olah kekuatan adalah miliknya. Seolah mereka mendapat ’titah’, padahal bukan. Tetapi hawa nafsunya sendiri yang mengatas namakan dewa. Dan engkau menjadi kera anakku, kesombongan akan punah. Kesombongan akan sirna. Akan hilang dan musnah. Karena di jiwamu hadir rasa bersalah dan rasa rendah diri sebagai kera. Kerendah-dirian takkan mungkin hadir dalam diri manusia, manakala manusia masih merasa memiliki sesuatu kelebihan, dalam wajahnya, dalam perasaannya juga dalam ilmunya. Demikianlah wahai anak-anakku”, demikian resi Gotama.
”Wahai ayahku”, berkata Subali, ”Kenapa kami ditakdirkan jadi kera? Dimanakah keadilan? Di manakah keadilan jagad raya ini?”
”Anak-anakku, kera adalah ’titah’ yang merindukan kesempurnaan menjadi manusia. Berjuta kera bergelayut di hutan-hutan, beribu kera menangis pilu, karena merindukan jadi manusia. Dan kera-kera itu di ciptakan oleh Hyang Widhi untuk menghantar lahirnya manusia. Dan engkau akan menunggu. Menanti kelahiran manusia suci, yang berangkat dari kera.”
(Simak kembali Mutasyabih, tentang ”psikologi embrio” di mana Pithecanthropus Erectus, Alban Aljan, yang menerima ”sperma surga.” Adalah kera dari golongan ”non perkosaan” atau ”non pelecehan seksual”).
”Engkau menjadi kera karena menunggu kelahiran kesucian manusia yang akan sempurna. Yang harkatnya melebihi harkat para dewa. Para kera selalu prihatin, dengan keprihatinan supaya di angkat kesempurnaan, sebagai kerinduan akan kesempurnaan. Kera merindukan ’limitnya pipi yang berbulu’. Dalam pikirannya itu adalah kesucian manusia yang harkatnya tinggi. Wahai anakku, para kera tidak tahu, bahwa limitnya pipi dan indahnva wajah manusia itu adalah topeng-topeng keangkuhan, yang di pinjam dari api-api neraka. Bahagialah anak-anakku, karena kerinduan itu hadir dalam hatimu dan jiwamu.”
”Dan engkau telah mengambil alih kerinduan para kera dan kerinduan para kera yang sia-sia, yang tak mungkin menjadi manusia. Tetapi dalam dirimu, menjadi keagungan yang akan mengangkat harkat umat manusia, dan menjadikan dirimu sebagai bunga di surgawi kelak.”
”Anak-anakku, namamu terukir sebagai bunga di surga yang paling indah. Pergilah engkau bertapa, wahai anak-anakku. Bermati-ragalah kamu. Tinggalkanlah perasaan dirimu sebagai kera yang buruk rupa. Bawalah kepasrahan pada Hyang Widhi, cinta dari ayah ibumu, simpanlah sebagai kekuatan dalam jiwamu, wahai anakku.”
”Dan ingatlah, ibumu kini kembali ke surga. Dan suatu saat kelak kau menziarahi makamnya, aku menyimpan arca ibumu di Alengka, dalam menjunjung harkat. Peperangan mempertahankan keadilan, menumpas keangkara-murkaan, yang nanti akan dibangun oleh Rahwana. Engkau akan menemukan panutan yang datang dari surgawi, sujud patuhlah pada panutan itu. Karena panutan itu Batara Guru, yang sementara waktu membawa Cupu Manik Astagina. Dia lahir sebagai Rama.”
”Anak-anakku, berbahagialah engkau menjadi kera yang berhati manusia, daripada manusia yang berhati kera.”
Setelah berpamitan pada ayahandanya, maka berangkatlah Subali, Sugriwa dan Retna Anjani bertapa, hidup dalam keheningan mati raga.
Subali pergi ke puncak gunung Sunyapringga, melaksanakan ”tapa ngalong.” Kaki di atas berpegangan pada kayu jati dan kepala menghadap ke bumi. Manakala Subali tapa ngalong, maka terlihatlah kesedihan para kera yang merindukan ingin menjadi manusia.
Sugriwa tapa seperti laku kijang (kidang/menjangan/rusa), disebut ”tapa ngidang.” Berakrab-akrab dengan bumi yang diam. Maka Sugriwa merasakan bagaimana bumi yang selalu memberi makan tanpa beban, kepada manusia. Bagaimana bumi selalu melahirkan buah-buahan dan bunga-bunga untuk kenikmatan manusia dan selalu melindungi manusia dari ”angkara murka.”
Retna Anjani bertapa seperti katak (kodok). Sang Dewi masuk ke dalam Cupu Manik Hayuningrat, jiwanya dalam angkasa keindahan cakrawala, dan tubuhnya, berendam, seperti katak, di telaga Sumala ”tapa nyantuka.”
Tapa – nya ; Subali, Sugriwa Dan Retna Anjani
Kekuatan kasih yang yang tinggi dari resi Gotama, kepada putera-puterinya berat untuk dipisahkan di dalam tugas. Yang tadinya cintanya terpaut, terampas oleh isterinya, Dewi Windradi. Anak-anak hanyalah mendapat cinta yang sifatnya ”sisa” dari cinta kepada isterinya. Cinta kepada anak, lahir dari aliran sungai kecil dari sebuah samudera. Cinta sang ayah adalah bagian terkecil, karena cinta yang suci kepada anak anaknya yang seharusnya hadir sebelum anak-anaknya lahir itu, terbius oleh cinta segalanya kepada isterinya sendiri.
