Sunday, April 19, 2015

SUATU HARI DI PEMAKAMAN

Suatu ketika, saya menghadiri pemakaman seorang dosen, Bp. FX. Supriyono Raharjo atau akrab disapa Pak Pri. Beliau meninggal di usia menjelang pensiun. Saat-saat kritis terjadi di kantornya, sebelum akhirnya meninggal dunia di perjalanan menuju RS Brayat Minulyo.
Saya mengenal beliau sejak kuliah, yang selalu memberi atmosfer yang menyenangkan, mendidik, dan menyemangati saat perkuliahan berlangsung. Hal itu tidak saya rasakan saat kuliah saja, saat saya lulus dan bekerja pun beliau tetap selalu menyemangati para teman untuk terus berkembang dan berinovasi. Di akhir-akhir waktu hidupnya, beliau banyak bergaul dengan saya dan beberapa rekan dalam upaya pembuatan kerangka acuan pendampingan mahasiswa. Bagi saya, beliau telah berhasil menginspirasi beberapa teman sejawat, dan saya merasa sangat berkabung dan kehilangan beliau.
Nah, saya akan membagi perasaan yang muncul ketika menghadiri pemakaman beliau. Pak Pri meninggal bersamaan dengan saat-saat dimana saya menggali lebih dalam lagi kesadaran akan hidup, sehingga prosesi pemakaman beliau pun masuk di kedalaman prosesi refleksi saya. Semua saya perhatikan, mulai dari keluarga duka, para pelayat civitas akademika, alumni, maupun para pelayat yang lain. Mereka tampak kehilangan, sama seperti yang saya rasakan. Homili dalam misa requiem dilambungkan, dan menggambarkan suatu keindahan hidup almarhum. Sambutan-sambutan yang diberikan oleh para tokoh masyarakat mencerminkan kebaikan pribadi almarhum. Pak Pri adalah seorang aktivis dialog lintas agama di kota Solo.
Di kedalaman saya memperhatikan situasi, bergema pertanyaan di hati saya : “Bagaimana situasi yang terjadi jika mayat yang berada di dalam peti jenasah itu adalah mayatku? Kira-kira siapa saja pelayat yang akan hadir? Apa yang akan dikatakan oleh Romo dalam homilinya? Apa yang akan disampaikan dalam sambutan-sambutan?” Lalu, saya menengok di sebelah kiri depan, pada sebuah pohon pepaya yang kurang terawat. Saya memperhatikannya mulai dari pucuk teratas hingga pangkal terbawah. Daunnya ‘mung sak jemprit nggo lalapan we kurang’, tapi memberi pelajaran pada saya bahwa toh pohon pepaya ini pun diberi kesempatan untuk hidup, atau setidaknya pernah hidup.
Imajinasi saya berkembang, berandai jika roh Pak Pri saat itu hadir, lalu rohnya balik melihat dan menyaksikan para pelayat, termasuk saya. Kira-kira, apa ya yang dirasakan Pak Pri? Mungkinkah Pak Pri merasa bangga padaku? Mungkinkah Pak Pri bisa merasa puas karena telah menyelesaikan tugasnya hidup di dunia, memberikan makna dan dapat diselesaikan dengan gemilang? Entahlah... Dan lagi-lagi... saya berandai-andai jika saya berada di dimensi alam dimana Pak Pri berada...

Bahkan saat embahku sendiri meninggal dulu, saya tidak pernah berpikir dan merasa seperti ini, tetapi sejak hari pemakaman Pak Pri hingga hari ini, saya selalu berpikir dan merasa demikian ketika melayat. Hal ini mengingatkan saya bahwa selagi saya masih hidup, saya diberi kesempatan untuk melakukan hal-hal yang bermakna bagi alam semesta termasuk di dalamnya adalah manusia. Lalu, bagaimana caranya, dan apa takarannya bahwa hal itu sudah cukup? Sulit untuk dijawab, sebab hal ini selalu berkembang seiring dengan perkembangan mental, emosional, spiritual, fisik, yang ada pada diri saya. Tapi setidaknya ada yang selalu dilakukan dan diusahakan.

