Monday, October 18, 2010

Misteri Hidupku...

Wahai Alam Semesta…., Jagad Raya…, Bapa Angkasa…., Bumi Pertiwi…., 30 tahun yang lalu, telah dilahirkan jabang bayi, ya... akulah ini...
Wahai Bapak… Wahai Ibu… Apa gerangan yang telah mendasari pertemuanmu, perkenalanmu? Ketertarikan macam apa yang telah mendorong engkau untuk berkomitmen memadu kehidupan? Raga-kah? Rasa-kah? Jiwa-kah? Bagaimana perasaanmu ketika pertama kali tahu, bahwa aku mulai tumbuh di dalam kandungan?
Terkejut? Mungkin…
Kecewa? Mungkin…
Takut, was-was? Mungkin juga…
Bahagia? Bangga? Itu juga mungkin.
Buah yang baik dihasilkan oleh pohon yang baik.

Selama kuterkandung di rahim Ibu, perkara-perkara apa saja yang pernah dipikirkan oleh kedua orang tuaku? Bagaimana dengan impian, harapan, angan mereka? Lebih dari itu semua  – yang lebih riil - perkara baik dan perkara buruk apa yang pernah mereka lakukan? Hmm… pertanyaan-pertanyaan ini sulit terjawab, dan lebih sulit lagi adalah jawaban dari semua pertanyaan itu, atas leluhurku. Melalui merekalah (orang tua, mbah, mbah buyut, mbah canggah, dst… dst…), doa, matra, cita-cita, impian, harapan akan kehidupannya mendatang, telah dilambungkan dan akhirnya mewujud dalam kehidupanku hari ini, saat ini, di sini… Begitu pula, keangkuhan, kesombongan, keangkara-murkaan, sumpah serapah, kutuk, pendek kata dosa-dosa yang telah mereka perbuat-pun mewujud… , mengalir…, merasuk…, menyela…, kehidupanku hari ini, saat ini, di sini…. Bahkan saat pertama kali kuhirup udara segar jagad raya – setelah 9 bulan lebih kubertahan dengan nafas buatan Ibu – pun, dengan sendirinya aku telah berlabelkan ‘dosa’. Belakangan aku tahu, inilah ‘dosa asal’-ku, kuterima dengan cuma-cuma, alias gratis!
Mengapa aku berpikir tentang pikiranku ini?

Belajar dari alam, “Barang siapa menabur maka ia akan menuai….”
Jelaslah, jika hari ini kutaburkan biji pepaya di pekaranganku, 2-3 tahun lagi – jika aku masih hidup – aku akan tuai buah pepaya. Jika aku mati kemudian, siapa yang akan menuai buah pepaya itu? Ahli warisku bukan? Sedangkan pepaya tetaplah pepaya, bukan durian, jambu atau melon. Jika ahli warisku tidak menyukai pepaya, maka mereka harus menebangnya, menanam biji baru, dan merawatnya. Dibutuhkan pikiran, tenaga, waktu…

Hari ini, saat ini, di sini… aku adalah ahli waris leluhurku. Wadhuh… lha dulu leluhurku menanam biji apa? Biji –biji doa, ataukah biji-biji dosa? Sulit untuk mengetahuinya. Tapi sekurang-kurangnya aku bisa sedikit menebak, menerka, dengan aku merasa buah-buah yang kukenyam, kukunyah dalam keseharianku hari ini… saat ini… di sini… Dengan demikian aku bisa sedikit mengerti (baca: teteg – jawa), jika hari ini tiba-tiba ada buah-buah - yang tak pernah kutabur bijinya - yang berjatuhan di pekaranganku, selain buah-buah yang bijinya sengaja kutabur… dulu…
Setidaknya, muncul kesadaran akan penebangan dan penyemaian ulang – meski butuh waktu, menentukan biji-biji yang hendak kutaburkan hari ini.

Orang tuaku memiliki orang tua, mbahku memiliki mbah, leluhurku memiliki leluhur… Haduh… panjang ceritanya, bisa menjadi mata pelajaran sejarah kehidupan. Sedangkan aku adalah salah satu mata rantainya yang ‘kebetulan’ terletak di hari ini, di saat ini, di sini, yang kelak-pun akan menjadi sejarah bagi para anak-cucuku. Wajah mereka – dengan alam semestanya- (baca: dosa asal mereka), tergantung dari apa yang kuukirkan hari ini. Eling lan waspodo bisa menjadi pegangan sembari ku tabur biji-biji… hari ini, di sini, saat ini…

1 comment:

  1. sebuah proses mengenal diri sendiri yang sangat mendalam... lanjutken.

    ReplyDelete

Tanggap wacana :