Namun saat itu sang Resi merasakan bahwa kehadiran cinta kepada anaknya, yang cukup lama terbius oleh kebesaran cinta kepada isterinya, muncul perasaan cinta yang suci kepada anak-anaknya dan tambah memuncak saat dirinya menyadari, betapa selama ini dirinya kurang memperhatikan anak-anaknya.
Ternyata asmara, ”jagad asmara”, mengeruhkan jagad cinta seorang ayah kepada anak-anaknya yang dilahirkan. Seandainya jagad cinta sang ayah memenuhi permukaan bathin seorang anak, sukar memindahkan cinta baru, cinta asmara baru kepada wanita lain. Karena kebeningan cinta seorang ayah kepada anak yang sesungguhnya itu, menghalangi sikap keangkuhan lelaki dalam melangkah di alam dunia ini, dalam mengisi alam dunia ini.
Kebeningan cinta sang Resi kepada anaknya, menggugat jiwa dan fikirannya, betapa dirinya akrab dengan harkat kelaki-lakiannya. Dan terlalu akrab dengan cinta egonya, kepada isterinya. Saat itu pula sang Resi merasa berdosa yang sangat, kepada putera puterinya. Maka dirangkullah putera-puterinya, Subali, Sugriwa dan Retna Anjani.
”Anak-anakku, maafkanlah dosa ayahmu ini, yang telah lama menyimpan kebeningan cinta yang seharusnya ada, telah kuselipkan di ’gunung kemurkaan’ aku sebagai laki-laki, wahai anakku! Cinta yang bening kepadamu kusembunyikan di sela nafas kelaki-lakianku, di sela nafas syahwatku. Tak mungkin engkau kehilangan kebeningan cinta yang ada dalam dadaku, tak mungkin sirna, kalau aku tak mengejar-ngejar syahwat selama seabad. Karena itu anak-anakku, maafkanlah ayahmu”, kata resi Gotama.
”Ayahku, apapun dosa yang dirasakan, kesalahan yang dipanggul oleh punggung jiwamu, itu adalah bukan hak kami untuk menilai”, jawab Retna Anjani, ”Itu adalah hak engkau dengan jatidirimu dan dengan segala alam yang telah membesarkan kami semua.”
”Namun demikian, kami sebagai anak-anakmu, tak mampu mengelak untuk tidak memaafkan engkau, ayahku. Kami tidak akan mempersembahkan maaf kepadamu, tapi kami akan berikrar kepada Hyang Widhi, Hing Murbeng Agung. Bahwa engkau adalah ayah yang baik bagi kami semua. Engkau adalah ayah yang sempurna dan berharkat tinggi, telah membesarkan kami semuanya. Kami bersaksi, atas segala kebaikan yang telah engkau berikan kepada kami. Semoga alam pun bersaksi atas kebaikan engkau, wahai ayahku tercinta.”
”Ayahanda, tak mungkin kami menerima keluh kesah tentang dosa masa lalu, tentang keresahan kebeningan cinta yang tak mampu engkau ungkapkan, engkau ekspresikan kepada kami”, Subali menyambung kata-kata adiknya, ”Karena kami terlahir dari betapa cintanya engkau kepada ibuku. Tanpa cinta kepada ibuku, tak mungkin kami terlahir ke dunia ini. Dan biarlah, wahai ayahku, cintamu kepada ibu kami, sebagai pembelian kembali beningnya cinta engkau, untuk kami, dan menghantar ayahanda untuk melangkah ke Nirwana yang dituntun oleh para dewa. Tinggalkanlah kami wahai ayahanda, menuju keagungan singgasana maaf yang diberikan kepada ibu.”
Betapa sang ayah terharu mendengar kebesaran jiwa anak anaknya. Padahal sebelumnya, anaknya bertanya, ”Mengapa kami berwajah kera? Bertubuh monyet?” Sang resi telah memberi kebanggaan nurani, bahwa rendah diri adalah kekuatan untuk mengalahkan keangkuhan dunia ini. Namun kali itu, anak-anaknya membutuhkan dirinya tentang ungkapan sebuah hati yang rendah diri. Dari buruk rupa dan jelek tubuh sang kera. Dan sang ayah merasa, kemanusiaan dirinya yang gagah, yang mampu bertapa, sakti mandraguna, merasa menjadi ”lelanang jagad.” Sirna sesaat oleh ungkapan kesucian, keikhlasan bathin anak-anaknya.
Manakala anak-anaknya selesai mengikrarkan itu semua, saat itu pula sang resi, moksa. Ilmunya kembali, tapanya satu abad hanya untuk meminta bidadari kepada Hyang Widhi, terhapus oleh rasa maaf yang sangat kepada isterinya. Dan dimaafkan oleh putera-puterinya. Kembali kepada jati diri yang paling bening dari jiwanya. Kembali kepada jati diri yang paling suci dalam hatinya. Maka beliau moksa pergi ke Suralaya.