Mendampingi orang muda saya pahami sebagai sebuah langkah strategis. Bukan hanya untuk mahasiswa, tetapi juga para siswa SMA dan Mudika di Soloraya, dan saya lakukan dengan tidak menuntut upah. Di lingkup pekerjaan, saya mengambil peran seperti pepatah Jawa, ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani...

Friday, May 25, 2012

KESEIMBANGAN DUNIA


Bayangkan diri Anda mengapung di sebuah kolam yang sangat besar dan tenang. Setiap gerakan yang Anda ciptakan menghasilkan ombak dan gerakan pada air itu. Secara sederhana, Anda tidak dapat bergerak dengan tidak menciptakan reaksi air akibat gerakan Anda. Ketika Anda bergerak, Anda juga akan terpengaruh oleh arus dan ombak. Anda dan air berada dalam keseimbangan yang saling terkait. Kurang lebih itulah situasi di mana kita berada, bahwa seluruh tindakan kita mengubah atau mengganggu lingkungan kita, dan seluruh perubahan atau gangguan dalam lingkungan kita akan mempengaruhi kita.
Di lingkungan yang sepenuhnya saling terkait ini, satu tindakan akan mengakibatkan beberapa akibat. Contohnya, jika kita menyibakkan tangan ke dalam air, kita tidak menciptakan satu ombak saja namun banyak ombak kecil. Satu tindakan menciptakan banyak ombak. Sehingga kapanpun kita bertindak , dunia juga berreaksi, merespon setara dengan perubahan yang kita berikan padanya. Sebuah tindakan yang besar dan seketika menciptakan suatu perubahan besar dan seketika pula pada dunia. Sebuah tindakan yang lambat namun stabil menimbulkan suatu perubahan yang lambat namun stabil pula. Seluruh perubahan ini cepat atau lambat akan kembali pada kita.
Itu bukan berarti bahwa hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah mengapung tanpa gerak karena takut mengganggu apapun. Hidup di dunia ini selalu membutuhkan tindakan. Oleh karenanya kita harus menjadi bijaksana dalam bertindak sehingga mengurangi atau melenyapkan reaksi-reaksi yang menyebabkan kita sendiri menjadi menderita.
Kita akan menerima kekasaran dari dunia jika segala tindakan kita penuh serangan, permusuhan, dan kekasaran. Maka, berilah perubahan pada dunia secara lembut, nyaman, dan mulus, dan dunia akan merespon kepada kita dengan cara yang sama.

Catatan : Dunia / lingkungan yang dimaksud adalah segala wujud ciptaan, mulai dari benda (padat-cair-gas), tumbuhan, termasuk di dalamnya ; manusia.

Tuesday, August 30, 2011

CAKRA MANGGILINGAN

"Ana" iku ana amarga ana "ora ana". Apik iku ana amarga ana ala. Bungah iku ana amarga ana susah. Guyu iku ana amarga ana tangis. Sugih iku ana amarga ana kere. Bener iku ana amarga ana luput.
Saiki apik sesuk bisa dadi ala. Saiki nemu bungah sesuk nemu susah. Saiki bisa ngguyu sesuk mung mecucu. Saiki diarani sugih sesuk bisa kere. Saiki diarani bener sesuk bisa diarani luput.
Tembung 'sesuk' minangka katrangan saperang wektu anggonku kudu nunggu. Bisa kajangka sejam, sedina, seminggu, sesasi, setahun, sewindu, lan sak teruse. Ya iki cakra manggilingan, rodha kang mubeng, kang nggambarake kahananing urip.
Wengi iki aku nyoba nggatekake sepira suwene rodhaku mubeng, budhal saka ndhuwur banjur bali menyang ndhuwur maneh, utawa suwalikke. Banjur dak temokake yen rodhaku mubeng sak ubengan saben 3 tahun. Telung tahun kapungkur mengisor, banjur dina iki mengisor maneh.
Hmmmh.... kesel... Kepriye carane uwal saka cakra manggilingan iki? Sedhela mendhuwur, sedhela mengisor. Sedhela mukti, sedhela susah. Sedhela waras, sedhela edan!
Yo mung kalamun laku kanthi tuhu, ngrumangsani mawa sidhem premanem, mula aku banjur bisa mangerteni : IYA IKI AKU URIP. Sanalika banjur tuwuh pangarep-arep ing budi : "Ora sepira larane ketindhih kasusahan iki yen sedhela maneh aku weruh yen aku bakal nemu kabungahan". Utawa bisa uga diwalik : "Sepira kepenakke kabungahanku, yen sedhelo maneh aku weruh yen aku bakal nemu susah?"
Coba den priksani cakra manggilingan sira... Temtu saben jalma manungsa nduweni ukuran kang beda...
Berkah Dalem Gusti...