Suralaya adalah puncak kebahagiaan, berbatasan dengan nirwana. Puncak yang diraih oleh Sastra Jendra dari Wisrawa dan isterinya. Suralaya adalah tempat surgawi yang sudah terisi energi ke-Illahi-an, tapi masih terhalang oleh pintu Ar-Royan atau ”Sela Manangkep.”
Tatkala resi Gotama ke angkasa sambil menangis, tetes airmatanya membasahi ketiga putera-puterinya. Maka lenyaplah sang ayah dari pandang mata kepala putera-puterinya. Akhirnya masing-masing melaksanakan tapanya, sebagaimana di amanatkan sang ayah.
Subali menuju gunung Sunyapringga, melaksanakan ”tapa ngalong.”
Sugriwa ke hutannya Sunyapringga, melaksanakan ”tapa ngidang.”
Retna Anjani di telaga Nirmala, melaksanakan ”tapa nyantuka.”
SUBALI
Subali, dalam kesunyian tanpa cinta ibunda dan tanpa cinta sang ayah. Keheningan gunung Sunyapringga, menambah mencekamnya kerinduan cinta yang ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.
”Wahai gunung, siapakah yang mengisi kekosongan cinta ini?”
”Aku sendiri hening dari kekayaan cinta kepada diriku sendiri, jangankan aku mencintai diri sendiri, aku ini pun terkoyakkan oleh cinta orangtua kami, wahai gunung Sunyapringga. Sempurnakanlah kesunyian kami, sempurnakanlah kekosongan cinta kami. Supaya kami, masuk ke alam rahasia, supaya kami masuk ke alam yang oleh dunia dirahasiakan. Ke alam yang oleh hutan dirahasiakan, ke alam yang oleh tumbuh-tumbuhan dirahasiakan. Wahai gunung, gunakanlah kesepian kami sesepi-sepinya, supaya kami melupakan diriku sendiri. Janganlah engkau biarkan tubuh kami, jiwa kami, dan fikiran kami, terpenjarakan oleh kesepian yang kepalang tanggung. Kesepian yang sempurna mampu membebaskan diriku dari rasa memiliki tubuh dan jiwa ini.”
Demikianlah Subali dalam ”tapa ngalong-nya”, kaki ke atas berpegangan pada dahan pohon dan kepala! Menghadap ke bumi.
Di puncak kesepian Subali yang paling pekat, sang daging seperti meninggalkan dirinya, bukan daging yang ditinggalkan oleh dirinya. Satu-persatu, tangannya meninggalkan dirinya, daging di perutnya, tulang di kakinya, satu-persatu organ tubuh meninggalkan dirinya, yang tersisa adalah jantung dan hati, yang terasa masih ada.
”Mengapa jantung dan hati tidak mau pamit dariku? Bukankah karena engkau, aku merasa memiliki tubuh ini? Bukankah karena engkau, aku merasa memiliki denyut daging dan getar syaraf? Bukankah karena engkau, wahai hati, aku dapat memandang dengan mataku pesona dunia ini? Cepatlah engkau berjalan! Tinggalkan aku.”
Hati dan jantung menjawab :
”Bukan aku tak mau berpamitan kepadamu, namun katakanlah, bahwa aku pernah hadir dalam dirimu, dalam memperkenalkan dunia ini dengan isinya. Tanpaku, engkau tak mengerti arti duniawi, tanpa kami, engkau tak mampu bercengkerama dengan dunia. Izinkanlah kami pamit dan isilah jejak kami oleh dirimu. Dan suatu saat kami akan datang lagi mengisi tempat ini.”
Maka jantung dan hati pamitan tanpa kesedihan dan kegembiraan. Subali pun melepas organ tubuhnya yang terakhir.
Manakala hati dan jantung meninggalkan dirinya. Saat itu pula seluruh pohon-pohon di hutan Sunyapringga berbicara menyampaikan rahasia dirinya. Menyampaikan rahasia dirinya. Menyampaikan rahasia alam ini dan menyampaikan rahasia para dewa.
Hingga setiap pohon bercerita, aku ditakdirkan berbuah sampai sekian. Berapa yang gugur, berapa yang matang dan berapa yang dimakan ulat. Kami ditakdirkan berdaun sekian, dari pucuk pertama dan daun terakhir yang gugur.
Dan hewan-hewan pun, bercerita tentang kerahasiaan dirinya secara sempurna.
Maka telinga-telinga dari bathinnya, mendengar semua suara yang ada di dunia ini. Penglihatan mata bathinnya, tembus membelah samudera, masuk ke langit. Subali mulai masuk ke alam kebahagiaan bertemankan rahasia-rahasia. Dikatakan rahasia, karena terhalang oleh daging. Namun saat itu bukan rahasia lagi. Ternyata di balik daging, ada keindahan yang lebih sempurna, dari syahwat itu sendiri, dari indera itu sendiri, dari fikiran itu sendiri.
Subali menuju alam pertapaan yang sangat ramai. Sendiri dalam kesepian tetapi ramai dalam kehidupan. Subali dalam ”tapa ngalong-nya” menyaksikan kehidupan dunia. Setiap manusia terlihat takdimya. Tingkah laku, gerak tubuh yang menghasilkan problematik hidup setiap individu manusia, jelas di saksikan. Persoalan umat pun dilihatnya secara sempurna.
Maka pengetahuan-pengetahuan, ilmu, bukan datang dari pelajaran-pelajaran yang didapatkan dari ayahandanya. Semua memberikan pelajaran, semuanya yang dilihat memberikan pengertian. Dunia bukan lagi sekedar benda. Dunia adalah kalam Illahi yang bergerak-gerak. Dunia adalah ungkapan wahyu Allah yang bercerita. Firman-Nya mengalir tanpa perantara. Firman yang bukan melalui Jibril, tapi firman yang berasal dari isyarat alam, sebagai perwakilan-perwakilan sang Maha Kuasa.
SUGRIWA
Sugriwa di dalam ”tapa ngidang-nya”, tak seperti Subali. Kalau Subali, dalam ”tapa ngalong-nya”, ditinggalkan oleh seluruh organ tubuhnya. Maka yang dialami Sugriwa adalah organ tubuhnya tetap dirasakan utuh, tapi dirinya ditinggalkan oleh fikirannya.
Yang pertama kali meninggalkan dirinya adalah illusinya, ”Selamat tinggal wahai diriku”, kata ilusi, ”Aku akan mengangkasa dan akan kembali ke alamku sendiri, di awang-awang jagad raya, di mega-mega yang tak bersisi. Karena kami bercerita tanpa ada awal dan akhir, karena kami mengungkap masalah tanpa judul. Dan engkau mengenal aku, karena rekayasa perasaamu sendiri. Yang sesungguhnya, aku tidak ada. Aku adalah embun yang kembali kepada embun. Aku adalah asap yang kembali kepada awan. Aku tidak memiliki judul, kalaupun berjudul, bukan aku yang membuat. Tapi engkau yang membuat judul atas angan-anganmu tentang kehidupan ini.”
”Selamat jalan daya khayalku. Engkau terlalu kucintai, dan engkau jangan terlalu jauh melayang-layang di angkasa. Tanpa engkau, aku tidak mampu memahami dunia ini. Tanpa engkau, aku akan terpenjara oleh kenyataan hidup. Tapi engkau membebaskan diriku dari keterpenjaraan kehidupan yang sesungguhnya. Engkau adalah memberikan kemerdekaan semantara kepadaku”, demikian Sugriwa.
Perpisahan ini adalah tangisan, walau daya khayal dari illusi, tetapi tetap ditangisi, dan perpisahan ini terasa menyakitkan.
”Tanpamu, aku kehilangan diriku sendiri. Karena aku dikatakan sebagai manusia karena dirimu, yang telah hadir dalam diriku sebelum aku dilahirkan di muka bumi ini.”
Maka setelah kepergian daya cipta illusi, daya lamun, berpamitan pada logika. Logika berkata tentang atas dan bawah, sisi dan ujung, jumlah, matematika, sebab akibat, analisa-analisa, kesimpulan-kesimpulan, penjelasan mengapa begini, mengapa begitu, mengapa demikian.
”Selamat tinggal wahai Sugriwa. Aku matematika harus berpisah dari fikiranmu. Engkau sering resah karena perhitungan-perhitungan dariku. Engkau sering bergulana, karena aku menari dalam hitungan jumlah, dan engkau sakit oleh kekurangan-kekurangan. Dan engkaupun sering gembira manakala aku menambah. Engkau dipenjarakan olehku, dari sebuah sebab akibat. Yang paling menggoda kekhawatiran adalah aku, Sugriwa. Namun ingatlah aku, kenanglah aku! Tanpa aku, engkau tidak akan dapat mengerti, mengapa engkau harus mengejar-ngejar Cupu Manik Hayuningrat, karena aku, engkau dipicu dalam usaha dan ikhtiar.”
”Selamat jalan, wahai sebab akibat, suatu saat aku merindukanmu.”
”Ya! Aku akan datang manakala sang dewa telah mensucikan engkau. Dan akupun akan datang dengan sebab akibat dan matematika, jumlah dan kurang. Namun aku akan berbakti kepada ’kesucian’ engkau, yang telah disucikan dalam pertapaan yang panjang.”
”Berilah aku keleluasaan untuk mencari rahasia-rahasia alam, untuk mencari rahasia-rahasia mega-mega mengangkasa. Supaya manakala aku kembali, bila engkau mengenal aku 3+2=5, tapi 3+2 adalah 5+x+n+n, aku adalah kaya. Kalau pun aku matematik, tapi mampu membelah rahasia gaib, kalau engkau menambah kesucian dirimu. Karena aku harus diperkosa oleh kesucian dirimu. Bukan aku yang memperkosa dirimu, wahai Sugriwa”, demikian kata logika.