Monday, August 1, 2011

KARMA DAN LOBA

Tiada sebab lain bagi orang yang mendapatkan duka cita, selain dari karma yakni ‘kopa’ (angkara) yang menjadi-jadi yang menimbulkan ‘lobha’ (tamak) dan akhirnya menyebabkan ‘moha’ (kebingungan) yang tak pernah reda. ‘Mona’ (kekayaan) menimbulkan ‘mada’ (kemabukan), mada menimbulkan ‘matsara’ (iri), matsara menimbulkan ‘kujana’ (pikiran jahat), kujana menimbulkan ‘garwita’ (kecerobohan), garwita menimbulkan ‘katungka’ (kebebalan). Bila demikian, tentulah kita menemui bencana karena kebebalan kita sendiri.

Friday, July 8, 2011

SAWUR KEMBANG...

Yen sukma wus pecat raga, apa kang bakal ginawa?
Dudu bandha...
Dudu rupa...
Dudu drajat...
Dudu pangkat...
Dudu uga gumebyaring donya...


Manungsa mono mapane amung sadrema... nora liya amung ngunjal mangsa.
Ngoyak drajat direwangi mentheleng ing mripat...
Ngoyak pangkat direwangi ndilat-ndilat...
Ngoyak bandha direwangi kelangan kanca...
Ngoyak rupa direwangi ngampet waspa...
Jaman pancen wus owah, ukuraning bebrayan manjalma sapa sira sapa ingsun.


Prakanca, padha den eling...


Kang ginawa suk yen wus pecat raga yaiku saprangkat gangsa kang cinipta, kang amung bisa nembang sora tanpa swara...
Donya sing digadhang - gadhang amung bisa nyawur kembang...

Saturday, May 21, 2011

MANUNGGALING KAWULA – GUSTI

Konsep manunggaling kawula – Gusti memberikan pengertian pada beberapa hal menyangkut asal dan tujuan hidup. Manusia harus tahu asal dan tujuan hidupnya. Dalam hal ini, manusia harus bertanya / mencari tahu asal dan tujuan hidupnya. Tujuan hidup manusia tersirat dalam wejangan Dewa Ruci kepada Bima sebagai berikut :

Aywa lunga yen tan wruha,
ingkang pinaran ing purug,
lawan sira aywa nadhah,
yen tan wruha rasanipun,
ywa nganggo-anggo siroku,
yen tan wruh ranning busana,
weruhe atakon tuhu,
bisane tetiron nyata.

Kutipan ini menggambarkan bahwa manusia dilarang hidup jika tidak tahu tujuan hidupnya atau sangkan paraning dumadi. Tujuan hidup dalam kaitan ini adalah “bersatu” (manunggal) dengan Tuhan. Falsafah manunggaling kawula-Gusti juga memberikan pengertian kepada manusia tentang alam semesta. Alam semesta itu sebenarnya harus terangkum dalam hati dan pikiran manusia. Alam semesta merupakan jagad gedhe (dunia besar - kehidupan alam semesta) dan kehidupan manusia ada dalam jagad cilik (dunia kecil – pikiran dan hati manusia). Hal ini tampak secara simbolik ketika Bima harus masuk dalam tubuh Dewa Ruci yang kecil. Dewa Ruci mengatakan sebagai berikut :

Kaki gedhe endi sira,
lan jagad saisinipun,
tan sesak lamun lumebu,
marang ing jro garbaningwang.

Sebelum mencapai tataran manunggaling kawula-Gusti, dan ketika manusia mulai menyadari keberadaannya, ia akan menemukan keterbatasannya sebagai manusia, sehingga menjadi bingung. Hal itu tampak secara simbolis pada saat awal setelah Bima memasuki perut Dewa Ruci. Bima mendapat keadaan awang-uwung, seperti berikut :

Heh, apa katon ing sira,
umatur tebih kalangkung,
datan wonten ing kadulu,
uwung – uwung awang – awang,
ing saparan-paran ulun,
datan mulat kilen wetan,
kidul elor ngandhap luhur,
ing pungkur tanafi ngarsa,
dasihe kalangkung bingung.
Dalam sastra cetha dijelaskan bahwa agar manusia dapat menerima anugerah Tuhan, harus menguasai perihal ilmu gaib. Ilmu gaib itu diterangkan dengan istilah penguasaan : (1) Panca Purwanda, yaitu lima hal yang terkait dengan watak manusia berupa watak matahari, bumi, angin, laut, dan langit, yang menjadi anasir manusia, (2) Panca Dumadya, yaitu babaring tigan, lepasing sastra langit, tumenggung punglu, lepasing pedang, rembesing warih, yang berbentuk panca indera, (3) Panca Pranata, yaitu mandheg, angker, sumumu, sumulap, dan mamarap, pertanda jika manusia diterima oleh Tuhan. Hal yang tersirat adalah, bahwa agar manusia dapat bersatu dengan Tuhan, ia harus tahu asal-usulnya. Falsafah jumbuhing kawula-Gusti akan tercapai jika berbekalkan ngelmu rasa. Ilmu rasa memuat tiga kerelaan yang harus dimiliki oleh seseorang, yaitu : rela terhadap takdir suci, rela terhadap doa dalam hening, rela terhadap anasir. Maksudnya dalam hidup seseorang hendaknya ikhlas terhadap takdir dari awal sampai akhir dalam permohonannya. Dalam doa, hendaknya betul-betul hening agar hatinya menyatu dengan Tuhan atau jumbuhing kawula-Gusti. Sedangkan rela terhadap anasir adalah percaya pada asal-usul kehidupan.
Di samping itu, untuk mencapai manunggaling kawula-Gusti, hendaknya manusia menguasai tiga nafsu, yakni hitam – aluamah - keserakahan, merah – amarah - kemarahan, dan kuning – supiyah - keindahan. Jika ketiga nafsu ini terkendalikan, ia akan mendapatkan nafsu putih – mutmainah - kesucian, dan akan sampai pada pamore kawula-Gusti. Persekutuan kawula-Gusti juga dapat dilakukan dengan bermatiraga.
Manusia dapat bersatu dengan Tuhan karena asal dan hakikat manusia sama dengan Tuhan. Setelah manusia dapat bersatu dengan Tuhan ia menjadi sama dengan Tuhan. Hakikat Tuhan adalah dzat, sipat, asma dan apengal, sedangkan manusia itu wujud, ngelmu, nur dan suhud – pada kenyataannya menyatu (amor) tiada berbeda.
Seperti halnya filsafat curiga manjing warangka, warangka manjing curiga, bukanlah persatuan manusia dengan Tuhan sehingga manusia sama dengan Tuhan, tetapi sebuah perumpamaan atas jiwa dan raga. Perlu saya sampaikan agar tidak mengundang kontroversi, bahwa pemahaman mengenai manunggaling kawula-Gusti hanya dapat benar-benar sampai dan mendalam, jika kita melakukan dan merasakannya sendiri, dan tidak hanya sekedar membaca artikel saja. Monggo…