Yang terakhir pamit adalah fikirannya :
”Aku pamit Sugriwa. Telah lama aku bercokol dalam ruang-ruang fikiranmu. Aku adalah rencana yang panjang dari dirimu. Penggalan- penggalan kamar yang telah kau isi dari rencana kerja itu adalah aku. Biarlah aku kembali kepada pusat perencanaan Yang Maha Sempurna, Sang Pencipta Rencana itu sendiri, Hyang Agung Mahesa. Hing Murbeng Mahesa, adalah tempat aku kembali karena di sana ada rencana Yang Maha Sempurna. Aku adalah bayangan-bayangan kecil dari rencana-Nya. Aku adalah wayang dari rencana, dan engkau mau menggapai rencana dalam bayangan dirimu sendiri. Aku mengucapkan salam kepada dirimu. Dan aku pun, terima kembali suatu saat, manakala engkau telah membuat ’Istana kesucian’ di dalam fikiranmu. Fikiranmu adalah rukh, fikiranmu adalah sayap-sayap yang ku isi. Tanpa rukh, aku tak mampu hadir dalam sayap rukh. Kau kembali kepada jati yang tersuci dari rukhmu sendiri. Hewan tanpa rukh, aku pun tak mampu hadir di alam mereka.”
Maka menangislah Sugriwa dalam tapanya. Betapa kesepian panjang tanpa perhitungan, tanpa rencana, tanpa obsesi. Obsesi adalah kenakalan alam fikiran, gejolak alam fikiran akibat rencana yang diperhitungkan secara rinci dan sangat matematis. Sangat berfungsi dalam matematik dan pengetahuan alam.
Maka keheningan mengiringi Sugriwa, dan di puncak kesepiannya Sugriwa melihat perhitungan lain. Sugriwa mengetahui jauhnya bumi dengan bulan, mengetahui berapa banyak energi matahari yang selama ini telah mengalir ke bumi, berapa usia dunia ini dengan matematika yang tanpa batas logika. Bulan pun bercerita telah berapa kali mengelilingi bumi ini dan mengelilingi matahari. Matahari pun bercerita berapa jumlah energi panas yang disimpan dalam tubuhnya. Oksigen dan hidrogen menari-nari, memberikan informasi tentang eksis dirinya.
Maka rahasia jumlah dari hari dan tahun yang telah terlalui oleh alam ini, dari berapa jumlah yang akan lahir dari tahun dan bulan, diketahuinya dalam jumlah. Rencana pun teraba, kapan kiamat, kapan gunung hancur, kapan planet bertemu planet, meteor dengan meteor, komet dengan komet. Dan berapa jumlah planet yang ada di cakrawala ini, diketahui dengan pasti dan sistematis. Karena rukh, ternyata sumber logika yang paling murni. Yang terpandai dari otak. Otak ternyata jagad terkecil dari transfer fikiran, kepandaian rukh itu sendiri.
Sugriwa dalam tapa ngidangnya, menemukan rahasia jumlah dan perencanaan, mengetahui sebab dan akibat, awal dan akhir dari sesuatu proses.
Subali mata bathinnya bertambah tajam dalam dialog dengan alam dan sifatnya.
Sugriwa kepandaian rukhnya, menghitung dan membuat rencana dari sisi jumlah dan dimensi.
Subali adalah makna sifat yang dimensional dari fisik alam ini.
Sugriwa adalah dimensi jumlah dari fisik sifat alam ini.
Tapa ini ”wajib” bagi makhluk di muka bumi. Karena ”khalifatul fil ardh”, adalah tanggung jawab kepercayaan Allah kepada manusia. Manusia sebagai khalifatul fil ardh, perawat dunia dengan bermodalkan dua faktor tersebut di atas. Tanpa modal dua faktor ini, adalah tinja yang ada di bumi, kotoran yang menodai bumi ini.
Sabda Batara Narada dari Nirwana :
”Cucuku, Subali dan Sugriwa. Engkau pantas merawat dunia, engkau pantas mencintai bumi ini, pantas sebagai penghuni yang syah dari alam yang Tuhan telah ciptakan. Engkau adalah jagad, dimana dunia akan bersekutu dengan jagad dirimu. Bukan engkau yang bersekutu dengan bumi. Tapi bumi kembali bersekutu ke dalam jagad rukh dan jiwamu. Karena Hing Murbeng Agung, Sang Hyang Wenang, tak mungkin memberikan kepercayaan kepada penghuni yang namanya manusia, kalau tidak lebih mulia dari alam dan isinya.”
RETNA ANJANI
Retna Anjani, tapa nyantuka, seperti kodok yang berendam di air Sumala. Air kehidupan yang sudah keruh. Retna Anjani dalam kesunyian.
Kesunyian hatinya, kesunyian jiwanya, tambah mencekam dengan dinginnya telaga Sumala. Malam hari bertemankan kodok-kodok yang bernyanyi, menambah kerinduan dan keharuan kepada bundanya. Gigil tubuh Retna Anjani dan dinginnya air keruh Sumala, menghantar dirinya pada puncak kesempurnaan dari kesepiannya. Retna Anjani, tidak seperti Subali dan Sugriwa, yang diperlihatkan seluruh rahasia alam ini. Di puncak kesempurnaan kesepiannya, Retna Anjani :
- fisiknya tidak lagi memberikan perasaan,
- fikirannya tidak lagi memberikan pengertian, namun
- jiwanya sebagai wanita yang feminim, yang lembut, yang penuh kebijaksanaan, terbuka.
- agad kesucian seorang wanita, pintunya terbuka.
Retna Anjani, masuk ke jagad cinta yang tertinggi. Dan dijemput oleh sebentuk cinta.