Friday, May 20, 2011

PSIKOBUDAYA ANAK-ANAK JAWA

Menarik jika kita mau memperhatikan perkembangan anak-anak kita, terlebih perkembangan mental mereka. Kita dapat melihat luasnya dunia di sekitar kita hanya dengan bercermin dari anak kita. Seorang anak dapat dengan mudah menyerap informasi yang mereka peroleh dari lingkungan sekitar. Jika kita mau berrefleksi, melihat diri kita sendiri, ya… lihatlah anak kita… dan, kita mungkin akan terkejut atau tertawa lucu… ha… ha…
Stimulasi dari luar diri anak, lazimnya paling kuat mempengaruhi kondisi jiwanya. Pada masyarakat Jawa primitif / pedalaman, belajar budaya dilakukan secara lisan / oral, yang disemaikan lewat permainan tradisional. Hal ini justru mudah dikuasai oleh anak-anak Jawa. Barangkali kita masih ingat dan pernah melakukannya saat kita kecil ; seperti dolanan jamuran, ilir-ilir, gobag sodor, engklek, benthik, dan sebagainya. Konteks tradisi yang mewarnai kehidupan anak Jawa dalam permainan adalah penggunaan hompimpah ataupun pingsut. Keduanya merupakan sarana untuk mengundi siapa yang harus melakukan terlebih dahulu dalam sebuah permainan. Hompimpah dan pingsut adalah semaian aspek demokratis pada diri anak Jawa. Biarpun di antara mereka ada yang merasa paling kuat, tetapi ia tak selalu terlebih dahulu melakukan permainan. Semua ditentukan dengan sistem “undian”.
Anak-anak juga belajar plorotan, penekan, dhelikan, gacaran, dan sebagainya. Seluruh aktivitas yang bernuansa permainan tersebut pada dasarnya akan memperkuat kognisi, konasi, afeksi, dan psikomotornya. Perkembangan kognisi selalu disertai konasi dan afeksi, yakni upaya ingin tahu dalam berbagai hal. Rasa ingin tahu itu sedikit demi sedikit merambat ke berbagai hal yang sifatnya wadi (rahasia). Dalam kaitannya dengan hal ini, anak-anak Jawa sering dibenturkan pada konsep ‘ora ilok’, yang melarang mereka bersikap dan berbuat. Dengan demikian, anak akan tahu mana yang baik dan yang benar.
Yang tak kalah menarik dalam perkembangan anak-anak Jawa adalah penguasaan bahasa-bahasa kasar. Bahasa-bahasa pisuhan dan jorok biasanya lebih mudah merasuk dalam ingatan mereka. Misalnya saja as*, asem, baji**an, entut berut, dan sebagainya. Uniknya, meskipun mereka mengenal kata-kata kasar, namun tetap konstektual penggunaannya. Tentunya, peran orang tua untuk mendudukkan persoalan dengan trep (tepat) sangat diharapkan.
Fantasi anak juga berkembang melalui dongeng-dongeng lokal. Dongeng yang dilantunkan orang tua menjelang tidur akan merangsang jiwa anak untuk bertumbuh. Dongeng Kancil Nyolong Timun, Kancil Karo Baya, Kancil Karo Keyong, rupanya tetap menjadi idola anak-anak Jawa. Melalui dongeng tersebut, kejiwaan anak-anak semakin terpupuk dan terbangun untuk “menjadi”.
Marilah kita sebagai orang tua, atau orang yang dituakan oleh generasi penerus kita, senantiasa menjaga solah bawa, dan laku celathu kita. Sebab, generasi penerus sedang meng-copy kita dalam proses formasi jiwa mereka…

Memaknai kata "LEBAY"...

Akhir-akhir ini, saya sering mendengar kata “LEBAY”. Entah dari mana dan sejak kapan kata ini muncul, yang jelas kata ini sering dipakai oleh orang-orang muda. Belakangan, orang-orang tua pun ikut-ikutan memakainya. Selidik punya selidik, kata lebay digunakan untuk menyindir orang yang bersikap berlebihan. Kemudian saya mencoba melihat relitas hidup sehari-hari, memahaminya dengan lebih membumi… Mencari contoh soal implementasi kata ‘lebay’. Dan... Ooops...! Ternyata kadang-kadang kita ini lebay bener ! Sebagai contoh misalnya dalam kehidupan bekerja. Kita telah dengan lebay-nya mempertahankan isi otak kita, hingga kadang tidak ada yang wani ngalah…, padahal dengan wani ngalah akan menetralisir ke-lebay-an kita.
Wani ngalah berbeda dengan kalah. Wani ngalah berusaha menyenangkan pihak lain. Orang yang suka mengalah biasanya selalu menjaga perasaan orang lain agar tidak tersinggung. Pribadi yang baik adalah pribadi yang tidak malu untuk wani ngalah (berani mengalah).
Prinsip orang yang wani ngalah adalah : “menang ora kondhang, kalah wirang”. Bahkan orang Jawa memahami bahwa orang yang padudon (bertengkar mulut) itu ibarat perang. Dalam perang, berlaku prinsip “sing menang dadi pindhang, sing kalah dadi rempah”. Kedua-duanya pasti merugi, tak ada untung.
Untuk bisa wani ngalah, seseorang harus bisa menyingkirkan egoismenya. Bagi yang terlampau peduli pada gengsi (bahasa populernya : jaim alias jaga image), sikap wani ngalah tentu saja sangat berat untuk dilakukan. Demi harga dirinya, lebih baik kalah wang daripada kalah wong, lalu berusaha tampil garang, walaupun sebenarnya garing. Maka muncul kelakar dalam bahasa Jawa gaul, “halah... lebay…! biasa wae lah, ora usah digawe-gawe… ha... ha...”.