”Selamat datang Ratu Retna Anjani, aku adalah kerinduanmu. Tanpa aku, engkau tidak akan merindukan sesuatu, tidak akan merindukan apapun. Mengapa aku ada dalam jagad dirimu? Mengapa aku bertemu dengan dirimu? Padahal aku sering, aku tak pernah memperkenalkan diri kepada penghuni bumi yang namanya wanita. Karena aku tersembunyi, bisa di rasakan tak mungkin di raba. Bisa dihayati tak mmgkin di fikirkan. Karena aku, tersembunyi dalam emosi. Kalau pun aku datang memperkenalkan diri, membentuk diriku sendiri di hadapanmu, karena engkau telah masuk, mengalami terpaksa, hadir di dalam Cupu Manik Hayuningrat. Hayuningrat menyebabkan ketersem-bunyian aku di dalam emosimu sebagai wanita, tak kuasa tidak menjelmakan diri di hadapanmu.”
Hayuningrat :
- mampu menjelmakan sesuatu nilai-nilai menjadi nyata,
- sesuatu perasaan menjadi benda,
- sesuatu khayal menjadi teraba.
”Dan kerinduan yang engkau rasakan, karena aku adalah kerinduan kepada kesejukan kasih sayang ibu. Dan semua manusia merasakan kesejukan kasih sayang ibu, dan kenyataan perlindungan ayah. Dan untukmu wanita, merindukan perlindungan ksatria seorang lelaki. ltu adalah aku, kerinduan.”
”Selamat berjumpa wahai kerinduan, maafkan aku. Karena seusai tragedi aku menjadi kera, kerinduan apapun tak pernah hadir lagi dari jiwaku. Kalaupun kau ada dan memperkenalkan diri kepadaku, akupun terpaksa mengucapkan selamat datang, wahai kerinduan. Wahai kerinduan, ajaklah aku kepada misteri yang ada dalam jagad cinta. Jagad cinta wanita yang ada dalam jiwaku.”
Maka kerinduan, memperkenalkan perasaan lain, datanglah rasa nyaman, rasa terlindungi.
”Siapakah engkau?”, kata Retna Anjani.
”Aku adalah rasa tenteram karena kenyamanan, rasa aman karena perlindungan.”
”Siapa dirimu?”
”Aku adalah Hawa. Karena aku, terlahir generasi manusia. Karena aku manusia mewariskan cinta kepada keturunannya. Tanpa aku, manusia akan meninggalkan keturunannya. Aku adalah ’hawa kasih sayang’ yang tersembunyi dalam rasa aman, yang diam di dalam kerinduan. Dan aku sebenarnya cahaya dari perlindungan Hyang Widhi. Kerinduan kepada orang tua, kepada anak, kepada kekasih itu pun anak-anak yang dariku, Hawa. Dan aku adalah percik cahaya dari rasa aman yang datang dari Sang Hyang Widhi, kepada makhluk-Nya”, demikian sang kerinduan memperkenalkan dirinya.
Dan kerinduan tidak akan berfungsi. Kerinduan akan mati, manakala kerinduan hanya sampai kepada suami, hanya sampai kepada isteri, manusia. Hanya sampai kepada anak-anak dan kekasih. Kerinduan yang terhenti, adalah memotong cinta yang panjang dari makhluk kepada Penciptanya.
”Wahai ratu, jangan engkau terhenti di belokan cinta, terhenti di tikungan cinta. Karena engkau akan diperbudak oleh kerinduan itu sendiri. Kerinduan seperti itu meresahkan dan menyiksa, karena kerinduan belum usai, belum pulang kembali kepada sumbernya, Sang Hyang Widhi. Maka jadikanlah aku, Hawa, sebagai jembatan cahaya yang panjang. Supaya engkau melaju, mengalir menuju sumber Cinta. Bawalah cinta engkau kepada orangtuamu bersama aku, kembalikan dengan cahayaku kepada sumbemya. Bawalah cinta asmaramu kepada ksatria, idamanmu, memakai perahu cahaya yang mengalir di samudera yang panjang. Menuju pulau-pulau Sumber Cahaya Cinta Sang Hyang Murbeng Asih. Jangan engkau biarkan, dirimu dalam cinta, tenggelam dalam samudera cinta yang terseok-seok di bawah samudera asmara. Namun asmara akan menjadi lebih indah, manakala aku mengisinya dengan cahaya yang panjang sebagai jembatan cinta kepada sumbernya, Hing Murbeng Asih, Tuhan Yang Maha Esa.”
”Wahai Hawa”, kata Retna Anjani, ”Adakah dibalik engkau yang aku ingin kenal padanya?”
”Ada, di belakangku adalah dirimu yang sejati. Diri sejati yang merindukanmu yang ingin memberikan cinta kasih kepada semua yang ada. Tidak saja ksatria yang engkau berikan cinta, tidak saja ayah ibumu yang engkau berikan cinta. Tapi alam raya dan isinya, menunggu dengan sangat, dari abad ke abad, berjuta tahun, alam raya dan isinya, menunggu belaian kasih sayang dari jati dirimu sebagai wanita.”
Manakala Hawa tersibak, tampaklah di belakangnya. Dimana Retna Anjani rasanya seperti mengaca di kaca yang besar, segalanya persis. Persis wajah, sama persis tubuhnya. Sebagaimana Retna Anjani sendiri.