Thursday, May 19, 2011

TEKUN, TEKEN, TEKAN....

Tekun mempunyai pengertian, mengerjakan sesuatu dengan rajin, ulet, dan tidak mudah putus asa atau putus di tengah jalan. Orang yang tekun tidak goyah oleh godaan dan kritikan orang lain yang tidak mendukungnya. Ketekunan terhadap suatu pekerjaan membuat orang bahagia dalam bekerja. Orang lain yang memperhatikan pun akan ikut senang. Dari sini, lama – kelamaan mengundang rasa hormat. Bila perlu banyak orang yang sanggup membiayai pekerjaan yang ditekuni itu. Kepercayaan pada profesi seseorang dapat diperoleh dengan jalan tekun. Tak jarang orang yang tekun akan lebih sukses dibanding dengan orang cerdas tapi malas.
Teken, secara harafiah bermakna tongkat yang digunakan sebagai penegak orang ketika berjalan. Biasanya, teken dipakai oleh orang yang sudah lanjut usia. Dalam konteks piwulang dan pasemon atau ajaran moral simbolik, kata teken berarti pedoman, petunjuk, dan tuntunan hidup. Dapat juga berarti sebagi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Orang yang mendapat teken adalah orang yang mendapat alat demi mencapai cita-cita hidupnya.
Agar mendapat teken, seseorang harus tekun. Dengan begitu, teken berarti buah dari ketekunan. Bagaimanapun juga, ketekunan yang telah melekat pada diri seseorang lama-kelamaan akan diakui oleh khalayak. Teken atau ‘fasilitas’ itu akan didukung oleh publik.
Tekan berarti kesampaian. Teken, tekun, dan tekan merupakan deretan kata berjenjang. Barang siapa mau tekun, maka ia akan mendapat teken, dan ia akan segera tekan atau kesampaian pada apa yang menjadi harapannya. Proses panjang yang harus dilalui agar seseorang sampai pada tekan, kadang diiringi oleh duri, derita, duka, dan nestapa. Dari laku tekun saja, membutuhkan waktu yang tidak pendek. Mendapat teken, bukan berarti halangan dan cobaan telah usai. Teken yang didapat itu harus digunakan dengan sebaik-baiknya agar sampai, tanpa meleset. Setelah proses demi proses dijalani, barulah tekan atau berhasil….

Tuesday, May 17, 2011

MIKUL DHUWUR, MENDHEM JERO

Mikul dhuwur, artinya memikul tinggi-tinggi. Arti etimologisnya adalah, bahwa seorang anak berkewajiban mengharumkan nama ayah dan ibu serta martabat keluarganya. Menghindari perbuatan tercela dan selalu berbuat mulia adalah usaha anak dalam rangka mikul dhuwur nama baik orang tuanya. Menjadi pelajar yang pintar atau mahasiswa yang cerdas, menghias diri dengan sopan santun dan ramah tamah, berprestasi dan sukses adalah wujud dari perilaku yang menyenangkan hati orang tua.
Mendhem tidak sama dengan mendem/mabuk, seperti mendem kecubung atau alkohol, tetapi mendhem berarti mengubur. Jero artinya dalam. Mendhem jero maknanya mengubur dalam-dalam keburukan dan kelemahan orang tua, serta aib keluarga. Sedapat-dapatnya, anak harus menutupi apa yang menjadi rahasia keluarga.
Dalam lingkup yang lebih luas, seorang pemimpin yang sedang memerintah sebaiknya dapat menyembunyikan kekurangan pemimpin terdahulu. Dengan demikian tidak terjadi saling dendam. Menjelek-jelekkan pemimpin pendahulu sama saja dengan melestarikan dendam dan permusuhan. Prinsip mendhem jero sangat mulia bila diterapkan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bernegara. Potret buram dan kenangan buruk akan segera terhapus dan dapat menimbulkan rasa optimisme baru.