”Ucapkanlah salam kepada dirimu sendiri. ltu bukan bayangan, itu adalah dirimu yang sesungguhnya, wahai Retna Anjani”, kata Hawa.
Retna Anjani membanding-banding dirinya, dengan tubuh yang ada di depannya. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, ternyata ada bedanya. ”Mengapa payudara yang di depanku bersinar terang?”
”Oh Retna Anjani”, kata Hawa, ”Cahaya itu adalah warisan dari cinta sebening kaca, cinta yang sempurna, yang telah disimpan oleh Bundamu yang telah melahirkanmu. Dan engkau pun akan mewariskan cahaya itu, memberikan kehidupan kepada anak-anak manusia. Beribu bayi bergantung kepada cahaya dari payudara, karena kesaktian alam berkumpul dalam cahaya itu. Memberikan vitamin dan kesegeran (air susu), kepada setiap bayi yang dilahirkan. Dan engkau telah menghisap kesaktian ibumu sendiri dengan keikhlasan yang sempurna. Cinta ibumu, membuat iri semua dewi di Kahyangan. Karena mereka tak memiliki cahaya dari payudara. Yang mereka miliki adalah keagungan nilai dari payudara, yang tidak bisa memberikan susu kepada bayi-bayi. Kalau pun bidadari diturunkan ke dunia, matilah setiap bayi, karena tak mampu memberikan susu. Berbahagialah engkau, wahai Retna Anjani, sebagai manusia yang berharkat bidadari.”
”Bisakah aku bertemu ibuku di payudara yang bercahaya?”
”Bisa, wahai Retna Anjani, mengapa tak kau panggil kalau rindu pada ibu?”
”Karena aku tak mampu, tak sempat mengungkapkan maaf dan terima kasih.
Bahwa aku telah dilahirkan, pernah dikandung dan telah dibesarkan. Tragedi Cupu Manik Hayuningrat, menyebabkan aku tak sempat mengungkapkan terimakasih dan sujudku kepada bundaku.”
”Wahai ratu, panggillah bundamu”, kata Hawa.
Maka dipanggil bundanya. Susu yang bening dan bercahaya itu, seperti alam yang di dalamnya ada bundanya. Dewi Windradi tersenyum.
”Peluklah aku, anakku.”
Maka dengan tangisan yang menjerit, dipeluknya ibunya. Namun yang ada hanya bayangan sinar saja. Ternyata Retna Anjani meninggalkan tubuhnya sendiri, kembali kepada dirinya yang sejati.
Retna Anjani berjalan dan berjalan semakin jauh, di jagat dirinya yang sungguhnya. Maka sampailah kembali kepada dirinya yang sedang bertapa.
Ternyata perjalanan Retna Anjani di dalam jagad dirinya yang sesungguhnya, terlihat sebagai cahaya yang gemilang. Maka cahaya gilang gemilang ini adalah cahaya yang mengeluarkan kasih sayang, cahaya yang menebarkan serta merangsang kerinduan semua alam yang menebarkan rasa kasihan yang tinggi. Rasa kasihan yang tinggi ini, sampai ke Marcapada, menembus perbatasan Sela Manangkep, Suralaya dan terus sampai ke Kahyangan.
Para dewa gempar! Cahaya apa ini?
Dan sebagaimana biasa, Batara Narada berdialog dengan adiknya, Batara Guru.
”Dinda Batara Guru, engkau mengerti apa dan bagaimana cahaya ini. Sepertinya cahaya ini bukan milik nirwana, datang dari luar nirwana. Tapi mengapa memberikan benderang yang lebih gemilang dari cahaya yang ada di nirwana?”
”Aku pun tak melihat cahaya ini datang dari puncak nirwana.”
”Wahai Dindaku, ikutilah cahaya itu, darimana datangnya.”
Batara Guru mengikuti cahaya itu yang ternyata sampai ke bumi, yang kemudian sampailah kepada sumbemya, Retna Anjani. Maka terharulah Batara Guru. Cinta yang sempurna yang ada dalam bathin Batara Guru, hampir dikalahkan oleh pesona cinta yang datang dari Retna Anjani.
Proses kembalinya suatu cinta kepada sumbernya.
”Retna Anjani”, sabda Batara Guru, ”Keangkuhanku yang menyebabkan lelaki di lahirkan, goyah dan hampir kalah oleh cahaya yang datang dari dirimu. Kukatakan, engkau kucintai dan engkau kumiliki.”
Batara Guru, muncul kecintaan yang mendalam, melampaui keindahan nirwana.
Dan bersabda Batara Guru :
”Terimalah cintaku ini, cahaya yang sebenarnya belum saatnya ada di bumi. Namun cahaya yang keluar dari dirimu ’mempercepat proses’ untuk segera cahaya ini hadir di muka bumi ini. Dan terimalah bagian dari diriku ini, dan berubah ujud menjadi ’ron jati malela’, daun jati malela.”
Retna Anjani, dalam ”tapa Nyantuka-nya”, memakan makanan apa saja yang mendekati dirinya. Buah yang mengambang, daun yang mengambang. Dan minumnya adalah uap-uap udara, embun pagi. Ron jati malela mengambang, dan masuk ke dalam mulutnya.

Begitu di telan oleh Retna Anjani, dirinya merasakan keindahan yang mempesona. Sebagaimana yang dirasakan oleh Dewi Sukesih sewaktu melayang-layang di puncak kenikmatan cinta dan puncak kebahagiaan di perbatasan kahyangan. Cinta, kerinduan, kerinduan yang tadi memperkenalkan diri, menemukan siapa yang dirindukan.
”Izinkanlah wahai Batara Guru, ternyata engkau kurindukan. Bayanganmu telah lama hadir dalam jiwa ini. Saat aku kecil, bayanganmu seringkali hadir di telaga hatiku. Dan engkau menjadi kenyataan di telaga Sumala ini.”
Sabda Batara Guru :
”Engkau akan mengandung anak kita. Anak kita, bukan lahir dari syahwat. Diukir bukan dari cinta kerinduan, bukan dari ’hawa’, bukan cinta dari jatidirimu sendiri. Tapi perpaduan Hayuningrat yang sudah engkau sucikan di Sumala, bersekutu dengan cahaya yang kubawa dari kahyangan.”
”Telaga Sumala, telaga kehidupan yang kotor, yang cemar. Kini suci kembali, kesucian yang datang dari dirimu dan yang datang dari cahaya permata surgawi. Maka anak kita, menjelma dari kekuatan keduanya.”
Tatkala sang bayi lahir, Batara Guru datang lagi dari nirwana, menaiki Lembu Andhini. Begitu Lembu Andhini melihat Retna Anjani dan bayinya, Lembu Andhini lari kembali ke nirwana, dan mendobrak Sela Menangkep!
Batara Guru terkejut!
”Wahai Andhini. Engkau kurang ajar! Mengapa tanpa izinku engkau kembali ke nirwana? dan engkau menghancurkan Sela Menangkep!”
Maka terdengarlah sabda Batara Narada :
”Dindaku, Andhini adalah kesempurnaan cinta yang tidak pernah berkata-kata, biarlah aku mewakili Andini. Tahukah engkau? Andhini merasa, bahwa Retna Anjani secepatnya dibawa sebagai penghuni nirwana. Dan Andhini kecewa, dan berontak. Mengapa anak sesuci dan seagung itu harus lahir sebagai kera. Andhini tak mampu membendung kemarahan, dari kenyataan seperti ini, kekaguman yang sangat kepada pribadi sang bayi, dikecewakan oleh wajah kera.”
Batara Guru memahami itu semua, dan menghampiri Retna Anjani.
”Isteriku, penghuni nirwana, termasuk tungganganku Lembu Andhini, merindukan kehadiranmu. Karena penderitaamu sudah pindah pada bayimu. Anakmu akan menanggung semua deritamu dalam pertapaan yang panjang. Engkau usailah! Bangunlah wahai isteriku dari tapamu yang panjang. Dosa-dosamu, karena ambisi memiliki Cupu Manik Hayuningrat. Di bawa oleh anakmu, karena dia mampu menghabiskan dan menghilangkan semua dosa.”
”Wahai isteriku, setiap anak yang lahir membawa dosa orang-tuanya dan mampu membuangnya. Namun, karena anak kebanyakan lahir dari dosa, bagaimana bisa membuangnya? Anakmu lahir dari kesucian hatimu, mampu membawa, membuang dan sekaligus melenyapkan dosa, tanpa bekas.”
”Manusia, sekali berdosa, maka dosa itu akan dibawa oleh mereka yang mencinta. Sekali berdosa, maka akan disebarkan oleh yang kau cinta. Sekali berdosa akan diturunkan kepada anak-cucumu. Maka dosa pun bertambah panjang. Hanya Hayuningrat yang mampu mengakhiri.”
”Anak kita, bayimu Hanoman. Mampu melenyapkan dosa turunan, dosa yang dibawa oleh yang dicintainya. Pangruwating Diyu, tak mampu mengakhiri dosa. Hanya memperkecil dosa. Demikianlah wahai isteriku”, sabda Batara Guru.
”Hanoman, anak kita itu. Berilah nama sesuatu yang agung, hatinya seagung gunung yang bening. Kesucian hatinya melampaui, keagungan gunung yang agung. Berilah nama Giri Suci. Keikhlasannya sebening air Sumala, air keruh yang menjadi sebening air surgawi.”
”Ia memiliki kewibawaan. Wibawa dalam jiwanya mampu mengalahkan kewibawaan samudera. Katakanlah namanya, Jaladri Prawat.”
”Budinya lebih terang dari semua mentari, lebih cemerlang dari semua cahaya cakrawala. Tutur katanya, selembut cahaya yang tak terlihat. Berilah sebuah nama, Surya Sasangka.”
”Rasa juangnya sangat tinggi, tak pernah menyerah kalah, tak mau menyerah, tak mau mengakui akan segala penderitaannya. Penderitaan adalah pengakuan. Anak kita tak pernah mengakui akan rasa kekalahan. Sekali menentukan sikap, seperti angin prahara yang tak mampu dibendung oleh apapun juga. Sebutlah Anita Tanu.”
”Dan apabila saatnya tiba, anak kita harus kembali kepada alam, bergaul dengan penghuni hutan ini. Engkau harus kembali kepada kesempurnaan Hayuningrat, yang sudah menunggu di kahyangan.”

No comments:

Post a Comment

Tanggap wacana :